Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pria di Maros Ngaku Dikeroyok Polisi saat Tahun Baru, Keluarga Ngamuk

VID-20260102-WA0059.jpg
Akbar mengalami lebam di matanya usai diduga dikeroyok polisi saat malam tahun baru (Dok. Keluarga korban).
Intinya sih...
  • Kapolres Maros akan sanksi oknum polisi yang terbukti melakukan kekerasan
  • Korban mengaku nyalakan petasan setelah memastikan kondisi aman, namun dihampiri polisi tanpa pakaian dinas
  • Tujuh oknum anggota polisi diduga pukul korban, yang sudah lakukan visum untuk memperkuat laporannya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times – Dugaan aksi kekerasan yang melibatkan oknum anggota kepolisian terjadi di kawasan Pantai Tak Berombak (PTB), Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Seorang pria bernama Akbar mengaku dikeroyok hingga babak belur oleh sejumlah polisi saat perayaan malam pergantian tahun baru 2025.

Puluhan anggota keluarga Akbar sempat mendatangi Mapolres Maros pada Kamis (1/1/2026) untuk menuntut pertanggungjawaban atas insiden tersebut. Aksi keluarga korban itu bahkan sempat terekam video dan viral di media sosial.

1. Kapolres Maros : Jika terbukti kami akan sanksi

_63808080.jpg
Keluarga Akbar datang mengamuk ke Mapolres Maros (Dok. Keluarga korban).

Kepala Polisi Resor polres Maros AKBP Douglas Mahendrajaya membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut kasus ini masih dalam tahap penyelidikan internal.

“Iya, sementara dalam penyelidikan,” ujar Douglas saat dikonfirmasi, Jumat (2/1/2026).

Douglas menegaskan pihaknya akan menindak tegas anggota kepolisian yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Kami akan mengungkap kasus ini dan memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

2. Korban mengaku nyalakan petasan setelah memastikan kondisi sekitar aman

VID-20260102-WA0059(1).jpg
Akbar mengalami lebam di matanya usai ngamu dikeroyok polisi saat malam tahun baru (Dok. Keluarga korban).

Akbar menuturkan, insiden bermula ketika ia menyalakan petasan jenis lampu disko di sekitar kawasan PTB. Sebelum menyalakan petasan, ia mengaku telah memastikan kondisi sekitar aman dan warga di lokasi sudah menjauh.

“Saya lihat dulu situasi aman. Warga juga sudah menghindar, baru saya nyalakan,” kata Akbar kepada awak media, Jumat.

Tak lama setelah petasan dinyalakan, seorang pria yang mengaku anggota polisi datang menghampirinya. Menurut Akbar, pria tersebut tidak mengenakan pakaian dinas dan langsung berteriak menanyakan siapa yang menyalakan petasan. Namun ia menyatakan langsung mengaku kalau yang menyalakan petasan adalah dirinya.

Ketegangan pun sempat terjadi. Sejumlah warga mencoba melerai agar tidak terjadi keributan. Polisi tersebut kemudian meninggalkan lokasi.

Namun beberapa saat kemudian, ia kembali datang dan meminta agar persoalan diselesaikan secara baik-baik. Adu mulut kembali terjadi sebelum akhirnya dilerai warga, dan polisi itu kembali pergi.

3. Tujuh oknum anggota polisi diduga pukul korban

Ilustrasi pengeroyokan. (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi pengeroyokan. (IDN Times/Sukma Shakti)

Situasi berubah ketika polisi tersebut datang lagi bersama sejumlah anggota lainnya. Akbar mengaku tanpa peringatan, salah satu polisi langsung memegang lehernya dan menyeretnya sejauh sekitar 10 meter. Ia juga mengaku dipukul dari belakang hingga terjatuh.

“Saya dipukul ramai-ramai. Ada lebih dari 10 polisi, tapi sekitar tujuh orang yang memukul saya,” ungkapnya.

Akbar kemudian dibawa ke pos pengamanan malam tahun baru di sekitar PTB. Di lokasi itu, ia mengaku diminta jongkok sebelum akhirnya dibawa menggunakan sepeda motor ke Polres Maros.

Sesampainya di Polres Maros, Akbar mengklaim kembali mengalami kekerasan. Ia menyebut melihat beberapa anggota polisi tengah mengonsumsi minuman keras di dalam ruangan.

“Saya lihat ada polisi minum bir. Begitu masuk, saya langsung dipukul lagi sampai babak belur,” katanya.

4. Korban sudah lakukan visum untuk memperkuat laporannya

_63808080(1).jpg
Keluarga Akbar datang mengamuk ke Mapolres Maros (Dok. Keluarga korban).

Ia juga mengaku sempat ditawari minuman keras, namun menolak. Akbar menyebut dirinya dituduh melempar petasan ke arah polisi dan hendak memukul petugas, tuduhan yang ia bantah.

“Mereka bilang saya mau mengeroyok polisi. Padahal saya sendirian, tidak ada teman sama sekali,” tegasnya.

Selain itu, Akbar mengaku dipaksa menandatangani surat pernyataan tanpa mengetahui isi dokumen tersebut. Ia mengklaim masih mengalami kekerasan saat proses penandatanganan berlangsung.

“Setelah saya tanda tangan, baru saya dibilang boleh pulang,” ujarnya.

Merasa menjadi korban kekerasan, Akbar bersama keluarganya telah melaporkan kejadian ini ke Propam Polda Sulawesi Selatan. Ia juga mengaku telah menjalani visum untuk memperkuat laporannya.

“Saya sudah melapor dan sudah visum,” tandasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Rp68 Miliar Digelontorkan untuk Jalan Menuju Seko Luwu Utara

03 Jan 2026, 00:26 WIBNews