Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ribuan Petani Nikmati Manfaat Program Electrifying Agriculture PLN
Peternakan ayam dengan menggunakan metode closed house di Desa Moncongloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. (Dok. PLN Sulselrabar)

Makassar, IDN Times - Program Electrifying Agriculture (EA) PLN menjangkau 3.240 pelanggan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) hingga akhir tahun 2023. Program itu menyasar pelaku usaha di sektor agrikulture, seperti pertanian, perikanan, perkebunan, dan peternakan.

Program EA merupakan inovasi PLN dalam mengajak para pelaku di sektor agrikultur untuk beralih menggunakan alat-alat dan mesin produksi berbasis listrik. Sehingga aktivitas pertanian lebih maju, efisien dan modern.

General Manager PLN UID Sulselrabar, M. Andy Adchaminoerdin mengungkapkan, hingga akhir tahun 2023 total daya tersambung program EA sebesar 186.138 kiloVolt Ampere (kVA). "Program EA juga menjadi bagian dari langkah strategis perseroan dalam upaya mendukung pengentasan kemiskinan melalui sektor ketenagalistrikan," kata Andy dalam keterangan persnya, Sabtu (13/1/2024).

1. Pakai listrik, biaya operasional dipangkas hingga 75 persen

Program Electrifying Agriculture (EA), kebun bawang merah di Desa Saruran, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. (Dok. PLN Sulselrabar)

Salah satu petani bawang merah di Desa Saruran, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Hasbi mengaku dengan menggunakan listrik dapat menghemat biaya operasional sampai 75 persen. Sebelum adanya listrik, ia menghabiskan biaya operasional sebesar Rp5,2 juta per panen. Namun dengan program EA, kebunnya hanya membutuhkan biaya Rp1,3 juta per panen.

Hasbi menambahkan, listrik tidak hanya berdampak positif bagi penghematan operasional tetapi juga berpengaruh kepada peningkatan kapasitas produksi. "Sebelum menggunakan listrik produksi kami hanya 45 ton bawang merah per tahun, hadirnya listrik ternyata juga meningkatkan kapasitas produksi menjadi 48 ton per tahun," ungkap Hasbi.

2. Penggunaan listrik memicu peningkatan produktivitas pertanian

Petugas PLN melakukan pengecekan Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) di pesawahan Kelurahan Mattiro Deceng, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (Dok. PLN Sulselrabar)

Program EA juga mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan usaha pertanian milik Nurdin di Kelurahan Mattiro Deceng, Kabupaten Maros. Ia mengaku berhasil melakukan efisiensi biaya operasional hingga 40-50 persen sejak beralih menggunakan listrik untuk mengairi sawahnya dari tahun 2021.

“Sudah tiga tahun, kami telah beralih ke energi listrik, efisiensi biaya untuk penyiraman jadi lebih murah dibandingkan sebelum menggunakan listrik, yakni bahan bakar minyak,” ujar Nurdin.

Nurdin menjelaskan untuk mengaliri sawah seluas 30 hektar, ia membutuhkan bahan bakar minyak sekitar Rp8 juta dalam satu kali pengairan. Namun, kehadiran program EA berhasil menghemat biaya operasional sekitar Rp4,5 juta untuk biaya pengairan.

Selain penghematan biaya operasional, ia menambahkan dengan adanya teknologi pertanian berbasis listrik mampu meningkatkan produktivitas sebesar tiga kali lipat dari sebelumnya. Misalnya dalam satu tahun, hanya menghasilkan panen sebanyak 3.000 karung. Namun setelah adanya listrik, berhasil memproduksi sekitar 9.000 karung.

3. Upaya PLN mendorong pelaku bisnis ke praktik ramah lingkungan

General Manager PT PLN UID Sulselrabar Moch. Andy Adchaminoerdin. (Dok. PLN UID Sulselrabar)

Andy menjelaskan, melalui program EA PLN berkomitmen mendukung pelaku usaha di sektor agrikultur untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional yang meningkatkan keuntungan. Program ini juga membuat kegiatan usaha dari pelaku bisnis menjadi lebih ramah lingkungan.

“Melalui program ini PLN juga berupaya menciptakan Creating Shared Value (CSV) bagi masyarakat dan lingkungan sekitar lewat berbagai inovasi teknologi kelistrikan. Electrifying Agriculture merupakan program yang digagas oleh PLN, kami optimis kualitas dan kuantitas produktivitas para petani dapat meningkat, maju dan modern,” ujar Andy.

Editorial Team

Related Article