Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Gus Ipul Bujuk Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat yang Memilih Mundur

Kota Makassar
3 min read
Cerita Gus Ipul Bujuk Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat yang Memilih Mundur
Menteri Sosial Saifullah Yusuf pada peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)
  • Kemensos membujuk siswa dan orang tua yang mundur dari Sekolah Rakyat hingga tiga kali; jika tetap menolak, peserta akan diganti. Sejumlah siswa berhasil kembali, meski sebagian tetap keluar.

  • Penyelenggaraan Sekolah Rakyat masih melengkapi tenaga pendukung, seperti guru, wali asrama, keamanan, juru masak, dan kebersihan. Lebih dari 13 ribu SDM kini terlibat melalui seleksi terbuka dan dukungan internal.

  • Lebih dari 44 ribu siswa telah belajar di Sekolah Rakyat, sementara lebih dari seribu anak menjalani rehabilitasi. Kemensos akan mengevaluasi kurikulum, tata kelola, sarana, serta mendorong dukungan pemerintah daerah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan ada sejumlah siswa yang mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat. Kementerian Sosial (Kemensos) berupaya membujuk siswa dan orang tua hingga tiga kali sebelum memutuskan mengganti siswa tersebut dengan peserta lain.

Gus Ipul mengatakan, pendamping, guru, hingga kepala sekolah terlebih dahulu melakukan pendekatan agar siswa bersedia kembali mengikuti pembelajaran. Namun, jika siswa dan orang tua tetap menolak setelah tiga kali diyakinkan, pihaknya akan mencari pengganti.

“Kadang dia mengundurkan diri, kita yakinkan lagi sampai tiga kali. Kalau sampai tiga kali masih belum berkenan orang tuanya, anaknya enggak berkenan, ya tentu kita ganti dengan siswa yang lain,” kata Gus Ipul saat menghadiri peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026).

  1. 1. Sejumlah siswa bersedia kembali sekolah setelah mundur

    Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)
    Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)

    Gus Ipul mengatakan, pendekatan yang dilakukan Kemensos berhasil membuat sejumlah siswa kembali mengikuti pendidikan. Meski demikian, ada pula siswa yang tetap memilih mengundurkan diri.

    “Ada yang bisa masuk kembali, ada yang tidak mau kembali. Tapi itu jumlahnya tidak banyak dan ada memang di beberapa titik,” ujarnya.

    Menurutnya, pendekatan kepada siswa dan orang tua menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pendidikan di Sekolah Rakyat. Proses tersebut dilakukan sebelum Kemensos memutuskan mengganti siswa yang tidak bersedia melanjutkan pembelajaran.

  2. 2. Kemensos masih lengkapi kebutuhan SDM

    6ddbde9c-d3e3-42ca-a52e-9692b917933a.jpeg
    Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat memberikan arahan dalam kegiatan Dialog Orang Tua dan Siswa Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026). (dok. Kementerian Sosial)

    Selain persoalan siswa yang mengundurkan diri, Gus Ipul mengakui penyelenggaraan Sekolah Rakyat masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam pemenuhan sumber daya manusia (SDM).

    Kebutuhan tenaga pendukung yang masih dilengkapi secara bertahap meliputi wali asuh, wali asrama, guru, petugas keamanan, juru masak, hingga petugas kebersihan.

    “Ini yang terus kita cukupi supaya semuanya bisa bekerja dengan baik,” tuturnya.

    Gus Ipul menjelaskan, rekrutmen tenaga pendukung Sekolah Rakyat dilakukan melalui seleksi terbuka. Pada tahap awal, Kemensos juga memanfaatkan tenaga internal, termasuk pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan pilar-pilar sosial lainnya, untuk membantu penyelenggaraan program.

    Setelah tenaga hasil seleksi tersedia, personel yang sebelumnya diperbantukan akan kembali menjalankan tugas masing-masing. Saat ini, jumlah SDM yang terlibat dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat telah mencapai lebih dari 13 ribu orang, termasuk guru, wali asrama, dan wali asuh.

  3. 3. Lebih dari 44 ribu siswa ikuti sekolah rakyat

    Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)
    Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)

    Gus Ipul mengatakan, Sekolah Rakyat merupakan salah satu upaya pemerintah membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang belum pernah bersekolah atau terpaksa putus sekolah.

    Berdasarkan data Kemensos yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, lebih dari 44 ribu siswa telah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat. Sementara itu, lebih dari seribu anak lainnya masih menjalani rehabilitasi di sentra-sentra Kemensos sebelum bergabung dalam kegiatan belajar.

    Gus Ipul mencontohkan, ada anak yang sudah berada di jenjang kelas satu SMP atau SMA, tetapi belum bisa membaca. Bahkan, terdapat anak berusia 17 hingga 18 tahun yang belum pernah mengenyam pendidikan formal.

    Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga pemulihan dan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing anak.

    “Tidak semuanya kondisinya baik-baik dan itu memerlukan pendekatan yang penuh empati sehingga mereka bisa nyaman dan bersedia untuk ikut pembelajaran di Sekolah Rakyat,” katanya.

    Gus Ipul menegaskan, Kemensos akan terus mengevaluasi penyelenggaraan Sekolah Rakyat, mulai dari kurikulum, tata kelola, metode pembelajaran, hingga pemenuhan sarana dan prasarana. Pemerintah daerah juga didorong ikut mendukung keberlangsungan program melalui pendampingan sosial dan pemberdayaan keluarga siswa.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More