NTP Sulsel Maret 2026 Turun ke 115,49, Daya Beli Petani Melemah

- BPS Sulsel mencatat NTP Maret 2026 turun ke 115,49 atau melemah 1,17 persen dari bulan sebelumnya, menandakan daya beli petani menurun akibat ketidakseimbangan harga produksi dan pengeluaran.
- Penurunan NTP dipicu turunnya harga hasil panen terutama di subsektor perkebunan rakyat hingga 7,91 persen, sementara biaya konsumsi dan produksi seperti bibit serta upah buruh justru meningkat.
- Dari lima subsektor pertanian, dua mengalami penurunan yaitu tanaman pangan dan perkebunan rakyat, sedangkan hortikultura, peternakan, dan perikanan masih tumbuh positif dengan kenaikan harga komoditas tertentu.
Makassar, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 sebesar 115,49. Angka ini turun 1,17 persen dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 116,86.
Penurunan ini mengindikasikan melemahnya daya beli petani, karena kenaikan harga barang yang dibayar petani tidak diimbangi oleh harga hasil produksi yang mereka terima. Selain itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga ikut turun 0,93 persen menjadi 121,69.
1. Harga hasil panen turun, biaya hidup dan produksi naik

Turunnya NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) justru mengalami penurunan sebesar 0,78 persen, dari 144,67 menjadi 143,54. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,39 persen, dari 123,80 menjadi 124,28.
Kenaikan Ib dipicu oleh meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga sebesar 0,50 persen, terutama pada komponen makanan, minuman, dan tembakau yang naik 0,63 persen. Selain itu, biaya produksi pertanian juga meningkat, termasuk bibit yang naik 0,79 persen serta upah buruh yang naik 0,24 persen.
Di sisi lain, penurunan It terutama disebabkan oleh anjloknya harga pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun hingga 7,91 persen. Kondisi ini membuat pendapatan petani dari hasil produksi mengalami tekanan.
2. Hortikultura melonjak, perkebunan rakyat justru anjlok

Secara subsektor, NTP hortikultura menjadi yang tertinggi dengan angka 128,55 dan mengalami kenaikan signifikan sebesar 11,15 persen. Kenaikan ini didorong oleh melonjaknya harga sayur-sayuran hingga 12,30 persen serta buah-buahan 3,74 persen.
Subsektor lain yang juga mengalami kenaikan NTP adalah peternakan sebesar 2,43 persen menjadi 113,04, serta perikanan yang naik 0,86 persen menjadi 120,62. Kenaikan ini mencerminkan perbaikan harga pada komoditas ternak dan hasil perikanan.
Sebaliknya, subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan terdalam dengan NTP turun 8,30 persen menjadi 123,38. Sementara itu, subsektor tanaman pangan juga turun tipis 0,17 persen menjadi 111,69.
3. Dua subsektor turun, tiga lainnya masih tumbuh

Secara umum, dari lima subsektor pertanian di Sulawesi Selatan, dua subsektor mengalami penurunan NTP pada Maret 2026. Keduanya adalah tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat.
Sementara itu, tiga subsektor lainnya masih menunjukkan kinerja positif, yakni hortikultura, peternakan, dan perikanan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap daya beli petani tidak merata, melainkan sangat bergantung pada jenis komoditas yang diusahakan.
Meski masih berada di atas angka 100 yang berarti secara umum petani masih memperoleh surplus, tren penurunan NTP ini menjadi sinyal perlunya perhatian terhadap stabilitas harga hasil pertanian dan biaya produksi di tingkat petani.



















