Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

DTSEN Sulsel Masih Alami Ketidaksesuaian Data Warga Miskin

DTSEN Sulsel Masih Alami Ketidaksesuaian Data Warga Miskin
Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)

Makassar, IDN Times - Ketidaksesuaian data masih ditemukan dalam pemetaan kesejahteraan masyarakat melalui Data Terpadu Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sejumlah warga yang secara kondisi nyata tergolong miskin dalam desil 1-2 tercatat pada kategori desil menengah hingga atas, bahkan mencapai desil 6 ke atas.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya celah dalam proses pemutakhiran dan pengelompokan data. Padahal, data tersebut menjadi acuan utama pemerintah dalam penyaluran bantuan sosial.

DTSEN saat ini menjadi basis utama pemerintah dalam menentukan kebijakan kesejahteraan, menggantikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang sebelumnya digunakan dengan cakupan lebih terbatas. 

Sistem ini mengelompokkan masyarakat ke dalam 10 desil, mulai dari desil 1 sebagai kategori miskin ekstrem hingga desil 10 sebagai kelompok paling sejahtera.

1. Masih ada ketidaksesuaian data di lapangan

Ilustrasi Kemiskinan (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Kemiskinan (IDN Times/Arief Rahmat)

Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faisal, mengungkapkan temuan ketidaksesuaian masih terjadi di lapangan. Terdapat warga dengan kondisi ekonomi lemah yang seharusnya masuk desil 1-2, namun tercatat pada desil yang lebih tinggi dalam sistem DTSEN.

"Padahal, yang bersangkutan tidak memiliki rumah sendiri, tidak memiliki pendapatan tetap, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari," kata Malik, Sabtu (11/4/2026).

Malik menegaskan ketidakakuratan data berdampak langsung pada proses penyaluran bantuan sosial. Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, tetap wajib berpedoman pada data yang tersedia dalam menentukan penerima bantuan.

2. Proses pemutakhiran data masih terus berjalan

Ilustrasi kemiskinan. IDN Times/ istimewa
Ilustrasi kemiskinan. IDN Times/ istimewa

Kondisi tersebut menunjukkan proses klasifikasi kesejahteraan masyarakat masih terus dalam tahap penyempurnaan. Sejumlah perbaikan telah ditempuh, namun akurasi data masih menjadi perhatian.

"Idealnya, kesalahan data dapat ditekan hingga mendekati nol karena berkaitan dengan hak masyarakat untuk memperoleh jaminan dan perlindungan sosial," katanya.

3. Sekitar 4,2 juta warga Sulsel masuk kategori miskin

Ilustrasi kemiskinan (IDN Times/Arief Rahman)
Ilustrasi kemiskinan (IDN Times/Arief Rahman)

Pada data Triwulan I, sekitar 4,2 juta penduduk Sulawesi Selatan tercatat berada pada desil 1 hingga 5, yang termasuk kategori miskin hingga hampir miskin. Kota Makassar menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, mencapai sekitar 474 ribu jiwa, disusul Kabupaten Bone, Gowa, Jeneponto, dan Luwu yang masing-masing mencatat ratusan ribu jiwa.

Data tersebut juga sejalan dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah penduduk miskin di daerah. Namun, jika dilihat dari persentase, Kabupaten Pangkep mencatat angka 11,60 persen, Jeneponto 11,42 persen, dan Luwu 10,97 persen sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Sulawesi Selatan.

Sekitar 9 juta penduduk Sulawesi Selatan telah masuk dalam basis data DTSEN. Sementara itu, sekitar 800 ribu lainnya masih belum terklasifikasi dalam sistem tersebut.

Share
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

DTSEN Sulsel Masih Alami Ketidaksesuaian Data Warga Miskin

12 Apr 2026, 12:27 WIBNews