Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Film Solata Karya Sineas Makassar Bersinar di Luar, Raih Penghargaan Internasional
Ichwan Persada (kanan) usai menerima penghargaan penghargaan khusus untuk kebudayaan dan kemanusiaan dari Golden FEMI Film Festival di Bulgaria untuk film Solata. (Dok. Istimewa)
  • Film independen Solata karya Ichwan Persada menuntaskan tur di lima kota empat negara Eropa Timur dan meraih penghargaan khusus kebudayaan serta kemanusiaan di Golden FEMI Film Festival, Bulgaria.
  • Film drama tentang relawan guru di Tana Toraja ini meraih sambutan hangat internasional, meski hanya sekitar 15 ribu penonton di bioskop Indonesia dan belum banyak diperhatikan ajang domestik.
  • Solata menunggu seleksi Tirana International Film Festival yang berkategori Oscar Qualifying, sambil menjadwalkan pemutaran di Yordania dan menjajaki koproduksi dengan lembaga film Bulgaria, Slovakia, serta Turki.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN TimesFilm independen Solata (Teman Adalah Keluarga yang Kita Pilih) garapan sutradara sekaligus produser asal Makassar, Ichwan Persada, menorehkan prestasi di kancah internasional. Film rilisan bioskop tahun 2025 itu baru saja menuntaskan tur pemutaran di lima kota yang tersebar di empat negara Eropa Timur.

Solata yang luput dari pengakuan di Tanah Air, kini tengah menunggu hasil seleksi Tirana Internasional Film Festival di Albania yang masuk kategori Oscar Qualifying.

"Kalau kita lolos bisa punya peluang daftar sendiri ke Academy Awards," kata Ichwan saat berbincang dengan IDN Times di Makassar, Rabu (29/7/2026).

Solata merupakan film drama Indonesia berdurasi 107 menit yang diproduksi Walma Pictures dan Indonesia Sinema Persada. Dibintangi Rendy Kjaernett sebagai Angkasa dan Rachel Natasya sebagai Lembayung, film ini mengisahkan seorang pria yang kehilangan pekerjaan, ibu, dan kekasihnya dalam waktu berdekatan hingga memutuskan menjadi relawan guru di program Kelas Jauh di Ollon, Tana Toraja. Di sana ia bertemu enam murid dan menjalani perjalanan yang perlahan mengubah cara pandangnya tentang kehidupan, kehilangan, harapan, dan makna keluarga yang tidak selalu terikat hubungan darah.

1. Raih penghargaan khusus untuk kebudayaan dan kemanusiaan di Bulgaria

Poster film Solata. (Dok. Indonesia Sinema Persada)

Dalam rangkaian pemutarannya di Eropa, Solata antara lain mejeng di Golden FEMI Film Festival di Bulgaria, salah satu festival film terbesar di negara-negara Balkan. Di ajang itu, Solata mendapatkan penghargaan khusus untuk kebudayaan dan kemanusiaan, yaitu Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism.

Ichwan menerima langsung penghargaan tersebut didampingi produser pelaksana, Irfan Syam, dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania dan Makedonia Utara, Listiana Operananta, di Sofia, Bulgaria, pada 6 Juni lalu.

Empat lokasi pemutaran lainnya, masing-masing di Sofia (Bulgaria), Bratislavia (Slovakia), Budapest (Hungaria, dan Ankara-Istanbul (Turki). Di Bratislava dan Budapest juga dilakukan pemutaran khusus yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia.

2. Film mendapatkan apresiasi lebih besar di luar negeri

Film Solata karya sutradara dan produser Ichwan Persada dalam tur pemutaran di Eropa pada Juni 2026. (Dok. Istimewa)

Ichwan mengakui karya film panjang perdananya mendapatkan apresiasi yang lebih besar di luar negeri. Ia mengenang, usai Solata dirilis di bioskop pada November 2025 dan hanya meraup sekitar 15 ribu penonton, pihaknya langsung mendapatkan undangan dari Bulgaria pada bulan berikutnya.

Tahun ini, film Solata dijadwalkan diputar pada Festival Film Praha ASEAN+3 di Amman, Yordania, dan dijadwalkan melanjutkan tur internasional ke sejumlah negara lainnya. Menurut Ichwan, capaian tersebut menjadi langkah penting bagi perjalanan film independen Indonesia untuk mendapat pengakuan lebih luas di tingkat dunia. Ia berharap rangkaian festival internasional yang diikuti Solata dapat membuka peluang lebih besar bagi perfilman nasional.

Selama penayangan di luar negeri, Solata disebut mendapat sambutan hangat dari penonton. "Mereka bilang Solata tentang nilai universal yang nyambung ke mereka. Tentang lost and hope," kata Ichwan. "Di luar, film menembus batas budaya. Tidak ada sekat," ujarnya.

Adapun di dalam negeri, Solata belum banyak mendapatkan perhatian. Film itu, misalnya, luput dari ajang penghargaan Festival Film Bandung baru-baru ini. Menurut Ichwan, dia menyadari hal itu karena umumnya festival domestik lebih menghargai popularitas nama besar dibandingkan kualitas artistik karya film.

"Masalah di Indonesia, sistem penghargaannya tidak terbuka," kata dia.

3. Ichwan Persada jajaki kerja sama produksi film dengan sineas Eropa

Ichwan Persada (kedua dari kiri) usai menerima penghargaan penghargaan khusus untuk kebudayaan dan kemanusiaan dari Golden FEMI Film Festival di Bulga

Ichwan sendiri tak menyangka film “sederhana” yang diproduksinya bisa diputar di negara-negara, yang bahkan masih kurang familiar dengan masyarakat Indonesia. Begitupun sambutan dengan pemutaran yang disesaki pengunjung baik warga lokal maupun warga Indonesia yang bermukim di kota-kota tersebut.

“Sambutan penonton sangat menghangatkan hati. Saya tersentuh sekali melihat betapa warga lokal sangat mengapresiasi film ini dan terkesan dengan nilai-nilai yang disampaikan di dalamnya. Salah satu sutradara sekaligus sinematografer yang hadir di Bratislava bahkan tertarik sekali ingin bekerjasama memproduksi film di Indonesia. Sementara di Budapest salah satu pengunjung yang hadir yaitu Ibu Marta dari UNIESCO Artist For Peace tak bisa menahan haru menyaksikan film yang mengingatkannya pada putranya. Saya kira kekuatan sinema adalah bisa menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya tak terjamah dengan dialog dan visual yang bisa dimengerti bahkan oleh mereka yang tak memahami bahasa maupun kultur kita, “ jelas Ichwan.

Ichwan juga menjelaskan rangkaian tur Eropa Timur kali ini juga dilakukan dalam rangka penjajakan kerjasama produksi film dua negara. Tim film SOLATA sempat bertemu dengan Bulgaria Film Center, Slovakia Film Comission dan Ankara Bilim University. Ia optimis bisa melakukan produksi film di negara-negara tersebut selambat-lambatnya tahun depan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article