Kagum Epos Odyssey? Yuk Kenali Sinrilik, Seni Bertutur Khas Makassar

- Sinrilik adalah seni tutur khas Bugis-Makassar yang dibawakan oleh pasinrilik dengan iringan alat musik kesok-kesok, mirip tradisi lisan epos Yunani kuno seperti Odyssey.
- Seni Sinrilik terbagi dua jenis: pakesok-kesok yang menonjolkan kisah kepahlawanan penuh semangat, dan bosi timurung yang menyampaikan cerita sedih atau romantis dengan nada lembut tanpa musik.
- Meski menghadapi arus budaya pop, Sinrilik tetap lestari karena sering tampil di festival kebudayaan dan literasi, menarik minat generasi muda untuk mengenal warisan budaya Makassar.
Makassar, IDN Times – Demam film adaptasi epos Yunani kuno, 'Odyssey' yang sedang tayang di bioskop kembali membuka matatentang betapa tingginya nilai sebuah tradisi lisan. Tahukah kamu bahwa jauh sebelum dibukukan, Odyssey karya Homer dituturkan secara lisan lewat nyanyian puitis?
Sama halnya dengan Odyssey, masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan juga memiliki tradisi tutur serupa yang bernama Sinrilik. Saking bernilainya, kesenian Sinrilik resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013 dengan nomor registrasi 201300054.
1. Sama seperti epos Odyssey, Sinrilik adalah seni menuturkan kisah dengan bernyanyi

Sama dengan kisah petualangan Odysseus yang dilantunkan secara berirama oleh para perawi Yunani Kuno, sinrilik adalah seni tutur yang dibawakan oleh seorang juru cerita yang disebut 'pasinrilik.' Para penutur Sinrilik ini kerap datang dalam upacara adat, perayaan komunal seperti pesta panen atau peresmian rumah baru, dan kini di festival kebudayaan.
Sambil menuturkan bait-bait cerita yang puitis dan melodius, pasinrilik akan mengiringinya dengan lantunan instrumen musik gesek khas Makassar bernama kesok-kesok. Perpaduan gaya vokal yang meliuk tegas bersama gesekan kesok-kesok menciptakan suasana magis dan bisa membuat penonton larut dalam suasana.
2. Terbagi menjadi dua kategori, yakni cerita kepahlawanan dan kisah kesedihan

Jika epos Odyssey sarat akan drama perjuangan dan romantisme, Sinrilik justru terbagi menjadi dua. Menurut buku Sastra Lisan Makassar (Yayasan Obor Indonesia, 1993), terdapat dua kategori utama sinrilik berdasarkan isi cerita dan suasana pembawaannya.
Pertama adalah sinrilik pakesok-kesok yang berisi cerita kepahlawanan, tanggung jawab yang tinggi, serta cinta kasih kepada sesama manusia. Pembawaannya jauh lebih tegas, bersemangat, dan bisa membakar jiwa pendengarnya.
Kedua yakni sinrilik bosi timurung, yang berarti "hujan turun" atau suasana haru. Jenis sinrilik ini menyampaikan kisah-kisah emosional, romansa, kesedihan, hingga keluh kesah kehidupan. Karakter nadanya cenderung lembut dan mendayu-dayu, serta tidak diiringi oleh alat musik kesok-kesok.
3. Tradisi bertutur Sinrilik tetap terjaga sebab mulai sering menjadi bagian dari festival kebudayaan

Sebelum media modern lahir, Sinrilik memegang peranan krusial sebagai media edukasi, hiburan, sekaligus sarana penyampaian pesan moral bagi masyarakat. Melalui bait-bait lisan yang dilantunkan, pasinrilik menyelipkan ajaran tentang nilai-nilai kehidupan, keberanian, kejujuran, serta kepatuhan pada adat.
Sinrilik sedang dihadapkan pada tantangan gempuran budaya pop, tapi belakangan kerap diakses oleh pendengar dari kalangan muda sebab tampil di festival kebudayaan dan literasi. Hal tersebut membuat tradisi bertutur tersebut bisa tetap ada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus menjaga nilai budaya warisan leluhur.



















