Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Waspada Glaukoma, Penyebab Kebutaan yang Sering Tanpa Gejala

Waspada Glaukoma, Penyebab Kebutaan yang Sering Tanpa Gejala
Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC ORBITA @ Makassar menggelar kegiatan edukasi, skrining pemeriksaan mata, serta seminar dan webinar kesehatan mata bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. (Dok. IDN Times)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Glaukoma menjadi penyebab kebutaan permanen kedua di dunia dan sering tidak bergejala, sehingga deteksi dini sangat penting terutama bagi masyarakat usia di atas 40 tahun.
  • Beragam jenis glaukoma memiliki karakteristik berbeda, mulai dari sudut terbuka yang berkembang perlahan hingga sudut tertutup yang bisa menimbulkan gejala mendadak dan memerlukan penanganan segera.
  • Peringatan Pekan Glaukoma Sedunia 2026 oleh JEC Group menghadirkan edukasi, skrining mata, serta seminar publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan kebutaan akibat glaukoma.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Penyakit glaukoma masih menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan mata karena kerap berkembang tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini bahkan dikenal sebagai silent thief of sight atau “pencuri penglihatan secara diam-diam” karena kerusakan saraf optik dapat terjadi perlahan tanpa disadari hingga tahap lanjut.

Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026, JEC Group mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap glaukoma melalui berbagai kegiatan edukasi dan skrining kesehatan mata. Peringatan global ini merupakan inisiatif dari World Glaucoma Association dengan tema tahun ini “Uniting for a Glaucoma-Free World”.

Ketua Glaukoma Service JEC Group, Widya Artini Wiyogo menjelaskan bahwa glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara perlahan. Salah satu faktor yang dapat memicu kondisi ini adalah peningkatan tekanan di dalam bola mata.

Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg. Namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.

Menurutnya, kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, meskipun lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun. Glaukoma juga diketahui menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua di dunia setelah katarak.

“Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini,” ujar Widya dalam keterangannya, Sabtu (14/3/3036).

Di negara berkembang, sekitar 80–90 persen kasus glaukoma tidak terdiagnosis. Sementara berdasarkan jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada 2040 seiring pertumbuhan populasi serta meningkatnya angka harapan hidup.

Di Indonesia sendiri, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46 persen atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023.

1. Puluhan ribu lansia di Sulawesi Selatan diperkirakan mengalami kebutaan

Rumah Sakit Mata JEC-Orbita @ Makassar hadirkan teknologi mutakhir penanganan gangguan mata. (Dok. Istimewa)
Rumah Sakit Mata JEC-Orbita @ Makassar hadirkan teknologi mutakhir penanganan gangguan mata. (Dok. Istimewa)

Kondisi gangguan penglihatan juga menjadi perhatian di Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu pusat populasi terbesar di kawasan Indonesia timur. Kebutuhan layanan kesehatan mata di wilayah ini terus meningkat, terutama pada kelompok usia lanjut.

Berdasarkan hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2017 yang dilaksanakan sebagai bagian dari studi di 15 provinsi di Indonesia, prevalensi kebutaan pada penduduk usia lanjut di Sulawesi Selatan diperkirakan berada di kisaran sekitar 2–3 persen. Dengan jumlah penduduk usia lanjut mencapai sekitar 1,1 juta orang, maka jumlah penduduk yang mengalami kebutaan diperkirakan mencapai sekitar 22–33 ribu orang di provinsi ini.

Salah satu penyebab kebutaan yang juga menjadi perhatian adalah glaukoma, yaitu penyakit mata yang merusak saraf optik secara progresif dan sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Berbeda dengan katarak yang dapat dipulihkan melalui operasi, kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga deteksi dini menjadi sangat penting untuk mencegah kebutaan.

Temuan dari survei RAAB juga menunjukkan bahwa glaukoma merupakan salah satu penyebab utama kebutaan permanen di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Widya menambahkan bahwa beberapa faktor dapat meningkatkan risiko glaukoma, antara lain riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi seperti miopia atau hipermetropia, katarak, serta riwayat trauma pada mata.

Namun penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000 hingga 20.000 kelahiran menurut American Academy of Ophthalmology pada 2025.

2. Glaukoma memiliki beberapa jenis dengan karakteristik berbeda

ilustrasi penyebab glaukoma (unsplash.com/Adrian Swancar)
ilustrasi gangguan pada mata. (unsplash.com/Adrian Swancar)

Glaukoma bukan merupakan satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe glaukoma dengan karakteristik dan mekanisme yang berbeda.

Jenis yang paling umum adalah glaukoma primer sudut terbuka atau Primary Open-Angle Glaucoma. Penyakit ini berkembang secara perlahan dan sering tanpa gejala. Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga mencapai stadium lanjut.

Selain itu terdapat glaukoma primer sudut tertutup atau Angle-Closure Glaucoma. Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera.

Jenis lainnya adalah glaukoma kongenital yang terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata. Sementara itu, glaukoma sekunder dapat terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu. Memahami berbagai jenis glaukoma tersebut penting karena pendekatan pemeriksaan dan terapinya dapat berbeda pada setiap pasien.

