Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siswa Pengidap Lupus di Sulsel Drop karena Terpaksa Ikut Vaksinasi
Siswa FS dilarikan ke rumah sakit usai menjalani vaksinasi di Bulukumba, Kamis (6/1/2022). Dok. IDN Times/Istimewa

Makassar, IDN Times - Seorang pelajar di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), harus dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Siswa kelas XII SMA Negeri 2 Tanete itu, mengalami drop seusai menjalani vaksinasi.

Siswa berinisial FS itu menjalani vaksinasi di Kantor Lurah Jawi-jawi, Kecamatan Bulukumpa, hari ini, Kamis (6/1/2022).

Ayah FS, Hasanuddin, mengatakan putrinya kini masih dalam perawatan di ruang UGD Rumah Sakit Sultan Daeng Radja Bulukumba. Kemungkinan putrinya itu akan dirawat inap.

"Setelah divaksin, baru 5 menit dia langsung drop, menggigil, sakit kepala luar biasa, mual, kesadaran sedikit menurun," katanya saat dihubungi IDN Times via telepon, Kamis (6/1/2022).

1. Mengidap penyakit lupus

Ilustrasi Gejala Penyakit (Sakit Kepala) (IDN Times/Mardya Shakti)

Hasan menerangkan bahwa putrinya sebenarnya mengidap penyakit lupus, yaitu penyakit autoimun kronis. Awalnya dia tak ingin putrinya divaksinasi karena kondisi itu, namun keadaan memaksanya.

FS tak bisa masuk sekolah mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) karena belum divaksinasi. Pasalnya, sekolah mewajibkan vaksinasi bagi siswa sebagai syarat ikut PTM. 

Karena kondisi itu, Hasan lalu menghadap kepala sekolah untuk meminta kebijakan agar FS diikutkan PTM meskipun belum divaksinasi. Lagipula, kata dia, sisa masa belajar juga tinggal tiga bulan lagi.

"Dia belum vaksin karena memiliki penyakit lupus. Saya juga menjelaskan kepada sekolah bahwa selama anak saya menderita penyakit itu dia sudah pernah kemo 12 kali, biopsi ginjal 12 kali, serta pengobatan jantung, hati, kulit dan mata," kata Hasan.

2. Vaksinasi jadi syarat PTM

Ilustrasi vaksinasi (IDN Times/Herka Yanis)

Hasan juga membawa surat keterangan dokter dari Puskesmas untuk ditunjukkan kepada pihak sekolah. Sebenarnya FS rutin menjalani kontrol di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar dalam 7 tahun terakhir, namun karena jaraknya yang jauh sekitar 200 km, maka Hasan hanya menyertakan surat tersebut.

"Jadi saya hanya bawa dulu untuk sementara keterangan dokter dari Puskesmas. Tapi tetap tidak boleh masuk karena tidak vaksin," kata Hasan.

Sekolah lalu menyepakati bahwa FS bisa mengikuti sekolah daring. Hanya saja sekolah daring itu tidak berjalan optimal karena tidak semua mata pelajaran dalam diajarkan saat daring.

"Jika hari ini 4 pelajaran di roster, maka dia juga harusnya memperoleh pelajaran 4, sama dengan anak yang PTM. Kenyataannya tidak seperti itu. Terkadang cuma satu masuk. Akhirnya biasa masuk yang lain nanti di hari berikutnya, jadi numpuk. Sementara anak saya kan sakit," kata Hasan lagi.

3. Ikut vaksinasi demi ikut PTM

Ilustrasi sekolah tatap muka di tengah pandemik (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Karena tak puas dengan belajar daring, FS pun akhirnya memaksakan diri untuk divaksinasi. Hal ini dia lakukan karena niatnya yang besar untuk ikut belajar tatap muka di sekolah dan bertemu kembali dengan teman-temannya.

Hasan pun memeriksakan kondisi anaknya ke seorang dokter spesialis di sebuah klinik Bulukumba. Di sana, kondisi fisik FS seperti jantung dan darah diperiksa. Hasilnya, FS disebut boleh divaksinasi.

"Atas dasar itulah divaksin karena memang keinginan untuk divaksin itu besar supaya bisa masuk sekolah," kata Hasan.

4. Dinkes Sulsel belum terima laporan

Default Image IDN

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Arman Bausat, yang dimintai keterangan terkait kasus tersebut, mengaku belum mendapatkan laporan. Namun dia menyatakan kasus semacam itu akan ditangani oleh Komisi Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Dia mengatakan bahwa apa yang dialami FS bisa saja merupakan efek setelah divaksinasi. Namun Komda KIPI biasanya akan menurunkan tim untuk memeriksa kejadian seperti itu. 

"Tim independen akan turun mengaudit untuk mencari apakah gejala yang ditimbulkan ini memang akibat vaksinasi atau faktor lain," kata Arman.

Editorial Team

Related Article