Kondisi Semrawut TPA Antang, Sampah Terus Menumpuk dan Overload

- TPA Antang di Makassar mengalami antrean panjang truk sampah akibat keterbatasan alat berat, dengan aktivitas 24 jam dan volume sampah mencapai 800–900 ton per hari.
- Pemerintah kota menambah lima unit alat berat sewaan untuk mempercepat bongkar muat, namun kebutuhan ideal mencapai 12 unit karena timbunan sampah sudah menutupi lebih dari 20 hektare lahan.
- Nasrun menilai solusi jangka panjang seperti industri pengolahan sampah PSEL sangat dibutuhkan, sementara TPA Antang diberi waktu 180 hari oleh KLHK untuk melakukan pembenahan menyeluruh.
Makassar, IDN Times - Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang di Kecamatan Manggala, Makassar, masih menghadapi berbagai persoalan serius. Antrean panjang truk sampah, keterbatasan alat berat, hingga volume sampah yang terus meningkat membuat kawasan ini makin terlihat semrawut.
Kepala UPT TPA Antang, Nasrun, mengungkapkan aktivitas di lokasi berlangsung tanpa henti selama 24 jam. Setiap hari, sekitar 500 unit truk sampah masuk ke area TPA dengan volume sampah mencapai 800 hingga 900 ton. Tingginya intensitas tersebut membuat proses bongkar muat kerap tersendat.
" Jujur, kadang truk antre panjang sampai macet karena keterbatasan alat berat. Kami cuma punya 5 unit yang biasa dioperasikan. Ada 8 tapi kadang macet lagi, rusak lagi," kata Nasrun saat ditemui di kantornya, Kamis (2/4/2026).
1. Keterbatasan alat berat picu antrean panjang

Menurut Nasrun, keterbatasan alat berat menjadi salah satu penyebab utama kondisi semrawut di lapangan. Alat yang digunakan harus bekerja siang dan malam tanpa henti sehingga rentan mengalami kerusakan dan memperlambat penanganan sampah.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah kota menambah 5 unit alat berat melalui skema sewa. Penambahan ini mulai membantu mempercepat proses bongkar muat dan mengurangi antrean truk di area TPA.
"Atas perintah Bapak Wali Kota dan pimpinan kami, Kepala Dinas DLH, telah melakukan penyewaan alat berat sebanyak 5 unit. Inilah memberikan kemudahan dan kelonggaran teman-teman sopir membongkar," katanya.
2. Volume sampah tinggi dan timbunan terus bertambah

Meski demikian, Nasrun menilai jumlah alat berat yang tersedia masih jauh dari ideal. Dengan volume sampah dan luas lahan yang ada, TPA Antang setidaknya membutuhkan sekitar 12 unit alat berat agar operasional bisa berjalan lebih optimal.
Di sisi lain, luas TPA yang telah tertimbun sampah kini telah mencapai lebih dari 20 hektare. Kondisi ini tentu belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan volume sampah harian. Tanpa penanganan yang lebih sistematis, timbunan sampah diperkirakan akan terus meningkat.
"Yakin saja akan bertambah tinggi apabila tidak ada perlakuan. Ini bukan lagi mendesak tapi sangat mendesak," katanya.
3. Butuh solusi jangka panjang dan diburu waktu pembenahan

Nasrun menegaskan persoalan sampah di Makassar tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperluas lahan atau menambah alat. Menurutnya, dibutuhkan solusi jangka panjang. Dia menilai Industri pengolahan sampah seperti Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dapat menjadi solusi untuk persampahan di Makassar.
"Apapun mekanisme yang kita lakukan, apabila tidak ada industri pengolahan sampah, persoalan sampah itu tidak akan selesai," katanya.
Saat ini, TPA Antang juga tengah menghadapi sanksi administrasi dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah kota diberi waktu sekitar 180 hari untuk membenahi secara menyeluruh. Jika tidak, maka TPA berisiko ditutup.
"Kami betul-betul diburu waktu untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini dikeluhkan warga," kata Nasrun.


