3. Deteksi dini hingga operasi menjadi langkah penting mencegah kebutaan

Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC ORBITA @ Makassar menggelar kegiatan edukasi, skrining pemeriksaan mata, serta seminar dan webinar kesehatan mata bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. (Dok. IDN Times)
Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC ORBITA @ Makassar menggelar kegiatan edukasi, skrining pemeriksaan mata, serta seminar dan webinar kesehatan mata bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. (Dok. IDN Times)

Dokter mata di JEC ORBITA @ Makassar, Mirella Afifudin menjelaskan bahwa kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga pencegahan melalui deteksi dini menjadi sangat penting. Menurutnya, banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit akibat kerusakan saraf optik yang berlangsung lama.

“Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” jelas Mirella.

Diagnosis glaukoma umumnya dilakukan melalui sejumlah pemeriksaan mata, antara lain pengukuran tekanan bola mata atau tonometri, pemeriksaan struktur saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang atau visual field test, serta pemeriksaan sudut drainase mata menggunakan gonioskopi.

Kombinasi berbagai pemeriksaan tersebut membantu dokter mendeteksi glaukoma sejak dini, memantau perkembangan penyakit, serta menentukan penanganan yang tepat untuk mengontrol tekanan bola mata dan mencegah kerusakan saraf optik lebih lanjut.

Pendekatan terapi glaukoma dapat dilakukan melalui beberapa metode. Terapi awal yang paling umum adalah penggunaan obat tetes mata untuk menurunkan tekanan bola mata dengan cara mengurangi produksi cairan mata atau meningkatkan aliran keluar cairan tersebut.

Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat oral untuk membantu menurunkan tekanan bola mata secara lebih cepat, terutama pada kasus dengan tekanan mata yang sangat tinggi atau sebagai persiapan sebelum tindakan lanjutan.

Selain obat-obatan, terapi laser juga menjadi salah satu pilihan penanganan yang efektif dan minimal invasif. Salah satunya adalah prosedur Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) yang membantu meningkatkan aliran keluar cairan mata melalui jaringan trabekular sehingga tekanan bola mata menurun.

Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar lima hingga sepuluh menit, tidak memerlukan sayatan, dan pasien umumnya dapat kembali beraktivitas setelah tindakan.

Pada kasus glaukoma sudut tertutup, dokter juga dapat melakukan Laser Peripheral Iridotomy (LPI) untuk membuat jalur kecil pada iris guna memperlancar aliran cairan mata dan mencegah peningkatan tekanan bola mata secara mendadak.

Apabila tekanan bola mata tidak dapat dikontrol secara optimal dengan obat maupun terapi laser, tindakan operasi dapat dilakukan. Beberapa prosedur yang dapat dilakukan antara lain trabeculectomy, pemasangan Glaucoma Drainage Device atau tube implant, serta Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS) yang menggunakan sayatan minimal dengan masa pemulihan yang lebih cepat.

Dalam beberapa kasus tertentu, operasi katarak juga dapat membantu memperbaiki struktur sudut bilik mata sehingga aliran cairan mata menjadi lebih lancar dan tekanan bola mata dapat menurun.

4. Edukasi dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026

Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC ORBITA @ Makassar menggelar kegiatan edukasi, skrining pemeriksaan mata, serta seminar dan webinar kesehatan mata bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. (Dok. IDN Times)
Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC ORBITA @ Makassar menggelar kegiatan edukasi, skrining pemeriksaan mata, serta seminar dan webinar kesehatan mata bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. (Dok. IDN Times)

Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC ORBITA @ Makassar juga mengadakan berbagai kegiatan edukasi serta pemeriksaan mata bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut meliputi publikasi video edukasi tentang glaukoma yang disebarkan melalui kanal komunikasi JEC ORBITA @ Makassar pada 11 Maret 2026. Selain itu, juga akan digelar seminar publik pada 14 Maret 2026 untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya glaukoma serta langkah pencegahan melalui deteksi dini.

Kegiatan edukasi lainnya berupa talkshow radio yang bertujuan memperluas jangkauan informasi mengenai kesehatan mata kepada masyarakat luas.

“Melalui rangkaian kegiatan ini, JEC ORBITA @ Makassar berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mata serta melakukan pemeriksaan secara rutin guna mencegah kebutaan akibat glaukoma,” kata Mirella.

JEC Group sendiri telah menjangkau masyarakat Indonesia selama lebih dari 42 tahun untuk memudahkan akses layanan kesehatan mata berkualitas. Saat ini terdapat 15 cabang JEC Group yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan sejumlah daerah di luar Jabodetabek.

Sebagai bagian dari pengembangan layanan berstandar internasional, JEC juga tengah membangun fasilitas baru yaitu JEC BALI @ Sanur yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur.

Fasilitas ini mengusung konsep Blue Hospital, yaitu rumah sakit dengan desain yang mendukung proses penyembuhan, penggunaan teknologi medis modern, serta sistem bangunan yang efisien dan berkelanjutan.

Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem layanan kesehatan mata sekaligus mendukung pengembangan wisata kesehatan di Indonesia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More