Menilik Potensi Wisata Sejarah di Sulawesi Selatan

Makassar, IDN Times - Suasana sejuk dan tenang langsung menyapa ketika memasuki area gedung tua yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman NO 23, Kota Makassar. Tak salah lagi, dialah Gedung Mulo (Meer Uitgebrei Onderwijs).
Suasana itu bisa jadi berbeda dengan suasana 96 tahun lalu ketika gedung peninggalan era kolonial Hindia-Belanda itu dimanfaatkan sebagai sekolah. Bangunan yang dibangun tahun 1927 itu kini dimanfaatkan sebagai kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan.
Suasana serupa juga tidak hanya terjadi pada Gedung Mulo saja. Suasana seperti ini, juga lumrah terlihat pada bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Sulsel. Sebut saja Benteng Rotterdam, Museum Kota Makassar, Societeit de Harmmonie (Gedung Kesenian) hingga Benteng Rotterdam di Kabupaten Gowa.
Dari bangunan-bangunan itu, Gedung Mulo setidaknya lebih ramai karena ada aktivitas perkantoran. Sesekali, Disbudpar juga menggelar kegiatan Mulofest dengan tujuan mengenalkan gedung cagar budaya ini kepada masyarakat umum.
"Itu salah satu kegiatan di sini ada pameran UMKM lalu FGD, sosialisasi, ada panggung musik dengan latar belakang Gedung Mulo supaya masyarakat generasi yang berikutnya tahu itu bahwa ini gedung-geedung bersejarah," kata Kepala Bidang Pengemabangan Destinasi dan Industri Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Patarai A Burhan, Senin (27/2/2023).
1. Tak sepopuler wisata lain

Ragam budaya yang melimpah menjadikan Sulsel memiliki banyak peninggalan historis. Bangunan-bangunan bersejarah itu menjadi bukti masa kejayaan di Sulsel, khususnya Kota Makassar yang tersohor dengan Kerajaan Gowa-Tallo.
Bangunan-bangunan tua itu sejatinya merupakan bangunan peninggalan era kolonial Hindia-Belanda yang dimanfaaatkan sebagai tempat wisata sejarah. Hanya saja, tempat wisata sejarah itu tampaknya kurang diminati oleh masyarakat, terkhusus anak muda yang masuk kelompok Gen Z.
Hal ini juga diakui oleh Patarai bahwa tak sedikit anak muda yang menganggap bangunan bersejarah merupakan tempat membosankan. Tak seperti tempat wisata lain yang menyenangkan. Karena itu, Disbudpar harus putar otak agar anak muda mau datang ke tempat bersejarah.
"Kita melakukan promosi, lalu melakukan pembinaan dengan kegiatan-kegiatan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Kemudian, promosi di media sosial," katanya.
Kebanyakan bangunan tua memang baru ramai didatangi warga ketika ada kegiatan seperti konser, pameran, maupun festival kulliner. Tanpa itu semua, bangunan-bangunan tua itu kerap sepi.
2. Menjaga eksistensi bangunan bersejarah

Patarai mengaku pihaknya terus berupaya mempromosikan wisata sejarah. Perihal bangunanya secara fisik, itu merupakan kewenangan Balai Cagar Budaya. Namanya cagar budaya, tak bisa dipoles sesuka hati.
"Untuk mengubah catnya saja itu harus izin ke kementerian. Ataspnya harus standar dan anggarannya pasti besar," kata Patarai.
Kendati demikian, dia mengaku bangunan-bangunan bersejarah di Sulsel tetap eksis terlepas banyak pengunjung atau atau tidak. Namun tak dapat dipungkiri bahwa bangunan tua yang tidak terawat suatu saat akan terancam rusak.
"Pastilah terancam tapi kita harus punya upaya untuk tetap bertahan bagi generasi muda. Peninggalan sejarah ini adalah bagian dari pengalaman manusia masa lalu untuk sebagai cerminan," katanya.
3. Bangunan bersejarah simbol kejayaan masa lalu

Dari sisi historis, bangunan-bangunan bersejarah peninggalan era kolonial itu menunjukkan kejayaan Kota Makassar di masa lampau. Pemerhati Sejarah, Subarman Salim, menuturkan Kota Makassar merupakan sebuah kota kosmopolitan di zaman Kerajaan Gowa-Tallo.
Kota Makassar di era kolonial Hindia-Belanda merupakan tujuan bagi para pedagang Eropa. Dalam catatan sejarah, kota berjuluk Kota Daeng ini pernah menjadi kiblat bagi mereka yang hendak mencari produk terbaru.
"Mereka cukup ke Makassar, mereka sudah dapatkan apa yang ingin didapatkan . Harusnya ini menjadi titik tolak bagi siapa pun terutama pemerintah setempat bagaimana mengembalikan kejayaan Makassar yang sebetulnya bisa dari segi kosmopolitannya penduduk Kota Makassar," kata Subarman.
Eksistensi bangunan-bagunan bersejarah di Kota Makassar memang tidak pudar. Hanya saja, tidak cukup bersinar di tengah pembangunan gedung-gedung modern.
Menurut Subarman, harus ada perhatian khusus terhadap keberlangsungan bangunan-bangunan bersejarah. Karena jika tidak dilestarikan maka bukan tidak mungkin bangunan-bangunan bersejarah kehilangan eksistensinya.
"Mungkin hari ini belum terlihat dampaknya tapi 10 tahun bahkan mungkin seabad kemudian identitas itu perlahan akan hilang dengan mungkin hadirnya kota baru yang sama sekali menghilangkan ciri khas kota kosmopolitan itu," katanya.



















