Makassar, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan meluncurkan hasil Riset Aksi Partisipatif Berperspektif Feminis (Feminist Participatory Action Research/FPAR). Hasil riset ini menyoroti ancaman rencana reklamasi di pesisir Untia, Kota Makassar, terhadap ruang hidup nelayan tradisional dan perempuan pesisir.
Laporan tersebut bertajuk Perlindungan Ruang Hidup Kawasan Pesisir Utara Makassar: Laporan Riset Feminist Participatory Action Research (FPAR) atas Kondisi Infrastruktur Dasar dan Ancaman Reklamasi bagi Kehidupan Nelayan dan Perempuan Pesisir Untia. Pelunciran laporan ini digelar di Kelurahan Untia, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan itu dihadiri nelayan, perempuan pesisir, tokoh masyarakat, mahasiswa, serta aparat Kelurahan Untia. Hadir pula perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan.
Fadila Abdullah yang mewakili tim riset menjelaskan penelitian ini disusun secara partisipatif bersama warga Untia dengan pendekatan feminis untuk mengkaji dampak pembangunan terhadap perempuan dan kelompok rentan. Dia mengatakan pengalaman reklamasi sebelumnya di Makassar menjadi dasar kekhawatiran masyarakat terhadap proyek reklamasi di pesisir utara kota.
"Ketika mega proyek CPI mulai menimbun laut pada tahun 2014, wilayah tangkap nelayan tradisional seketika berubah menjadi daratan beton. Alat tangkap seperti jaring dan rumpon tertimbun. Dampaknya tidak berhenti disitu, pembangunan MNP memperluas skala kehancuran ekologis ini ke utara kota," katanya.
