Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rapid Test Massal di Sulsel Sasar Masyarakat yang Dianggap Berisiko

Rapid Test Massal di Sulsel Sasar Masyarakat yang Dianggap Berisiko
Rapid test massal di lingkungan tempat tinggal pasien positif corona. Dok. IDN Times
Share Article

Makassar, IDN Times - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) akan menggelar rapid test massal yang dipusatkan di dua daerah terbanyak kasus positif COVID-19, yaitu Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.

Menurut Jubir Gugus Tugas COVID-19 Sulsel Ichsan Mustari, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Gugus Tugas COVID-19 dari dua daerah tersebut. Rapid test massal ini nantinya diarahkan kepada beberapa kelompok masyarakat yang dianggap berisiko. 

"Beberapa waktu yang lalu kita tahu bahwa Kota Makassar juga telah melakukan rapid test tapi pendekatannya terhadap orang-orang yang punya kontak erat dengan pasien positif. Tanggal 12 Mei itu, kita akan melakukan rapid test massal di pasar-pasar, driver ojol, toko-toko besar yang diizinkan untuk buka, dan juga para tukang parkir," ujar Ichsan saat melakukan telekonferensi, Jumat (8/5).

1. Ditujukan untuk kelompok berisiko terjangkit COVID-19

Warga mengantri pemeriksaan rapid test (IDN Times/Patiar Manurung)
Warga mengantri pemeriksaan rapid test (IDN Times/Patiar Manurung)

Ichsan mengatakan, rapid test untuk kelompok-kelompok rentan, penting dilakukan sebab mereka merupakan kelompok masyarakat yang mudah terjangkit COVID-19 dan mudah pula menjangkiti orang lain. Sebab di Makassar dan Gowa, kata dia, orang yang terjangkit maupun yang tidak terjangkit terkadang sudah sulit untuk diketahui.

"Maka dari itu, kita mencoba untuk menskrining mereka yang punya potensi untuk menjangkitkan. Jadi kita akan melakukan rapid test massal ini, persiapan sementara kita lakukan. Mudah-mudahan ini bisa dilaksanakan tanggal 12 Mei," katanya.

Menurut Ichsan, kelompok masyarakat seperti pedagang di pasar, karyawan toko, driver ojol, atau tukang parkir merupakan orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan orang lain yang berbeda-beda. Maka dari itu, mereka harus disasar dalam rapid test massal nantinya.

2. Rapid test membantu menjaring warga yang berpotensi terjangkit COVID-19

Hasil negatif uji sampel rapid test. (IDN Times/ Deryardli Tiarhendi)
Hasil negatif uji sampel rapid test. (IDN Times/ Deryardli Tiarhendi)

Lebih jauh Ichsan mengatakan, rapid test memang bukan sebuah tes untuk mendiagnosis pasien COVID-19 seperti halnya tes swab. Akan tetapi setidaknya hal ini bisa membantu untuk menjaring dan melihat siapa saja yang mempunyai potensi terjangkit COVID-19. 

"Sebenarnya tujuan kita melakukan rapid test ini adalah mencoba mencari orang-orang penyebar virus yang ada di tempat-tempat yang ramai," katanya.

Dia menambahkan bahwa di negara lain seperti Qatar memang pernah melakukan tes swab massal untuk penduduknya. Namun menurutnya hal itu sulit dilakukan di Indonesia, termasuk Sulsel mengingat jumlah penduduk yang banyak. Jika tes swab akan dilakukan di Sulsel, misalnya, maka setidaknya harus menyiapkan sekitar 7 juta. Tentu ini berbeda dengan kondisi di Qatar yang jumlah penduduknya hanya 2 juta lebih.

"Tapi strategi berbeda kita lakukan dengan tujuan sama. Kita melakukan skrining dengan menggunakan rapid test di tempat-tempat yang banyak orang berkumpul," lanjutnya. 

3. Warga yang reaktif positif akan diisolasi di hotel

Peralatan rapid test untuk uji sampel COVID-19. (IDN Times/ Deryardli Tiarhendi)
Peralatan rapid test untuk uji sampel COVID-19. (IDN Times/ Deryardli Tiarhendi)

Pemerintah menyiapksn 30.000 alat rapid test. Pembagiannya nanti dilakukan secara proporsional meskipun akan lebih banyak dilakukan di Makassar, mengingat jumlah kasus positif COVID-19 tertinggi di Sulsel adalah di Makassar.

Nantinya, apabila ada warga yang menunjukkan reaktif positif berdasarkan hasil rapid test itu, maka mereka akan diisolasi di hotel Swiss-Bel atau Harper yang telah disediakan oleh pemprov.

"Jadi pemerintah provinsi telah menyiapkan beberapa hotel untuk mengisolasi mereka. Ini adalah strategi untuk memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19. Mereka juga yang rapid ini nanti belum tentu positif. Tapi dia punya potensi untuk positif karena bisa saja rapid test itu adalah orang yang punya penyakit lain yang terbaca oleh rapid bahwa dia positif," kata Ichsan.  

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
Ashrawi Muin
Irwan Idris
EditorIrwan Idris

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Kloter 4 Tiba di Makassar, Satu Jemaah Wajo Masih Dirawat di Makkah

04 Jun 2026, 12:19 WIBNews