BMKG: Puncak Musim Hujan di Makassar Sudah Terlewati

- Menurut BMKG, Februari 2026 menjadi fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
- Meski menunjukkan penurunan, curah hujan di Makassar masih signifikan.
- Cuaca ekstrem berdampak pada kondisi perairan. Kondisi laut berjalan seiring dengan cuaca di atasnya.
Makassar, IDN Times - Puncak musim hujan di Kota Makassar telah berlangsung sejak Desember 2025 hingga Januari 2026. Memasuki Februari, intensitas hujan mulai menunjukkan tren penurunan seiring berakhirnya periode hujan tertinggi.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Bagus Primohadi, menjelaskan Februari 2026 menjadi fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Wilayah Makassar dan sekitarnya diprediksi mulai keluar dari periode musim hujan pada pekan ketiga Februari.
"Untuk puncak hujan itu sudah masuk sejak bulan Desember dan di bulan Januari," kata Bagus saat wawancara via telepon, Rabu (14/1/2026).
1. Februari mulai masuk fase transisi

Menurut Bagus, Februari 2026 menjadi fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Makassar dan sekitarnya diperkirakan mulai keluar dari periode musim hujan pada pekan ketiga Februari.
"Jadi bulan Februari itu kita sudah mulai turun intensitasnya, atau kita sudah mulai keluar dari zona atau periode musim hujan, dan mulai masuk ke zona atau musim transisi di Februari, minggu ketiga," katanya.
2. Hujan masih berpotensi terjadi hingga Maret

Meski menunjukkan penurunan, curah hujan di Makassar masih tergolong signifikan. Pada awal Februari, hujan dengan kategori sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
BMKG juga memprediksi potensi hujan tinggi masih berlangsung pada Februari hingga Maret 2026, khususnya di wilayah barat Sulawesi Selatan. Curah hujan diperkirakan berkisar antara 51 hingga lebih dari 500 milimeter per bulan dengan kategori tinggi hingga sangat tinggi di beberapa daerah.
"Daerah dengan intensitas curah hujan tinggi hingga sangat tinggi terjadi di sebagian wilayah barat dan utara Sulawesi Selatan, seperti Makassar, Maros, Gowa. Kalau utara itu seperti Luwu Raya," kata Bagus.
3. Cuaca ekstrem berdampak pada kondisi perairan

Selain berdampak di daratan, kondisi cuaca ekstrem juga memengaruhi situasi perairan. Bagus menjelaskan kondisi laut berjalan seiring dengan cuaca di atasnya.
"Untuk kondisi laut sebenarnya itu koheren atau sejalan dengan potensi atau kejadian hujan di atasnya atau cuaca di atasnya. Jadi secara musiman memang ketika mulai masuk ke musim hujan itu kondisi laut di Sulawesi Selatan, khususnya yang di bagian barat atau meliputi wilayah Selat Makassar," ucapnya.
Kondisi perairan di wilayah barat Sulawesi Selatan, seperti perairan Pinrang, Parepare, dan Barru, terpantau mengalami gelombang yang relatif tinggi. Sementara itu, perairan di bagian timur, termasuk perairan Bone dan Selayar bagian timur, cenderung berada dalam kondisi yang lebih aman.
"Nanti kondisinya berbalik ketika mulai masuk musim kemarau, anginnya kan dominan dari arah timur, dari Australia. Jadi anginnya cukup tinggi di bagian timur nantinya," katanya.


















