Waspada, Ini Risiko Hujan Pertama setelah Kemarau dan Asap Kebakaran

- Dinas Kesehatan Makassar mengimbau masyarakat menghindari hujan pertama setelah kemarau, terutama anak-anak, lansia, dan warga dengan penyakit penyerta di tengah paparan asap kebakaran.
- Hujan pertama dapat membawa turun partikel PM2,5 dari udara; partikel halus ini berisiko masuk ke saluran pernapasan, paru-paru, hingga sebagian ke aliran darah.
- Paparan polusi dapat memicu iritasi, memperburuk asma, serta berdampak pada pembuluh darah dan risiko stroke, khususnya bagi orang dengan hipertensi atau gangguan pernapasan.
Makassar, IDN Times - Hujan yang mulai turun setelah periode kemarau panjang membawa tentu kesejukan bagi masyarakat. Namun, di tengah kondisi udara yang terpapar asap kebakaran hutan dan lahan, masyarakat diimbau tetap berhati-hati, terutama saat hujan pertama turun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Andi Mariani, mengimbau masyarakat untuk menghindari paparan langsung hujan pertama. Imbauan ini terutama ditujukan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit penyerta.
"Jadi kalau ada hujan pertama, sebaiknya jangan dulu kena hujan itu. Anak-anak, orang-orang lansia, golongan rentan yang sudah ada penyakit sebelumnya mungkin diupayakan untuk tidak terkena dulu," kata Andi Mariani, Kamis (29/10/2026).
1. Waspadai paparan partikel polusi udara

Ilustrasi Polusi Udara. (IDN Times/Anjani Asra) Mariani menjelaskan salah satu hal yang perlu diwaspadai di tengah kondisi kabut asap adalah keberadaan partikel halus PM2,5 di udara. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.
"Di angka PM2.5 itu kan pasti banyak partikel yang ada di udara. Sehingga kalau ada hujan, partikel itu kan langsung akan turun. Itu pasti akan memengaruhi juga pada saat kita bernapas," katanya.
PM2,5 merupakan partikel polusi udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat masuk ke aliran darah. Paparan PM2,5 dapat memicu iritasi saluran pernapasan, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
2. Dampak polusi bisa memengaruhi pernapasan dan jantung

ilustrasi anak mengalami ISPA atau pilek (pexels.com/Ron Lach) Menurut Mariani, masyarakat perlu memahami bahwa paparan partikel polusi bukan hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan. Paparan polusi udara dalam kadar tinggi maupun dalam jangka panjang juga dapat berdampak pada sistem kardiovaskular.
"Kalau sudah terakumulasi dalam tubuh, itu akan berdampak. Dampak yang tidak kita harapkan itu sebetulnya pada pembuluh darah. Pembuluh darah bisa, misalnya, yang timbul di situ bisa stroke, kalau sudah ada hipertensi, itu bisa semakin berat," jelasnya.
3. Jangan sampai mengabaikan risiko kesehatan

ilustrasi seseorang terkena ISPA (pexels.com/Polina Tankilevitch) Menurut Mariani, kehati-hatian diperlukan karena partikel polusi udara dapat memengaruhi kesehatan, terutama sistem pernapasan. Paparan asap kebakaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terlebih bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu.
Dia pun mengimbau masyarakat untuk tetap bijak menyikapi datangnya hujan setelah kemarau panjang. Dia mengingatkan agar kegembiraan menyambut hujan pertama tidak membuat masyarakat mengabaikan risiko kesehatan.
"Jadi kalau ada hujan pertama, jangan. Pasti kita senang kan hujan, tapi janganlah dulu mengakses hujan yang baru turun itu," katanya.


















