Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Buku Ini Membahas Tuntas Sisi Lain Kota Makassar

5 Buku Ini Membahas Tuntas Sisi Lain Kota Makassar
Sampul lima buku yang membahas sisi lain Kota Makassar. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)
Intinya Sih
  • Makassar memiliki keunikan kuliner, tradisi, dan pop culture yang layak dijelajahi.
  • Buku "Makassar Nol Kilometer" mengungkap potret penduduk dan budaya feodalistik di Makassar.
  • Buku "Chambers: Makassar Urban Culture Identity" menyoroti musik, gaya hidup anak muda, dan mode berpakaian di Makassar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Bosan dengan stereotip tentang Makassar yang sering berseliweran di media sosial? Jangan buru-buru berprasangka buruk, karena ibu kota Sulawesi Selatan (Sulsel) ini memiliki segudang keunikan yang layak dijelajahi.

Di balik kemacetan dan cuaca terik yang khas, Makassar menyimpan segudang cerita selama berabad-abad. Dari kuliner khas, tradisi unik, serta perkembangan pop culture. Ada banyak hal menarik yang dijamin tak tercantum di brosur wisata.

Kamu ingin mengenal sisi lain Makassar tapi bingung harus mulai dari man? Jawabannya mudah : sumber literatur. IDN Times merekomendasikan lima buku yang menyuguhkan cara lain memahami aspek lain kehidupan di kota ini. Yuk simak!

1. Makassar Nol Kilometer (Edisi Revisi, 2014)

Sampul buku "Makassar Nol Kilometer (Edisi Revisi)" (2014) terbitan Penerbit Ininnawa. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)
Sampul buku "Makassar Nol Kilometer (Edisi Revisi)" (2014) terbitan Penerbit Ininnawa. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)

Makassar Nol Kilometer (Penerbit Ininnawa, 2014, edisi revisi) adalah buku pertama yang membahas ibu kota Sulsel dari perspektif orang-orang biasa dan diwartakan apa adanya. Setebal 273 halaman, pembaca diajak mengenal lebih dalam potret penduduk dan segala kebiasaan sehari-hari.

Mulai dari fenomena rombongan pengiring jenazah yang akan dimakamkan, tawuran antar kelompok, lika-liku menjadi suporter tim sepak bola PSM Makassar, payabo (pemulung) pengais rezeki yang menyisir jalan raya hingga gang, sampai pete-pete sebagai angkutan umum andalan masyarakat.

Meski tulisan-tulisan dalam buku ini sudah berumur hampir dua dekade, dan pertama kali dicetak pada 2005, seluruh topiknya tetap relevan. Sebut saja budaya feodalistik di masyarakat Bugis-Makassar, sejarah coto makassar, dan penggunaan tata bahasa "lo - gue" ala Jakarta oleh sebagian penduduk Makassar.

2. Chambers: Makassar Urban Culture Identity (2013)

Sampul buku "Chambers: Makassar Urban Culture Identity" (2013) terbitan Chambers Books. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)
Sampul buku "Chambers: Makassar Urban Culture Identity" (2013) terbitan Chambers Books. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)

Buku Chambers: Makassar Urban Culture Identity (Chambers Books, 2013) dirilis bersamaan dengan perhelatan Rock In Celebes 2013. Buku ini mengulas sebagian kecil perjalanan budaya populer anak muda Makassar sejak awal 2000-an melalui perspektif salah satu outlet distro terbesar yakni Chambers.

Fokus utama buku ini sendiri tentu saja musik. Sejak 2004, Chambers aktif menyelenggarakan konser bertajuk Chambers Show, yang menjadi ajang berkumpulnya anak muda untuk menikmati penampilan band-band indie lokal berbagai genre. Mulai dari death metal, alternative rock, hingga ska.

Buku ini juga menyoroti bagaimana musik memengaruhi gaya hidup dan mode berpakaian anak muda di Makassar. Sebut saka kaos bergambar artwork band favorit, anting, tindik, atau pernak-pernik nyentrik dari ujung kepala hingga kaki.

