Kebutuhan Konsumsi Jemaah Haji Jadi Target Ekspor Ikan Baubau

- Presiden Prabowo menegaskan agar ekosistem haji dan umrah memberi dampak ekonomi nasional, dengan memanfaatkan kebutuhan konsumsi jemaah sebagai peluang penguatan produksi dan ekspor produk lokal.
- Menteri Haji dan Umrah meninjau pabrik pengolahan ikan di Baubau untuk memastikan kesiapan produk perikanan Indonesia memenuhi standar ekspor ke Arab Saudi bagi konsumsi jemaah haji dan umrah.
- Pemerintah menargetkan business matching serta ekspo internasional guna mempertemukan produsen Indonesia dengan mitra bisnis Arab Saudi, mendorong kerja sama konkret dan peningkatan kesejahteraan pelaku usaha daerah.
Baubau, IDN Times — Penyelenggaraan ibadah haji dan umrah tidak boleh hanya dipandang sebagai ritual ibadah tahunan semata. Triliunan rupiah yang berputar di ekosistem ini harus mampu memberikan multiplier effect (dampak berganda) bagi perekonomian nasional. Pesan tegas ini merupakan mandat langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Selama ini, kebutuhan makanan jemaah haji dan umrah menciptakan permintaan dalam jumlah besar. Peluang tersebut harus dimanfaatkan melalui penguatan produksi, standardisasi, sertifikasi, pengemasan, distribusi, dan pembukaan akses ekspor.
1. Ekosistem haji dan umrah diharapkan menopang ekonomi nasional

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, menyampaikan komitmen tersebut saat melakukan kunjungan kerja strategis ke Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, pada Sabtu (11/7/2026). Kunjungan ini secara spesifik bertujuan untuk menjajaki potensi produk perikanan laut dari kawasan Indonesia Timur agar bisa menyuplai kebutuhan konsumsi jutaan jemaah haji dan umrah Indonesia selama berada di Arab Saudi.
“Presiden Prabowo berpesan agar ekosistem haji dan umrah memberikan nilai tambah bagi ekosistem ekonomi nasional," ujar Menhaj Irfan Yusuf di sela-sela peninjauannya. "Penyelenggaraan haji harus ikut menumbuhkan potensi ekonomi di tengah masyarakat. Produk-produk Indonesia harus mampu menjawab kebutuhan jemaah haji dan umrah.”
2. Olahan ikan Baubau menuju pasar Saudi

Dalam kunjungannya di Kota Baubau, Menhaj didampingi oleh jajaran kementerian dan pemerintah daerah meninjau langsung operasional pabrik Unit Pengolahan Ikan CV Buton Indo Tuna. Di lokasi tersebut, Menteri memantau rantai proses dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, pengolahan fillet, teknologi pengemasan, hingga standar keamanan pangan untuk pasar ekspor.
Kapasitas logistik jemaah haji dan umrah yang sangat masif dipandang sebagai peluang emas bagi sektor perikanan domestik. Irfan Yusuf menekankan bahwa besarnya permintaan pangan jemaah ini jangan sampai hanya dinikmati oleh negara eksportir lain.
“Kita memiliki ikan dan berbagai produk olahan perikanan yang berkualitas," tegas Menhaj. "Kita ingin produk-produk tersebut masuk ke pasar Arab Saudi dan menjadi bagian dari rantai pasok konsumsi jemaah haji dan umrah Indonesia. Kebutuhan jemaah kita jangan seluruhnya dipenuhi oleh produk dari luar Indonesia.”
Namun, Menhaj juga memberikan catatan krusial. Agar produk lokal bisa bersaing di etalase Tanah Suci, para pelaku industri, nelayan, dan UMKM harus benar-benar menjamin konsistensi mutu, kontinuitas ketersediaan bahan baku, sertifikasi halal yang diakui global, dan pemenuhan regulasi ketat dari otoritas Kerajaan Arab Saudi.
3. Targetkan Business Matching dan eskspo skala besar

Menyadari bahwa urusan ekspor tidak bisa hanya berhenti pada tahap diskusi kunjungan kerja, Menhaj langsung menginstruksikan Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Prof. Dr. Jaenal Effendi, M.A., untuk mengeksekusi langkah konkret.
“Kita tidak ingin potensi ini berhenti pada kunjungan dan diskusi. Harus ada tindak lanjut yang konkret," instruksi Menhaj. Ia memerintahkan Dirjen Jaenal untuk segera memfasilitasi business matching yang mempertemukan produsen, eksportir, serta nelayan Indonesia dengan jaringan importir, distributor, dan pengusaha katering di Arab Saudi.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Dirjen Jaenal menyatakan kesiapannya untuk memetakan produk unggulan dari Indonesia Timur. Tak hanya olahan ikan, pemetaan ini akan mencakup perlengkapan ibadah, kebutuhan logistik, serta produk mamin (makanan dan minuman) UMKM yang siap ekspor.
“Kami akan menyiapkan business matching antara pengusaha Indonesia dengan importir serta pelaku usaha di Arab Saudi," ungkap Jaenal. "Targetnya adalah membentuk kerja sama business-to-business yang konkret.”
Sebagai panggung unjuk gigi yang lebih besar, Kemenhaj juga tengah merancang sebuah Ekspo Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah berskala internasional yang difokuskan di kawasan Indonesia Timur. Provinsi Sulawesi Selatan saat ini menjadi salah satu kandidat lokasi terkuat berkat infrastruktur transportasi dan jaringan perdagangan kawasannya yang sangat strategis.
Ekspo ini nantinya tidak hanya memamerkan produk, tetapi juga mengundang langsung para calon buyer, vendor katering, dan investor dari Arab Saudi agar mereka dapat melihat, menguji, dan menandatangani kontrak dagang dengan para produsen lokal secara langsung. Harapannya, seluruh langkah strategis ini tak hanya menyamankan perut jemaah di Tanah Suci, melainkan juga menyejahterakan dapur para nelayan dan pelaku usaha kecil di Tanah Air.











![[BREAKING] Bupati Gowa Dilaporkan Mantan Suaminya ke Polda Sulsel](https://image.idntimes.com/post/20260710/upload_cbb45968c51bf6ebbd18a6f271513e5d_6d939fe5-c99f-4bc3-9697-2130007b9cd3_watermarked_idntimes-2.jpeg)







