79 Persen Wilayah Sulsel Diprediksi Kemarau Lebih Kering pada 2026

- BMKG memprediksi 79 persen wilayah Sulawesi Selatan akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normal pada 2026, dengan curah hujan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
- Sekitar 58 persen wilayah diperkirakan menghadapi durasi kemarau lebih panjang, mencakup daerah seperti Makassar, Gowa, Takalar, hingga Luwu Timur dan Wajo.
- Kemarau yang lebih kering dan panjang berpotensi menimbulkan kekurangan air, gangguan pertanian, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Sulsel.
Makassar, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal pada 2026. Sekitar 79 persen wilayah di provinsi ini diperkirakan memiliki sifat hujan di bawah normal selama periode kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan jumlah curah hujan pada musim kemarau diperkirakan lebih sedikit. Jumlahnya lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan.
"Yang perlu dicermati adalah yang di bawah normal ini. Jadi 79 persen wilayah Sulawesi Selatan akan memasuki kemarau-nya di bawah normal, atau lebih kering dari biasanya," kata Ayi dalam konferensi pers prediksi musim kemarau 2026 melalui Zoom, Jumat (13/3/2026).
1. Wilayah terdampak kemarau lebih kering

Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih kering mencakup sebagian besar daerah di Sulawesi Selatan. Di antaranya Kepulauan Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Parepare, hingga Pinrang dan Enrekang.
Selain itu, kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Tana Toraja, Sidrap, Wajo, Sinjai, dan Bulukumba. Sebagian kecil wilayah Toraja Utara juga diprediksi mengalami kondisi yang sama.
Menurut Ayi, sifat kemarau yang lebih kering tersebut berkaitan dengan pola curah hujan yang diperkirakan menurun. Penurunan ini terjadi jika dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir.
"Kita bandingkan dengan tahun 2023, 2024, dan 2025. Tahun 2026 jumlah curah hujannya berkurang atau lebih kecil. Kalau kita prediksi, sekitar 186.217 mm selama April sampai Agustus. Jadi 1 mm itu setara dengan jumlah 1 liter air di dalam luasan 1 meter persegi," kata Ayi.
2. Durasi kemarau lebih panjang

BMKG juga memprediksi sebagian wilayah akan mengalami musim kemarau dengan durasi lebih panjang. Sekitar 58 persen wilayah Sulawesi Selatan diperkirakan mengalami kemarau yang berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih panjang antara lain seluruh Selayar, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Bone, Barru, dan Soppeng. Selain itu, sebagian besar Sidrap, Parepare, Luwu Utara, Luwu Timur, dan sebagian kecil Wajo juga termasuk wilayah yang terdampak.
"Ini mungkin yang perlu betul-betul dicermati karena ini tentunya memerlukan usaha yang lebih keras dalam mengantisipasi dampak negatif," kata Ayi.
3. Potensi dampak kemarau

Kondisi kemarau yang lebih kering dan lebih panjang berpotensi berdampak pada sejumlah sektor. BMKG mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap kemungkinan kekurangan air, gangguan sektor pertanian, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
"Jadi perlu diwaspadai dampak kekeringan, mulai dari ketersediaan pangan dan sumber daya air, hingga lingkungan yang rentan penyakit. Energi juga berpotensi kurang, dan untuk kebencanaan, teman-teman BPBD serta tim Manggala Agni seperti biasa harus mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan," kata Ayi.


















