Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Memprihatinkan! Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Makassar Meningkat

Memprihatinkan! Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Makassar Meningkat
Kepala UPTD PPA Dinas PPPA Kota Makassar Muslimin Hasbullah didampingi timnya. IDN Times/ Faisal Mustafa
Intinya Sih
  • DP3A Makassar mencatat 141 kasus kekerasan anak, dengan kekerasan seksual sebagai peringkat pertama dan kekerasan fisik sebagai peringkat kedua.
  • Kasus kekerasan seksual didominasi oleh ancaman dan iming-iming dari orang terdekat korban, seperti teman dekat, guru, dan kerabatnya.
  • Pemulihan anak yang mengalami kekerasan butuh waktu lama, sehingga penting untuk adanya upaya bersama dalam membentuk forum anak di tiap kelurahan untuk mencegah tindakan kekerasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Tren kasus kekerasan terhadap anak di Kota Makassar perlu menjadi perhatian bersama. Hal itu diungkapkan Kepala Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Muslimin Hasbullah.

Menurut Muslimin, selain orang tua peran penting dari masyarakat untuk memantau, menegur, dan mengedukasi terhadap anak-anak yang melakukan tindakan kekerasan baik verbal maupun fisik.

“Rasa kepedulian itu sudah mulai terkikis. Apalagi kita yang tinggal di kota besar. masyarakat seperti acuh tak acuh lagi melihat tingkah laku lain anak-anak kita,” kata Muslimin kepada IDN Times, Kamis (20/06/2024).

1. DP3A Makassar tangani 141 kasus kekerasan anak sepanjang 2024

Ilustrasi KDRT (pexels.com/MART Production)
Ilustrasi KDRT (pexels.com/MART Production)

UPTD PPA DP3A Makassar mencatat sebanyak 141 kasus kekerasan terhadap anak. Peringkat pertama yakni terkait kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban sebanyak 68 anak dan ranking kedua yakni kasus kekerasan fisik.

Muslimin mengatakan, rerata modus kekerasan seksual yang terjadi didominasi oleh ancaman dan iming-iming dari orang terdekat korban. “Paling sering dilakukan oleh teman dekat, guru, sampai kerabatnya,” ucapnya.

2. Butuh dukungan untuk memulihkan kembali para korban

ilustrasi support system (pexels.com/Alena Darmel)
ilustrasi support system (pexels.com/Alena Darmel)

Dia mengatakan, pemulihan anak yang mengalami kekerasan butuh waktu lama. Olehnya itu, penting untuk ada upaya bersama. “Kami sendiri telah membentuk forum anak di tiap kelurahan. Sebagai wadah anak-anak ini bisa menjadi agen pelopor dan pelapor kasus kekerasan seksual,” ujar Muslimin.

Di tempat itu, anak-anak dibekali edukasi dini mencegah kekerasan seksual. “Anak juga dipromotori untuk mengampanyekan anti kekerasan agar mereka bisa buka suara jika melihat ada tindakan kekerasan di lingkungan baik di sekolah maupun rumahnya,” ucapnya.

3. Dorong pengasuhan yang baik

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Kampus Production)
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Kampus Production)

Saat ini, kata Muslimin, pihaknya terus mendorong adanya upaya edukasi bagi orang tua dan anak-anak tentang bagaimana pola pengasuhan yang baik. “Orang tua sekarang itu harus pintar. Karena anak-anak sudah bisa mengakses informasi jadi banyak tempat belajarnya.

“Kita harus menghadirkan rasa aman dan nyaman dulu bagi anak-anak kita di rumah, di sekolah, dan tempat lingkungan sosialnya,” pungkas Muslimin.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More