3. Pasar Terong Makassar: Dunia dalam Kota (2014)

Sampul buku "Pasar Terong: Dunia Dalam Kota" (2014) terbitan Penerbit Ininnawa. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)
Sampul buku "Pasar Terong: Dunia Dalam Kota" (2014) terbitan Penerbit Ininnawa. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)

Aktivitas jual beli di Pasar Terong, pasar terbesar di Makassar dan Indonesia Timur, didokumentasikan dengan detail dalam buku Pasar Terong Makassar: Dunia dalam Kota. Diterbitkan oleh Penerbit Ininnawa pada 2014. Buku ini menambah keragaman literatur tentang Kota Daeng dengan mengupas dinamika yang terjadi di dalam pasar sejak berdiri pada dekade 1960-an.

Ditulis berdasarkan catatan para anggota organisasi nirlaba AcSI (Active Society Institute), buku ini menggambarkan kisah suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan para pedagang di Pasar Terong. Setebal 240 halaman, pembaca diajak memahami kompleksitas kehidupan pasar, mulai dari tantangan hingga semangat para pelakunya.

Buku ini juga mengangkat prinsip solidaritas antar pedagang yang dikenal dengan sitallassiki paranta rupa tau (saling menghidupi sesama manusia). Selain itu, dibahas pula dinamika relokasi pedagang (isu yang sempat ramai pada dekade 2010-an) dan kebijakan pemerintah dalam menata pasar dari perspektif seorang preman lokal.

4. Soundscape: Makassar, Musik, dan Catatan Tentang Kota (2020)

Sampul buku "Soundscape: Makassar, Musik, dan Catatan Tentang Kota" (2020) terbitan Kedai Buku Jenny. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)
Sampul buku "Soundscape: Makassar, Musik, dan Catatan Tentang Kota" (2020) terbitan Kedai Buku Jenny. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)

Diterbitkan pada 2020 oleh komunitas literasi Kedai Buku Jenny, Soundscape: Makassar, Musik, dan Catatan Tentang Kota berisi perjalanan skena musik lokal serta upaya gigih dalam menghidupinya. Buku ini menyajikan 12 tulisan sepanjang 103 halaman yang mengeksplorasi berbagai aspek di luar ingar-bingar panggung.

Salah satu cerita yang diangkat yakni kebangkitan band-band pengusung genre post-hardcore yang berhasil mencuri perhatian publik. Cerita tentang Kedai Buku Jenny juga turut dihadirkan, terutama peran mereka dalam memberikan ruang bagi musisi lokal untuk tampil.

Ada juga cerita digagasnya festival Musik Hutan yang berlangsung pertama kali pada 2014 silam, serta kisah-kisah perempuan di skena musik Makassar. Beberapa grup musik dan musisi menjadi fokus dalam buku ini. Sebut saja Kapal Udara, Paniki Hate Light, Melismatis yang sempat reuni di tahun 2022, serta Theory of Discoustic.

5. Rock In Celebes dan 100 Tahun Musik Populer Makassar (2021)

Sampul buku "Rock In Celebes dan 100 Tahun Musik Populer Makassar" (2021) yang diterbitkan Tanahindie Press. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)
Sampul buku "Rock In Celebes dan 100 Tahun Musik Populer Makassar" (2021) yang diterbitkan Tanahindie Press. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)

Masih tentang musik, buku karya penulis-peneliti Anwar "Jimpe" Rachman ini memberi porsi besar pada sejarah musik di Makassar. Diterbitkan oleh Tanahindie Press pada 2021, menjabarkan beberapa fakta yang mungkin sudah terlupakan. Salah satunya yakni kisah W.R. Supratman, komposer penggubah lagu kebangsaan Indonesia Raya, saat meniti karier sebagai musisi di Makassar.

Rock In Celebes dan 100 Tahun Musik Populer Makassar juga berisi kisah-kisah perkembangan musik. Sebut saja Hoo Eng Djie sang maestro lagu daerah Makassar, masuknya genre rock pada 1980-an, kemudian lahirnya band-band pengusung death metal serta punk di dekade 1990-an.

Rock In Celebes baru dibahas pada paruh kedua buku, dibuka dengan penjelasan bahwa festival musik tersebut hadir mengikuti perkembangan Kota Makassar. Asal muasal, proses mewujudkan gagasan, hingga suka-duka ajang tersebut dibahas lengkap dalam buku ini.

Jadi, kamu berminat mencari tahu Makassar dari sisi mana, nih?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
Ach. Hidayat Alsair
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More