Cerita Rintik Sedu Angkat Kisah Backburner yang Dekat dengan Anak Muda

- Nadhifa Allya Tsana atau Rintik Sedu memperkenalkan novel terbarunya berjudul 'Musim yang Tak Sempat Kita Miliki' dalam tur buku di Makassar, mengangkat tema backburner yang dekat dengan anak muda.
- Cerita novel ini menggambarkan pergulatan emosi seperti kehilangan dan hubungan yang belum selesai, mengajak pembaca untuk menemukan refleksi diri melalui kisah yang personal dan hangat.
- Proses penulisan berlangsung sekitar satu setengah tahun dengan riset mendalam pada industri parfum dan dunia penerbitan agar cerita terasa autentik dan detail.
Makassar, IDN Times - Suasana hangat terasa di Gramedia Pettarani saat penulis Nadhifa Allya Tsana menyapa para pembaca. Penulis yang dikenal dengan nama pena Rintik Sedu itu hadir dalam rangkaian tur buku terbarunya, Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, Minggu (19/4/2026).
Dalam sesi berbincang, Tsana menyampaikan bahwa buku terbarunya ini mengangkat tema yang terasa dekat dengan kehidupan anak muda, yakni konsep backburner atau hubungan yang belum benar-benar selesai namun masih tersimpan di belakang. Fenomena ini, menurutnya, kerap menjadi perbincangan hangat di generasinya.
"Jadi di buku ini aku kebetulan berbagi tentang backburner karena di generasi aku, di sekitar aku tuh sangat hangat pembicaraannya tentang backburner," kata Tsana.
1. Angkat cerita yang dekat dengan pengalaman anak muda

Cerita dalam novel tersebut dibangun dengan pendekatan yang personal dan reflektif. Pembaca diajak masuk ke dalam pengalaman kehilangan, hubungan yang menggantung, hingga proses berdamai dengan masa lalu.
Tsana menyebut kisah yang ditulis diharapkan dapat membuat pembaca menemukan bagian dirinya sendiri. Cerita tersebut dihadirkan agar pembaca bisa melihat refleksi pengalaman mereka di dalam alur yang disusun.
"Jadi aku pengen membahas sesuatu yang dekat sama teman-teman di Makassar juga. Jadi ceritanya dekat dan bisa menemukan bagian dirinya di dalam buku aku," kata Tsana.
2. Angkat pergulatan emosi dan proses berdamai

Narasi yang dihadirkan juga menyentuh pergulatan emosi yang sering kali sulit diungkapkan. Perasaan yang tertahan, keraguan, hingga kenangan yang belum selesai menjadi benang merah dalam cerita sehingga merepresentasikan realitas emosional yang kerap dialami anak muda.
Selain tema, Tsana juga membagikan proses kreatif di balik penulisan novel tersebut yang memakan waktu cukup panjang. Dari tahap pengembangan ide hingga akhirnya terbit, seluruh proses berjalan sekitar satu setengah tahun.
"Dari aku mendapatkan ide, lalu rangkai-rangkai cerita, riset, sampai benar-benar terbit, itu mungkin satu setengah tahun, ya," ungkap Tsana.
3. Libatkan riset untuk perkuat cerita

Proses tersebut tidak hanya berhenti pada penulisan, tetapi juga melibatkan riset mendalam agar cerita terasa kuat dan meyakinkan. Pendekatan ini membuat novel yang dihasilkan tidak sekadar lahir dari imajinasi spontan, tetapi melalui penggalian detail yang matang.
Tsana juga mengungkapkan riset yang digarap cukup spesifik karena menghadirkan dua latar dunia sekaligus, yakni industri parfum dan lingkungan kerja editor di penerbitan. Hal ini mendorongnya turun langsung untuk memahami detail kedua bidang tersebut.
"Karena aku bawa dua industri di dalam buku ini, ada parfum, ada editor buku gitu, kantor penerbitan, jadi aku banyak banget riset ke kantor parfum, ke penerbitan aku supaya lebih parfum dan lebih editor banget ketika dibaca," jelas Tsana.


















