Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kabar Baik bagi Kesetaraan! Ketimpangan Gender di Sulsel Menurun Drastis

Kabar Baik bagi Kesetaraan! Ketimpangan Gender di Sulsel Menurun Drastis
ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (IDN Times/Nathan Manaloe)
Intinya Sih
Gini Kak
  • BPS Sulsel melaporkan Indeks Ketimpangan Gender 2025 turun ke 0,336, penurunan terbesar sejak 2018 dan menunjukkan kemajuan signifikan menuju kesetaraan gender di berbagai sektor.
  • Perbaikan kesehatan reproduksi perempuan terlihat dari meningkatnya persalinan di fasilitas medis serta menurunnya angka kelahiran dini, mencerminkan akses layanan kesehatan yang makin merata.
  • Partisipasi kerja dan keterwakilan perempuan di legislatif meningkat, dengan Luwu Timur mencatat progres terbaik sementara Toraja Utara mengalami kenaikan ketimpangan tertinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan baru saja merilis laporan terbaru mengenai Indeks Ketimpangan Gender (IKG) tahun 2025. Dalam laporan resmi tersebut, Sulawesi Selatan mencatatkan progres signifikan dalam upaya mempersempit jarak kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di berbagai sektor kehidupan.

Dalam laporan yang dikutip, Rabu (6/5/2026), angka IKG Sulawesi Selatan pada tahun 2025 tercatat sebesar 0,336. Nilai itu mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar 0,029 poin dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 0,365. Penurunan ini menjadi yang terbesar jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang hanya turun tipis 0,001 poin.

Secara keseluruhan, sejak tahun 2018, IKG Sulawesi Selatan telah berkurang sebesar 0,156 poin dengan rata-rata penurunan 0,022 poin per tahun. Tren ini menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan bergerak maju menuju masyarakat yang lebih inklusif dan setara.

1. Kesehatan reproduksi membaik, persalinan di fasilitas medis meningkat

ilustrasi persalinan (pexels.com/Hannah Barata)
ilustrasi persalinan (pexels.com/Hannah Barata)

Salah satu faktor pendorong utama turunnya angka ketimpangan gender di Sulsel adalah perbaikan pada dimensi kesehatan reproduksi perempuan. BPS mencatat adanya tren positif pada dua indikator kunci dalam dimensi ini:

  • Persalinan di Fasilitas Kesehatan: Proporsi perempuan yang melahirkan tidak di fasilitas kesehatan (MTF) menurun drastis dari 0,440 poin pada tahun 2024 menjadi 0,320 poin pada tahun 2025
  • Pernikahan dan Kelahiran Dini: Indikator perempuan yang melahirkan anak pertama di bawah usia 20 tahun (MHPK20) juga terus ditekan, yakni turun dari 0,271 poin menjadi 0,262 poin di tahun 2025

Secara historis, indikator MTF telah menunjukkan tren penurunan konsisten sejak tahun 2018 yang kala itu masih berada di angka 0,170. Perbaikan ini mencerminkan akses kesehatan bagi ibu di Sulawesi Selatan yang semakin merata dan aman.

2. Partisipasi pekerja perempuan tumbuh pesat

Ilustrasi buruh perempuan. (IDN Times/Dhana Kencana)
Ilustrasi buruh perempuan. (IDN Times/Dhana Kencana)

Dimensi pasar tenaga kerja menjadi sorotan tajam karena menunjukkan tren penyempitan kesenjangan yang paling nyata. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Berdasarkan data SUPAS 2025:

  • TPAK Perempuan: Mengalami kenaikan dari 52,68 persen (2024) menjadi 52,95 persen (2025)
  • TPAK Laki-laki: Berada di angka 82,80 persen, naik tipis dari tahun sebelumnya yang sebesar 82,52 persen

Jika ditarik lebih jauh ke tahun 2018, keterlibatan perempuan di pasar kerja Sulsel telah meningkat sebanyak 5,30 persen poin. Kenaikan ini memberikan kesempatan yang lebih setara bagi perempuan untuk mandiri secara ekonomi dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.

3. Keterwakilan perempuan di legislatif: Luwu Timur juara, Toraja Utara jadi catatan

ilustrasi pemilu (IDN Times/Esti Suryani)
ilustrasi pemilu (IDN Times/Esti Suryani)

Meskipun secara umum dimensi pemberdayaan membaik, BPS mencatat dinamika yang beragam di tingkat kabupaten/kota. Indikator keterwakilan perempuan di legislatif pada tahun 2025 tercatat sebesar 25,88 persen, mengalami peningkatan dibandingkan posisi tahun 2024 yang sempat turun ke angka 25,00 persen.

Dari sisi pendidikan, kesenjangan penduduk usia 25 tahun ke atas yang menyelesaikan pendidikan SMA ke atas semakin mengecil. Persentase perempuan di kategori ini mencapai 40,73 persen, sementara laki-laki sebesar 43,65 persen.

Menariknya, terdapat perbedaan performa antar daerah:

  • Luwu Timur mencatatkan diri sebagai daerah dengan penurunan ketimpangan gender paling dalam di Sulsel, diikuti oleh Pangkep dan Barru
  • Sebaliknya, Toraja Utara justru mengalami anomali dengan kenaikan ketimpangan gender tertinggi sebesar 0,216 poin
  • Kota Makassar sendiri tetap berada di jajaran daerah dengan progres perbaikan IKG yang positif, yakni turun 0,081 poin dibandingkan tahun sebelumnya

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More