BMKG Angkat Bicara Terkait Cahaya Melintas dan Dentuman di Gorontalo

- Warga Gorontalo dan Bolaang Mongondow Utara melihat kilatan cahaya serta mendengar dentuman pada 12 September 2026 sekitar tengah malam.
- BMKG Gorontalo merekam cahaya di CCTV dan getaran seismik pukul 00.18 WITA, yang dipastikan bukan gempa tektonik maupun vulkanik.
- BMKG belum menyimpulkan wujud fenomena tersebut; sinyalnya mirip kejadian Cirebon 2025 dan masyarakat diminta merujuk informasi valid.
Manado, IDN Times - Warga Provinsi Gorontalo dihebohkan dengan kilatan cahaya diikuti suara dentuman yang melintas pada Sabtu, 12 September 2026 tengah malam. Fenomena tersebut bahkan juga dirasakan warga Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Gorontalo.
Warga Bolmut bernama Allan Patamani mengaku melihat sendiri fenomena tersebut. Waktu itu sekitar pukul 00.15 WITA ia sedang berada di Pantai Batu Pinagut.
"Terdengar bunyi seperti guntur terus tiba-tiba ada cahaya terang melintas," jelasnya, Minggu (13/9/2026).
1. Terekam CCTV

ilustrasi meteor jatuh (pixabay.com/DilanArezzo) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun buka suara terkait peristiwa tersebut. Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo, Andri Wijaya Bidang, mengatakan bahwa fenomena itu sempat terekam CCTV.
"Kalau dari data rekaman CCTV ada cahaya terang melewati bangunan. Kalau dari fisik benda kita tidak bisa menyimpulkan, hanya cahaya," terang Andri.
Tak lama kemudian pada sekitar pukul 00.20-00.21 WITA banyak laporan masyarakat yang masuk ke WhatsApp. Tak hanya itu, media sosial juga diramaikan dengan pertanyaan tentang peristiwa tersebut disertai dengan sejumlah dokumentasi.
2. Sempat terekam di seismograf

Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo, Andri Wijaya Bidang. Dok. Pribadi Andri membenarkan bahwa dentuman yang sangat keras tidak hanya terdengar di satu wilayah. Fenomena tersebut juga dibarengi dengan getaran dari kaca.
Stasiun Geofisika Gorontalo pun mencoba menganalisis berdasarkan rekaman sinyal. Rupanya, 2 titik site sensor TGCM dan KGCM di Gorontalo memang merekam adanya getaran seismik pada pukul 00.18 WITA.
"Dari hasil kajian menyimpulkan getaran seismik itu bukan merupakan gempa bumi yang diakibatkan tektonik maupun vulkanik," sambung Andri.
3. Mirip dengan peristiwa di Cirebon tahun lalu

Seorang prakirawan cuaca Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang Noor Jannah mengecek arah angin dari layar monitor komputer yang terhubung dengan citra satelit BMKG. (IDN Times/Fariz Fardianto) Andri menyebut pihaknya tidak bisa menyimpulkan peristiwa tersebut secara fisik. Namun berdasarkan sinyal seismik yang diterima, peristiwa tersebut memiliki kesamaan anatomi dengan fenomena di Cirebon yang terjadi pada 5 Oktober 2025 sekitar pukul 18.30 WIB.
Kala itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhirnya menyimpulkan bahwa peristiwa di Cirebon diakibatkan adanya meteor besar yang masuk atmosfer. Meski begitu, Andri mengimbau masyarakat tak mudah mengambil kesimpulan dan mengikuti perkembangan selanjutnya.
Apalagi banyak video maupun foto yang beredar di media sosial bukan merupakan peristiwa terbaru yang ada di wilayah Gorontalo. "Harus dicek berkali-kali dengan video yang sudah lama beredar. Juga upayakan mencari referensi yang valid seperti dari BMKG hingga BRIN yang juga memiliki Pusat Riset Antariksa," tutupnya.


















