Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Siap Salat Tarawih di Bulan Ramadan? Yuk, Ingat Kembali Tata Caranya!

Salat tarawih
ilustrasi salat tarawih (pexels.com/Mohammed Alim)

Menyambut datangnya bulan Ramadan 2026, umat Islam mulai mempersiapkan berbagai ibadah malam, salah satunya salat Tarawih. Ibadah sunah ini menjadi ciri khas Ramadan karena dilakukan setiap malam setelah salat Isya sebagai bagian dari qiyam Ramadan.

Nah, untuk menyegarkan kembali pengetahuanmu tentang tata cara salat tarawih, simak panduan lengkapnya berikut ini, yang dikutip dari laman Muhammadiyah. Simak sampai habis, biar ibadahmu makin mantap!

1. Apa itu salat tarawih?

Ilustrasi persiapan salat tarawih (pexels.com/Thirdman)
Ilustrasi persiapan salat tarawih (pexels.com/Thirdman)

Salat Tarawih pada dasarnya merupakan salat malam di bulan Ramadan yang dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat ini dikerjakan setelah salat isya atau di tengah malam.

Tarawih dipahami sebagai bagian dari qiyam Ramadan yang memiliki landasan hadis sahih. Dalil utamanya berasal dari riwayat Abu Hurairah RA. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa melaksanakan salat malam pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa salat malam di bulan Ramadan memiliki keutamaan besar berupa ampunan dosa. Karena itu, Tarawih dipandang sebagai ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dihidupkan setiap malam Ramadan.

2. Jumlah rakaat

Ilustrasi sholat Tarawih (unsplash.com/Masjid Pogung Raya)
Ilustrasi sholat Tarawih (unsplash.com/Masjid Pogung Raya)

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai jumlah rakaat tarawih. Salah satu formasi yang diamalkan adalah total sebelas rakaat, terdiri dari empat ditambah empat rakaat salat tarawih plus tiga rakaat witir.

Pembahasan jumlah rakaat Tarawih sering merujuk pada hadis Aisyah RA tentang salat malam Nabi. Dalam kajian yang dikutip dari laman Muhammadiyah, hadis ini menjadi rujukan penting praktik qiyam Ramadan.

Aisyah RA meriwayatkan:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah SAW tidak pernah menambah (salat malam), baik di Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu ada pilihan formasi rakaat lain, yaitu 2-2-2-2-2 ditambah satu witir berdasarkan hadis riwayat Muslim dari sahabat Ibn Abbas yang berbunyi,

“Aku berdiri di samping Rasulullah, kemudian Rasulullah meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan dipegangnya telinga kananku dan ditelitinya, lalu Rasulullah salat dua rakaat kemudian dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, dan kemudian dua rakaat, selanjutnya Rasulullah salat witir, kemudian Rasulullah tiduran menyamping sampai Bilal menyerukan azan. Maka bangunlah Rasulullah dan salat dua rakaat singkat-singkat, kemudian pergi melaksanakan salat subuh.”

3. Tata cara pelaksanaan salat tarawih dan zikir setelahnya

Pria sedang berzikir
ilustrasi pria sedang berzikir (pexels.com/Michael Burrows)

Secara praktik, tata cara Tarawih mengikuti rukun salat pada umumnya. Ibadah ini dikerjakan setelah salat Isya hingga sebelum Subuh, baik secara berjamaah maupun sendiri, dengan bacaan dan gerakan yang sama seperti salat sunnah lainnya.

Setiap rakaat diawali dengan niat di dalam hati, dilanjutkan membaca Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an, rukuk, sujud, hingga salam. Salat kemudian ditutup dengan witir sebagai penyempurna salat malam, sebagaimana dicontohkan dalam hadis-hadis tentang qiyam Nabi.

Dalam pelaksanaan dengan formasi 4-4-3, salat tarawih dikerjakan sebanyak 4 rakaat sekaligus dengan satu kali salam. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya tasyahud awal.

  • Setelah sujud pada rakaat kedua, jemaah langsung berdiri tegak melanjutkan rakaat ketiga.
  • Duduk tasyahud akhir hanya dilakukan pada rakaat keempat sebelum salam.
  • Lakukan hal ini sebanyak dua kali (total 8 rakaat).

Praktik ini merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

"Rasulullah saw tidak pernah menambah, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Rangkaian ibadah malam ditutup dengan salat Witir sebanyak 3 rakaat. Sesuai tuntunan, 3 rakaat ini dikerjakan secara bersambung (sekaligus) dengan satu kali salam. Penting untuk dicatat bahwa dalam salat Witir ini juga tidak dilakukan tasyahud awal pada rakaat kedua. Hal ini bertujuan agar tata caranya tidak menyerupai salat Maghrib.

"Janganlah kalian menyamakan salat witir dengan salat Maghrib." (HR. An-Nasa'i) (Maknanya adalah larangan melakukan duduk tasyahud awal layaknya salat Maghrib).

Setelah salam, disunahkan membaca dzikir berikut sebanyak tiga kali:

"Subhaanal malikil qudduus" (Maha Suci Allah Raja Yang Maha Suci)

Pada bacaan ketiga, suara dipanjangkan dan dikeraskan, lalu ditambahkan bacaan: "Rabbul malaaikati warruuh" (Tuhan para malaikat dan Jibril).

Menyambut Ramadan 2026, memahami dalil dan tata cara salat Tarawih membantu umat Islam menjalankan ibadah dengan lebih mantap. Dengan merujuk hadis-hadis sahih tarawih dapat dijalankan sebagai ibadah malam yang penuh makna dan keutamaan. Semoga Ramadan menjadi momentum memperkuat iman dan kualitas ibadah setiap muslim.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Pencarian Nelayan Jatuh di Perairan Makassar New Port Ditutup

14 Feb 2026, 18:29 WIBNews