Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Krisis Listrik dan Air Bersih, Beban Perempuan Kian Berlipat

Kota Makassar
4 min read
Krisis Listrik dan Air Bersih, Beban Perempuan Kian Berlipat
Anggi Ria Awalia, Ketua BEK Solidaritas Perempuan Anging Mammiri, menyoroti beban domestik perempuan yang semakin berlipat akibat krisis listrik dan keterbatasan air bersih dalam diskusi di Makassar, Jumat (30/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Pemadaman listrik memperberat pekerjaan domestik perempuan, dari menjaga makanan, mendampingi anak belajar, hingga merawat anggota keluarga sakit, terutama saat peralatan listrik tidak dapat digunakan.
  • Keterbatasan air bersih di pesisir Makassar memaksa sebagian perempuan membeli air untuk kebutuhan rumah tangga, menambah pengeluaran dan mendorong sebagian mencari penghasilan tambahan.
  • Anggi Ria Awalia menilai transisi energi dan kebijakan iklim harus berperspektif keadilan gender, dengan melibatkan perempuan secara bermakna dalam keputusan komunitas hingga pemerintah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Pemadaman listrik bukan sekadar membuat rumah gelap. Bagi perempuan yang memikul sebagian besar pekerjaan domestik, listrik yang terhenti bisa berarti urusan rumah tangga ikut terganggu. Makanan harus segera diolah sebelum basi, anak-anak tetap perlu didampingi belajar, sementara anggota keluarga yang sakit membutuhkan perawatan.

Situasi itu menjadi lebih berat ketika pemadaman terjadi bersamaan dengan keterbatasan air bersih. Kebutuhan untuk memasak, membersihkan rumah, hingga merawat anggota keluarga tetap harus dipenuhi. Namun, ketika air sulit diperoleh, perempuan harus mencari cara lain, termasuk mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air.

Ketua Badan Eksekutif Komunitas (BEK) Solidaritas Perempuan Anging Mammiri, Anggi Ria Awalia, mengatakan krisis iklim dan energi tidak hanya berdampak pada lingkungan dan ketersediaan sumber daya. Kondisi tersebut juga menambah beban perempuan, terutama karena mereka masih kerap dibebani tanggung jawab domestik dan perawatan keluarga

Hal itu disampaikan Anggi dalam diskusi bertajuk Satu Dekade Perjanjian Paris: Menguji Komitmen Iklim Indonesia di Tengah Karhutla dan Krisis Energi di Kafe Nol Tiga, Makassar, Jumat (30/10/2026).

  1. 1. Satu kali pemadaman bisa memunculkan banyak persoalan

    Ilustrasi mati lampu (IDN Times/Hendra Simanjuntak)
    Ilustrasi mati lampu (IDN Times/Hendra Simanjuntak)

    Menurut Anggi, dampak pemadaman listrik terhadap perempuan tidak berhenti pada terganggunya penerangan. Perempuan juga harus memikirkan cara menjaga persediaan makanan, mendampingi anak belajar, serta memastikan kebutuhan anggota keluarga tetap terpenuhi.

    Kondisi tersebut semakin sulit bagi rumah tangga yang tidak memiliki lemari pendingin. Mereka juga harus mencari cara agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan ketika peralatan listrik tidak bisa digunakan.

    "Beban-beban domestik itu dilekatkan ke perempuan, sehingga perempuan yang harus memikirkan semua itu. Satu persoalan dari pemadaman listrik, itu bisa menghasilkan ada 10 persoalan yang harus dihadapi oleh perempuan," kata Anggi.

    Beban itu juga berkaitan dengan pekerjaan perawatan yang sering kali tidak terlihat. Ketika ada anggota keluarga yang jatuh sakit akibat kondisi lingkungan atau paparan asap, perempuan kerap menjadi pihak yang mengambil tanggung jawab untuk merawatnya.

    "Siapa yang dibebankan untuk merawat anggota keluarga ketika sakit? Perempuannya yang harus kemudian menjalankan peran-perawatan itu," katanya.

  2. 2. Perempuan harus merogoh kocek untuk memenuhi kebutuhan air

    IMG_20260424_175419.jpg
    Warga mengantre mengambil air dari sumur bor di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, Sabtu (25/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Persoalan lain yang disoroti Anggi adalah keterbatasan air bersih, khususnya di wilayah pesisir Makassar. Air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda, mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga memenuhi kebutuhan pribadi perempuan.

    Ketika persediaan air terbatas, perempuan harus mencari sumber air lain. Sebagian bahkan terpaksa membeli air agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.

    "Karena ternyata untuk bisa masak, mereka harus beli air. Air bersih sangat sangat apa sangat terbatas di wilayah pesisir. Nah, ini kelangkaan air bersih juga sebenarnya menambah biaya pengeluaran untuk rumah tangga," tutur Anggi.

    Pengeluaran tambahan tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi keluarga dengan pendapatan terbatas. Kebutuhan air yang semestinya bisa dipenuhi dari akses layanan dasar justru harus dibayar menggunakan anggaran rumah tangga.

    Anggi menyebut ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran membuat perempuan harus mencari sumber pendapatan tambahan. Sebagian di antaranya bahkan terpaksa beralih profesi menjadi buruh demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

    "Akhirnya pemasukan dan pengeluaran yang tidak seimbang itu membuat perempuan, bahkan banyak perempuan yang terpaksa harus beralih profesi menjadi buruh," katanya.

  3. 3. Transisi energi perlu memperhitungkan pengalaman perempuan

    ilustrasi energi (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi energi (IDN Times/Aditya Pratama)

    Anggi menilai persoalan listrik, air bersih, dan krisis iklim perlu dilihat sebagai persoalan keadilan gender. Sebab, dampaknya tidak dirasakan secara sama oleh setiap orang. Perempuan menghadapi konsekuensi berlapis karena masih kuatnya pembagian kerja domestik dan tanggung jawab pengasuhan dalam rumah tangga.

    Dia juga mengkritik pelaksanaan transisi energi yang menurutnya belum tentu otomatis menghadirkan keadilan bagi masyarakat. Menurut Anggi, pembangunan sektor energi perlu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, ruang hidup, sumber penghidupan, serta kelompok yang selama ini menanggung beban paling besar.

    "Transisi energi tidak selalu kemudian adil dan bersih. Ini kami melihat karena proyek-proyek energi yang ada di Sulawesi Selatan, kemudian pembangunannya dengan pendekatan yang ekstraktif yang kemudian merugikan masyarakat, termasuk perempuan di dalamnya," katanya.

    Karena itu, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan dinilai penting, mulai dari tingkat komunitas hingga kebijakan pemerintah. Partisipasi tersebut tidak cukup hanya bersifat formal, tetapi harus memberi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan kebutuhan dan pengalaman mereka.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More