Perempuan Rentan jadi Sasaran Politik Uang di Pilkada 2024

- Politik uang kembali mencuat di masa Pilkada 2024, dengan perempuan menjadi kelompok rentan yang terpengaruh.
- Tawaran politik uang memanfaatkan kerentanan ekonomi perempuan yang semakin meningkat di tengah biaya hidup yang tinggi.
- Perubahan positif mulai terlihat, banyak pemilih perempuan menolak tawaran uang dan pentingnya mencegah politik uang dimulai dari diri sendiri.
Makassar, IDN Times - Isu politik uang (money politics) kembali mencuat di masa Pilkada 2024. Perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling terpengaruh dan rentan jadi sasaran politik uang.
Ketua Yayasan Swadaya Mitra Bangsa (Yasmib) Sulawesi, Rosniaty Azis, menilai fenomena ini sebagai tantangan. Terlebih, politik uang sudah sangat merajalela di Indonesia.
"Money politic itu kan sebenarnya akumulasi dari praktik-praktik yang terjadi sebelumnya," kata Rosniaty usai konferensi pers Organisasi Perempuan di Tiga Nol Cafe, Makassar, Senin (4/11/2024).
1. Memanfaatkan kerentanan ekonomi

Menurut Rosniaty, tawaran politik uang memanfaatkan kerentanan ekonomi perempuan yang semakin meningkat di tengah biaya hidup yang tinggi. Kondisi ini membuat banyak perempuan merasa mau tidak mau memilih berdasarkan imbalan finansial daripada berdasarkan program dan visi calon.
Rosniaty menilai calon kepala daerah kerap kali mengeksploitasi isu kemiskinan. Mereka tahu betul apa kebutuhan rakyat sehingga memanfaatkannya untuk meraup suara.
"Mereka tahu bahwa rakyat, apalagi perempuan, dihadapkan dengan biaya hidup, biaya keluarga yang semakin tinggi. Itu yang dilihat oleh calon," kata Rosniaty.
2. Perubahan positif ketika masyarakat tolak politik uang

Namun, meskipun menghadapi tantangan, Rosniaty juga melihat adanya perubahan positif. Dalam beberapa pertemuan dengan pemilih perempuan, dia menemukan bahwa banyak dari mereka mulai menolak tawaran uang.
Saat itu, dia bertemu dengan pemilih di salah satu desa yang baru saja mengikuti kampanye paslon Pilgub. Warga desa menyatakan akan menolak jika paslon lainnya datang dan memberikan tawaran uang.
"Saya tanya bagaimana kalau ada paslon lain yang akan memberikan uang. Mereka jawab, kalau misalnya dikasih uang kami tetap tidak mau pilih dia karena waktu dia memimpin tidak ada pembangunan di desanya," kata Rosniaty.
3. Cegah politik uang dimulai dari diri sendiri

Rosniaty menekankan pentingnya bahwa mencegah politik uang harus dimulai dari sendiri. Menurutnya, sudah saatnya pemilih mulai berpikir cerdas.
"Karena kalau bukan dari kita sebagai pemilih yang mulai mengatakan money politic, saya rasa sekarang calon ini akan semakin liar," kata Rosniaty.
Dia juga menyerukan agar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) lebih aktif dalam menangani praktik politik uang yang menargetkan perempuan. Seharusnya, kata dia, Bawaslu semakin ketat dalam mengawasi.
"Ketika ada transaksi itu, ketika Anda (Bawaslu) mendengar ada dugaan (politik uang), harus segera turun," kata Rosniaty



















