ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)
Data Dinas Perdagangan Sulsel menunjukkan bahwa volume ekspor provinsi ini ke AS meningkat dari 929,13 ton pada 2024 menjadi 1.031,94 ton pada 2025. Nilai ekspornya pun naik dari USD 8,12 juta menjadi USD 9,21 juta.
Komoditas dengan lonjakan tertinggi adalah agar-agar, yang mengalami peningkatan volume ekspor dari hanya 20 ton pada 2024 menjadi 115 ton pada 2025. Nilai ekspornya melonjak lebih dari lima kali lipat, dari USD 234 ribu menjadi USD 1,23 juta.
Sementara itu, biji kopi yang tidak tercatat diekspor ke AS pada 2024, tiba-tiba melonjak tajam di 2025 dengan volume mencapai 115,20 ton dan nilai ekspor sebesar USD 778 ribu. Komoditas lainnya yang mengalami pertumbuhan mencolok adalah ikan segar, yang meningkat dari 37,85 ton menjadi 133,70 ton, dengan nilai naik drastis dari USD 243 ribu menjadi USD 1,29 juta.
Meski secara keseluruhan ekspor Sulsel ke AS mengalami peningkatan pada 2025, sejumlah komoditas strategis justru mencatatkan penurunan signifikan, baik dari sisi volume maupun nilai ekspor. Salah satunya adalah mete kupas, yang pada 2024 menjadi komoditas andalan dengan volume ekspor mencapai 271,16 ton senilai USD 1,34 juta namun anjlok tajam menjadi hanya 67,59 ton dengan nilai USD 455 ribu pada 2025.
Penurunan juga terlihat pada carragenan, bahan baku industri makanan dan farmasi, yang turun dari 58,14 ton (USD 648 ribu) menjadi 45 ton (USD 267 ribu). Hal serupa terjadi pada daging kepiting, yang volume ekspornya menurun dari 89,13 ton menjadi 75,57 ton, dengan nilai devisa turun dari USD 2,30 juta menjadi USD 1,74 juta.