Makassar, IDN Times - Ekspansi industri ekstraktif di Sulawesi dinilai berpotensi memperbesar risiko bencana di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan ekologis tinggi. Kondisi tersebut terutama dikaitkan dengan aktivitas pertambangan nikel, industri kehutanan, hingga proyek energi yang terus berkembang di sejumlah wilayah Sulawesi.
Manager Program Bioenergi Trend Asia, Amalya Reza, mengatakan sekitar 12 juta hektare atau lebih dari 50 persen wilayah Sulawesi berada dalam kategori risiko bencana sedang hingga tinggi. Menurutnya, keberadaan izin industri ekstraktif di wilayah rawan bencana berpotensi memperbesar jumlah masyarakat yang terdampak ketika bencana terjadi.
"Sebenarnya gini, konteksnya adalah sekitar 12 juta hektar gitu ya, itu lebih dari 50 persen wilayah Sulawesi, itu kerawanan bencananya tingkat risikonya tinggi," kata Amalya dalam media briefing di Makassar, Rabu (16/9/2026).
Menurut Amalya, risiko bencana tidak hanya berkaitan dengan kejadian bencana, tetapi juga jumlah warga yang terpapar, korban jiwa, kerugian ekonomi, hingga masyarakat yang harus mengungsi.
