Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tarif Baru Trump Ancam Ekspor Sulsel ke AS
Ilustrasi Ekspor (Dok. IDN Times)

Makassar, IDN Times - Kebijakan baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pemberlakuan Reciprocal Tariffs atau tarif resiprokal terhadap produk impor mengancam kinerja ekspor Sulawesi Selatan ke negara itu. Indonesia termasuk dalam daftar negara yang terkena tarif tinggi, yakni sebesar 32 persen.

Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Ahmadi Akil, mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut bisa berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah. Menurutnya, akan percuma jika bahan baku ada namun produk tidak diekspor. 

"Tentu akan sangat berpengaruh. Ekspor kita ke Amerika akan seret. Bahan baku kita ada, tapi percuma jika tidak keluar (ekspor) karena adanya penurunan demand," kata Ahmadi, Sabtu (5/4/2025).

1. Trump tetapkan tarif impor minimum 10 persen untuk semua produk asing

Trump menunjukkan rincian tarif timbal balik AS. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Presiden Trump menetapkan tarif impor minimum sebesar 10 persen untuk semua produk asing.  Pernyataan itu disampaikannya pada 2 April lalu di Rose Garden, Gedung Putih, Amerika Serikat. 

Selain itu, beberapa negara dikenai tarif yang jauh lebih tinggi secara timbal balik. Indonesia termasuk salah satunya bersama Cina (36 persen), India (26 persen), dan Vietnam (46 persen).

Selain itu, ada Kamboja (49 persen), Korea Selatan (25 persen), Jepang (24 persen), Taiwan (32 persen), Thailand (36 persen), Malaysia (24 persen), Bangladesh (37 persen), Pakistan (29 persen), Sri Lanka (44 persen), Filipina (17 persen), dan Singapura (10 persen). 

2. Tren ekspor positif, tapi terancam

ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Data Dinas Perdagangan Sulsel menunjukkan bahwa volume ekspor provinsi ini ke AS meningkat dari 929,13 ton pada 2024 menjadi 1.031,94 ton pada 2025. Nilai ekspornya pun naik dari USD 8,12 juta menjadi USD 9,21 juta.

Komoditas dengan lonjakan tertinggi adalah agar-agar, yang mengalami peningkatan volume ekspor dari hanya 20 ton pada 2024 menjadi 115 ton pada 2025. Nilai ekspornya melonjak lebih dari lima kali lipat, dari USD 234 ribu menjadi USD 1,23 juta. 

Sementara itu, biji kopi yang tidak tercatat diekspor ke AS pada 2024, tiba-tiba melonjak tajam di 2025 dengan volume mencapai 115,20 ton dan nilai ekspor sebesar USD 778 ribu. Komoditas lainnya yang mengalami pertumbuhan mencolok adalah ikan segar, yang meningkat dari 37,85 ton menjadi 133,70 ton, dengan nilai naik drastis dari USD 243 ribu menjadi USD 1,29 juta. 

Meski secara keseluruhan ekspor Sulsel ke AS mengalami peningkatan pada 2025, sejumlah komoditas strategis justru mencatatkan penurunan signifikan, baik dari sisi volume maupun nilai ekspor. Salah satunya adalah mete kupas, yang pada 2024 menjadi komoditas andalan dengan volume ekspor mencapai 271,16 ton senilai USD 1,34 juta namun anjlok tajam menjadi hanya 67,59 ton dengan nilai USD 455 ribu pada 2025. 

Penurunan juga terlihat pada carragenan, bahan baku industri makanan dan farmasi, yang turun dari 58,14 ton (USD 648 ribu) menjadi 45 ton (USD 267 ribu). Hal serupa terjadi pada daging kepiting, yang volume ekspornya menurun dari 89,13 ton menjadi 75,57 ton, dengan nilai devisa turun dari USD 2,30 juta menjadi USD 1,74 juta. 

3. Pemerintah dan pengusaha perlu cari pasar alternatif

Ilustrasi Ekspor. (IDN Times/Aditya Pratama)

Pakar Ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Prof. Marzuki DEA, menilai bahwa tarif baru ini akan memukul tren ekspor unggulan Indonesia, khususnya dari Sulsel. Menurutnya, komoditas strategis untuk kegiatan ekspor akan terpengaruh. 

"Jelas kebijakan Trump tersebut akan memukul tren perkembangan ekspor komoditas unggulan Indonesia, dan Sulsel khususnya. Apalagi komoditas tersebut merupakan komoditas strategis untuk kegiatan ekspor selama ini," jelasnya. 

Dia menyebut nilai devisa dari komoditas-komoditas tersebut akan menurun. Hal ini akan mengurangi peran ekspor dalam pembentukan PDB/PDRB.

"Nilai pertumbuhan ekonomi akan terkontraksi walaupun mungkin relatif kecil," katanya. 

Prof. Marzuki menekankan pentingnya pemerintah dan pengusaha mencari pasar alternatif untuk ekspor. Dia menyarankan membuka peluang ekspor ke negara lain sebagai destinasi potensial.

"Pemerintah dan pengusaha perlu mencari solusi untuk mencari peluang ekspor ke negara lain yang potensial, di Afrika, Amerika Latin, maupun di Asia, dan negara-negara Timur Tengah," katanya.

Editorial Team

Related Article