Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sektor Jasa Keuangan Sulsel Tetap Stabil di Tengah Dinamika Ekonomi
Transaksi QRIS memudahkan layanan keuangan digital (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  • Sektor jasa keuangan Sulawesi Selatan tetap stabil sepanjang 2025, menunjukkan ketahanan sistem keuangan daerah di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
  • Perbankan, IKNB, dan pasar modal mencatat pertumbuhan positif dengan peningkatan aset, kredit UMKM, serta jumlah investor yang terus naik signifikan.
  • OJK Sulsel-Sulbar aktif memperluas literasi keuangan melalui berbagai kegiatan edukatif yang menjangkau ratusan ribu peserta dari beragam lapisan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan menunjukkan kinerja yang stabil dan resilien sepanjang 2025, meski menghadapi dinamika perekonomian baik di tingkat nasional maupun global. Kondisi ini menunjukkan daya tahan sistem keuangan daerah dalam menopang aktivitas ekonomi secara berkelanjutan.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin, menyatakan bahwa sektor keuangan daerah menunjukkan stabilitas yang kuat. Hal ini terlihat dari kinerja berbagai indikator utama pada sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank (IKNB).

"Stabilitas tersebut mencerminkan daya tahan sistem keuangan daerah yang mampu menopang aktivitas ekonomi secara berkelanjutan," kata Muchlasin, Senin (2/3/2026).

1. Perbankan Sulsel tetap tumbuh

Ilustrasi perbankan. (IDN Times/Aditya Pratama)

Di sektor perbankan, total aset mencapai Rp214,32 triliun atau meningkat 5,33 persen dibanding tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga juga tumbuh 9,74 persen menjadi Rp146,61 triliun, didominasi tabungan sebesar 59,92 persen. 

Penyaluran kredit perbankan di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan sebesar 5,26 persen, mencapai Rp172,92 triliun, dengan fokus pada sektor produktif dan konsumtif. Kinerja intermediasi tetap terjaga, terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 117,95 persen dan rasio kredit bermasalah di level 3,65 persen.

Kredit UMKM tetap menjadi fokus dengan porsi 36,40 persen dari total kredit, senilai Rp61,69 triliun, yang sebagian besar disalurkan kepada UMKM mikro. Secara keseluruhan, kredit UMKM telah disalurkan kepada lebih dari 900 ribu debitur.

2. Industri keuangan non-bank (IKNB) dan pasar modal tumbuh positif

Ilustrasi keuangan. (IDN Times/Arief Rahmat)

Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) juga mencatatkan pertumbuhan positif. Penyaluran pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 0,14 persen, modal ventura 7,97 persen, dan fintech peer-to-peer lending meningkat signifikan 34,56 persen. 

Total aset dana pensiun di Sulsel tumbuh sebesar 8,28 persen, menunjukkan pengelolaan investasi yang terus meningkat. Sementara itu, lembaga penjaminan mencatat kenaikan signifikan sebesar 36,64 persen, menandakan peran yang lebih besar dalam mendukung stabilitas sektor keuangan.

Pasar modal di Sulsel juga menunjukkan penguatan. Jumlah investor (Single Investor Identification/SID) mencapai 525.596, naik 31,23 persen dari tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan tertinggi pada portofolio saham sebesar 40,46 persen dan akumulasi transaksi saham Rp39,90 triliun.

3. Edukasi dan literasi keuangan terus digalakkan

ilustrasi keuangan (IDN Times/Mela Hapsari)

Selain itu, OJK Sulsel-Sulbar aktif menggelar edukasi dan literasi keuangan, termasuk 19 kegiatan pada Januari 2026 yang menjangkau lebih dari 288 ribu peserta dari berbagai segmen masyarakat. Layanan konsumen juga tetap berjalan dengan 179 layanan yang tercatat pada periode yang sama.

"Pelaksanaan kegiatan edukasi dilakukan secara kolaboratif bersama Industri Jasa Keuangan (IJK) dan pemerintah daerah, sebagai bentuk sinergi dalam memperluas akses informasi dan pemahaman mengenai produk serta layanan keuangan yang legal dan logis," kata Muchlasin.

Editorial Team