Waspada Gelombang Tinggi, BPBD Imbau Warga Kurangi Aktivitas Laut

- BPBD dan Polres Pelabuhan siaga 24 jam
- Warga diminta kurangi aktivitas laut
- BMKG sebut gelombang tinggi dominan di perairan barat Sulsel
Makassar, IDN Times - Musim angin barat di wilayah Makassar memasuki fase risiko tinggi. Kondisi ini ditandai dengan hembusan angin kencang, gelombang laut setinggi hingga tiga meter, serta intensitas hujan yang meningkat di kawasan pulau dan pesisir.
Cuaca ekstrem tersebut meningkatkan potensi gangguan keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat pesisir, terutama nelayan dan warga pulau yang bergantung pada transportasi laut. Gelombang tinggi dan angin kencang berisiko menyebabkan kapal terombang-ambing, kerusakan mesin, hingga kecelakaan laut.
Wilayah perairan Makassar menjadi salah satu titik paling rawan saat musim angin barat berlangsung. Kepala BPBD Kota Makassar Fadli Tahar menggambarkan kondisi ini dengan meningkatnya risiko akibat angin kencang, gelombang tinggi, dan cuaca yang sulit diprediksi di laut.
"Wilayah pulau dan pesisir memiliki kerentanan tinggi saat musim angin barat. Karena itu, negara harus hadir lebih awal," kata Fadli, Kamis (15/1/2026).
1. BPBD dan Polres Pelabuhan siaga 24 jam

BPBD Makassar bersama Polres Pelabuhan Makassar meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiagakan personel dan peralatan selama 24 jam. Patroli laut diperkuat, posko siaga diaktifkan, serta pemantauan wilayah rawan terus diperketat.
"Kolaborasi BPBD dan Polres Pelabuhan ini memastikan kesiapsiagaan personel, peralatan, dan respons cepat demi keselamatan masyarakat," kata Fadli.
Fokus penanganan bencana saat ini diarahkan pada kecepatan respons dan perlindungan keselamatan warga. Fadli menekankan kesiapsiagaan personel dan peralatan agar setiap kondisi darurat dapat tertangani dalam waktu singkat.
"Jadi fokus kami sekarang adalah yang pertama respons cepat. Yang kedua keselamatan warga. Yang ketiga adalah minimalisir dampak jika terjadi bencana," katanya.
2. Warga diminta kurangi aktivitas laut

Imbauan juga disampaikan kepada masyarakat untuk menahan aktivitas laut yang tidak bersifat mendesak selama cuaca ekstrem berlangsung. Upaya tersebut dimaksudkan untuk mengurangi risiko kecelakaan di tengah angin kencang dan gelombang tinggi yang mengancam keselamatan pelayaran.
"Masyarakat juga harus terus waspada, yang pertama adalah harus dikurangi perjalanan laut, perjalanan wisata-wisata laut, atau segala hobi seperti pergi mancing di laut, itu kalau bisa di perjalanan laut dikurangi, atau kalau tidak terlalu penting betul, ditunda dulu," kata Fadli.
Kalau pun tidak dapat ditunda, masyarakat diminta memastikan seluruh peralatan dan kondisi kapal dalam keadaan layak sebelum berangkat. Kerusakan mesin di tengah laut, terutama saat gelombang mencapai ketinggian 3 meter, berisiko membuat kapal oleng dan mengancam keselamatan jiwa.
Masyarakat pesisir dan nelayan diingatkan untuk memeriksa kondisi kapal secara menyeluruh sebelum berlayar. Kelengkapan alat keselamatan, seperti pelampung, menjadi perlindungan penting saat menghadapi cuaca laut yang tidak menentu.
"Setiap turun ke laut, mereka harus lengkap dengan alat-alat keselamatan, seperti life jacket, itu standar umum, setiap sistem penyebrangan itu, kendaraan laut itu wajib menggunakan life jacket, untuk mengelakkan kecelakaan-kecelakaan di laut," katanya.
3. BMKG sebut gelombang tinggi dominan di perairan barat Sulsel

Sementara itu, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Bagus Primohadi menggambarkan kondisi laut di Sulawesi Selatan bergerak seiring dengan pola cuaca musiman. Perubahan arah dan kekuatan angin saat musim hujan turut memengaruhi tinggi gelombang, terutama di wilayah perairan barat.
"Untuk kondisi laut sebenarnya itu koheren atau sejalan dengan potensi atau kejadian hujan di atasnya atau cuaca di atasnya. Jadi secara musiman memang ketika mulai masuk ke musim hujan itu kondisi laut di Sulawesi Selatan, khususnya yang di bagian barat atau meliputi wilayah Selat Makassar," kata Bagus saat diwawancarai IDN Times, Rabu (14/1/2026).
Bagus merinci, perairan barat Sulawesi Selatan seperti Pinrang, Parepare, dan Barru berada dalam kondisi yang cukup berisiko karena cukup tinggi gelombangnya. Sebaliknya, kondisi di wilayah perairan timur seperti Bone dan Selayar relatif lebih aman.
"Nanti kondisinya berbalik ketika mulai masuk musim kemarau, anginnya kan dominan dari arah timur, dari Australia. Jadi anginnya cukup tinggi di bagian timur nantinya," katanya.


















