Ilustrasi Polisi. (IDN Times/Anjani Asra)
Selain mengecam dugaan pemukulan, Fajar juga mempertanyakan minimnya pengawalan aparat kepolisian selama demonstrasi berlangsung.
Menurutnya, kehadiran polisi sangat dibutuhkan untuk memastikan penyampaian aspirasi berjalan aman dan tidak berujung pada bentrokan.
"Pihak kepolisian memiliki tanggung jawab untuk mengawal jalannya aksi unjuk rasa. Namun, fakta di lapangan menunjukkan minimnya pengawalan dari aparat kepolisian. Kondisi ini patut dipertanyakan, mengingat pengawalan tersebut sangat penting untuk memastikan aksi berjalan aman dan tertib," ujarnya.
Fajar menegaskan, GAM tidak akan membiarkan dugaan kekerasan terhadap anggotanya berlalu begitu saja. Pihaknya berkomitmen mengawal persoalan tersebut hingga pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban.
"Kami sesama kader GAM memiliki ikatan persaudaraan dan janji perjuangan yang sama. Ketika salah satu dari kami mengalami tindakan represif saat memperjuangkan hak-hak masyarakat, maka itu menjadi tanggung jawab kita bersama," jelasnya.
Dikonfirmasi, Direktur Utama Perumda Tirta Mangkaluku, Steven Hamdani, menjelaskan aksi demonstrasi sebenarnya dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 Wita berdasarkan surat pemberitahuan yang diterima pihaknya. Namun, massa disebut sudah menggelar aksi sekitar pukul 11.00 Wita.
"Massa tidak hanya berorasi, tetapi juga membakar ban bekas tepat di depan gerbang kantor PDAM. Kondisi tersebut membuat mobil tangki kesulitan keluar masuk untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat," kata Steven dalam keterangan tertulisnya.
Karena massa datang lebih awal, distribusi air bersih yang sebelumnya sudah dijadwalkan, kata Steven, ikut terganggu. Sejumlah warga dan pegawai PDAM bersama anggota TNI kemudian meminta demonstran memadamkan api agar mobil tangki tetap bisa beroperasi. Namun, permintaan tersebut disebut tidak mendapat respons.
Ketegangan semakin meningkat ketika satu unit mobil tangki hendak keluar dari area kantor. Sejumlah demonstran disebut berusaha menghalangi kendaraan tersebut.
Seorang petugas keamanan (security) PDAM yang mencoba mencegah tindakan itu diklaim mendapat perlakuan tidak pantas dari pengunjuk rasa. Situasi kemudian memanas hingga terjadi perselisihan antara sejumlah pegawai, warga, dan massa aksi.
"Beberapa saat kemudian, sejumlah pegawai PDAM dan warga bersama pengunjuk rasa terlibat bersitegang yang tak dapat terhindarkan. Bentrokan dipemicu kekesalan warga karena aktivitas demonstrasi dianggap menghambat pengiriman air bersih yang sedang mereka butuhkan," jelasnya.