Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tawuran di Ablam Makassar Kembali Pecah, Satu Warga Tewas
Aparat kepolisian membubarkan tawuran di Jl Abu Bakar Lambogo (Ablam) Makassar, Jumat (16/10/2026). Dok. Istimewa
  • Tawuran antara kelompok Jorjoran dan Lonner kembali pecah di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar, pada Jumat pagi.

  • Mansyur meninggal setelah terpeleset dan kepalanya terbentur, bukan karena terlibat langsung dalam tawuran.

  • Polisi menyiagakan personel dan meminta dukungan pemerintah serta masyarakat untuk mencegah bentrokan susulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
kemarin

Terjadi kejadian sebelumnya yang membuat kelompok terkait belum puas. Provokasi kemudian memicu tawuran kembali.

Jumat (16/10/2026)

Tawuran antara kelompok Jorjoran dan Lonner kembali pecah di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar. Bentrokan terjadi sekitar pukul 06.30 Wita.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tawuran antara kelompok Jorjoran dan Lonner kembali pecah. Seorang warga bernama Paman alias Mansyur meninggal setelah terjatuh di lokasi.
  • Who?
    Kelompok Jorjoran dan Lonner, Mansyur, serta personel Brimob, Direktorat Samapta Polda Sulsel, Polrestabes Makassar, dan Polsek setempat.
  • Where?
    Jalan Abu Bakar Lambogo (Ablam), Kota Makassar.
  • When?
    Jumat (16/10/2026) pagi sekitar pukul 06.30 Wita.
  • Why?
    Tawuran dipicu dendam lama yang belum terselesaikan dan provokasi setelah kejadian sebelumnya.
  • How?
    Bentrokan kembali terjadi meski personel masih siaga. Mansyur diduga terpeleset karena tidak melihat got, lalu kepalanya terbentur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tawuran antara kelompok Jorjoran dan Lonner terjadi lagi di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar. Mansyur, seorang warga, datang untuk mengingatkan orang-orang agar berhenti tawuran. Ia lalu terpeleset, kepalanya terbentur, dan meninggal. Polisi menjaga tempat itu dan meminta masyarakat membantu supaya tawuran tidak terjadi lagi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mansyur disebut keluar untuk mengimbau warga agar tidak melakukan tawuran. Polisi juga menurunkan personel untuk menghalau kedua kelompok dan meminta dukungan RT, RW, lurah, camat, serta tokoh masyarakat. Keterlibatan berbagai unsur ini menunjukkan adanya upaya bersama untuk meredam konflik dan mencegah bentrokan susulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Aksi tawuran kelompok warga antara "Jorjoran Vs Lonner" kembali terjadi di Jalan Abu Bakar Lambogo (Ablam) Kota Makassar. Dalam insiden ini, seorang warga bernama Paman alias Mansyur (45) dilaporkan tewas.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan tawuran antara dua kelompok dipicu dendam lama yang belum terselesaikan. Bentrokan kembali pecah pada Jumat (16/10/2026) pagi sekitar pukul 06.30 Wita.

"Pemicu sebenarnya dari dendam-dendam lama. Ada kejadian kemarin, karena mereka belum puas sehingga ada lagi yang memprovokasi, kemudian terjadi lagi," kata Arya kepada wartawan.

1. Polisi sebut korban tewas bukan karena tawuran

Korban meninggal dunia di tengah tawuran di Ablam Makassar, Jumat (16/10/2026). Dok. Istimewa

Arya juga membenarkan informasi adanya korban jiwa, namun ia menegaskan bahwa penyebab tewasnya salah seorang warga bernama Mansyur, bukan akibat terlibat tawuran.

"Almarhum sempat keluar untuk memberikan imbauan kepada orang-orang supaya tidak melakukan tawuran. Ini sangat mulia sekali," kata Arya.

Namun, korban diduga terpeleset setelah tidak melihat keberadaan got di depannya hingga kepalanya terbentur dan mengalami pendarahan dan meninggal dunia.

"Memang ada got di depan beliau yang tidak terlihat dan beliau terpeleset jatuh. Kepalanya terkena benturan sehingga berdarah dan akhirnya meninggal dunia," jelasnya.

Arya menuturkan, berdasarkan konfirmasi yang dilakukan kepada keluarga korban, Mansyur tidak meninggal karena terlibat langsung dalam tawuran, melainkan akibat terjatuh saat berada di lokasi.

"Tapi pada intinya, bukan meninggal karena tawuran ya, tapi beliau ada di situ dan terpeleset jatuh, sudah dikonfirmasi juga kepada keluarganya," ujarnya.

2. Siagakan personel di sekitar TKP

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana saat jumpa pers terkait remaja Kandea tewas ditembak saat polisi datang bubarkan tawuran, Minggu (27/9/2026. IDN Times/Darsil Yahya

Untuk mengantisipasi bentrokan susulan, Arya mengaku telah menurunkan personel yang berasal dari Satuan Brimob, Direktorat Samapta Polda Sulsel, dan Polrestabes Makassar, termasuk jajaran Polsek setempat untuk menghalau kedua kelompok agar tidak kembali saling menyerang.

"Sebenarnya anggota memang masih standby di sana tetapi memang ada pihak-pihak yang memprovokasi tawuran untuk terjadi lagi ya, sehingga ini terjadi tadi pagi jam setengah tujuh," kata Arya.

Ia juga meminta keterlibatan pemerintah setempat, mulai dari RT/RW, lurah, camat, hingga tokoh masyarakat, untuk membantu meredam konflik antarkelompok warga tersebut.

"Polisi sebenarnya tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bersama-sama dengan masyarakat untuk menindaklanjuti hal-hal yang sifatnya negatif seperti itu," ujarnya.

3. Polisi butuh dukungan masyarakat untuk cegah tawuran

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, Kamis (8/10/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Menurut Arya, upaya pencegahan akan sulit dilakukan apabila hanya mengandalkan kepolisian tanpa dukungan masyarakat. Terlebih, pihak-pihak yang terlibat dalam tawuran berasal dari lingkungan sekitar.

Peristiwa ini kembali menjadi perhatian karena konflik antara kelompok Jorjoran dan Lonner terus berulang. Polisi pun mengharapkan peran aktif seluruh elemen masyarakat untuk mencegah bentrokan susulan dan mengakhiri konflik yang telah berlangsung akibat dendam lama tersebut.

"Kalau polisi hanya bekerja sendiri, masyarakat tidak ikut membantu, tidak ikut mensupport, ini akan semakin sulit. Karena kan memang yang melakukan tawuran juga berasal dari kelompok masyarakat di sekitar. Sehingga tokoh masyarakat, RT, RW, lurah, ini harus sama-sama bekerja sama dengan polis untuk meredam tawuran," tandasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article