Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Difabel di Makassar 25 Tahun Keliling Bangunkan Warga Sahur
Zainuddin (53), difabel di Makassar yang rutin bangunkan warga sahur sejak tahun 1998. (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Makassar, IDN Times - Alarm di handphone jadul Zainuddin berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 2.25 Wita. Di tengah hujan gerimis, Rabu, 12 April 2023, dia menyusuri lorong-lorong perkampungan di tengah kota Makassar.

Zainuddin, yang disapa Kacea, melangkah dituntun tongkat di tangannya, sebab penglihatannya terganggu alias buta. Di sisi tangannya yang lain terdapat pengeras suara yang dia gunakan berteriak.

"Sahur, sahur, sahur!," pekik Zainuddin yang terdengar hingga ke dalam rumah-rumah warga.

Selama bulan Ramadan, di waktu yang sama, Zainuddin punya jadwal keliling. Dia menyusuri tiap lorong di Jalan Irian, Barrang Lompo, dan Tarakan, di Kelurahan Mallimongan, Kecamatan Wajo. Zainuddin dikenal warga setempat sebagai relawan membangunkan sahur setiap bulan Ramadan. Aktivitasnya itu sudah dia lakoni sejak puluhan tahun silam di tengah keterbatasan fisik.

"Kepada warga segera bangun sahur. Kalau sudah buka matanya langsung segera jalan menuju meja makan untuk santap sahur. Ingat, saat hujan-hujan begini ini gampang terlelap," ucap Zainuddin dari pengeras suara.

1. Zainuddin bangunkan sahur sejak tahun 1998

Zainuddin (53), difabel yang bangunkan warga sahur sejak 1998. (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Langkah Kacea tertatih-tatih menyusuri setiap lorong atau gang sempit. Memang, jalan yang dilalui pria paruh baya umur 53 tahun itu diingatnya jelas. Namun sesekali Zainuddin menabrak tempat sampah atau kendaraan yang terparkir di jalanan.

Zainuddin mengaku sudah aktif membangunkan warga sahur sejak tahun 1998. Dia melakukannya tanpa berharap imbalan uang.

"Saya lakukan hal ini bukan semata-mata untuk meraup untung, tapi karena pahala bulan puasa. Memang ada warga yang kasih (uang), tapi saya tidak minta ya. Dan saya rasa itu ikhlas," kata Zainuddin.

Kedua mata Zainuddin mulai mengalami masalah di tahun 1991. Saat itu umurnya masih 25 tahun dan bekerja sebagai buruh bangunan. Kebutaan yang dia alami saat ini bermula saat pengerjakan proyek rumah besar di Malino, Kabupaten Gowa. Saat itu, serbuk semen dan cat masuk ke matanya, hingga membuat matanya jadi buta.

2. Awalnya bunyikan seng dan tongkat, kini gunakan TOA

Zainuddin (53), difabel yang bangunkan warga Makassar sejak 1993. (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Zainuddin menceritakan, awalnya dia membangunkan warga sahur dengan membunyikan alat-alat. Misalnya memukul potongan seng dengan tongkat sehingga menimbulkan suara berisik. Seiring waktu, dia beralih menggunakan pengeras suara TOA.

Pengeras suara itu didapatkan dari hasil patungan warga. Selain berteriak, dia juga biasanya membangunkan warga dengan mengetuk pagar dari rumah ke rumah.

"Saya pastikan itu orang di rumah bangun baru saya jalan. Biasa mereka itu bersuara bilang, 'sudah bangun, kacea!'," ucap Zainuddin.

3. Bangunkan sahur sambil mitigasi kebakaran

Ilustrasi Ramadan (IDN Times/Sukma Shakti)

Zainuddin mengatakan, sambil membangunkan warga sahur, dia juga biasanya sekalian mengingatkan mitigasi kebakaran. Selama ini, dia mengaku belum tersentuh bantuan dari pemerintah.

"Saya selalu itu kalau bangunkan orang sahur saya sampaikan, agar kalau sudah masak itu jangan lupa matikan kompor. Dan pastikan semua perangkat listrik berjalan sesuai yang dibutuhkan," ujar Zainuddin.

Sehari-hari, Zainuddin beraktivitas berdagang kurma. Lokasinya di depan Masjid Taqwa di wilayah Kecamatan Wajo. Barang jualannya berubah-ubah tergantung musim atau tren.

"Dagang kurma kalau pas ramadan. Kemarin jual latto-latto saat musim latto-latto. Saya juga jual payung kalau musim hujan kemarin awal tahun," katanya.

Editorial Team

Related Article