Ilustrasi kekerasan seksual (IDN times/Aditya Pratama)
Sementara itu, SH (45) ibu salah satu korban mengaku kasus ini heboh di lingkungan sekolah karena ada laporan terdapat tiga siswa yang yang diduga melangami pelecehan, Hingga akhirnya ia bertanya ke anaknya mengenai kebenaran informasi tersebut.
Awalnya sang anak tidak mau mengakui karena merasa takut, justru para korban menceritakan semuanya ke gurunya, hingga akhirnya kasus ini terungkap.
"Kita sebagai orang tua itu bolak balik nanya waktu akhir bulan lima ke anak-anak tapi mereka tidak ada yang mengaku dan ternyata anak-anak justru mengaku ke guru hingga gurunya yang memberitahu kami," ujarnya.
Pihak sekolah kemudian mengadakan pertemuan pertama pada 2 Juni 2026. Dari pertemuan itu orang tua korban diarahkan ke Shelter DP3A Kota Makassar untuk mendapatkan pendampingan. Selanjutnya orang tua korban ke Polrestabes Makassar untuk membuat laporan sambil melakukan konseling di PPA.
"Tiba-tiba kalau nggak salah waktu hari Rabu dikasih tahu bahwa si pelaku ini keluar, ternyata baku atur damai dengan pelapor yang pertama," kata SH.
Tak terima dengan adanya dugaan atur damai, pihak sekolah mengadakan lagi pertemuan kedua yang dihadiri pejabat kepala sekolah yang baru, PPA, RW dan Shelter DP3A Kota Makassar, kemudian diarahkan lagi membuat laporan baru.
"Akhirnya hari Jumat diaturlah jadwal kita bikin laporan baru dan disitu ada tiga laporan yang setau saya, kalau dari pertemuan-pertemuan itu ada sekitar 32 nama, tapi yang baru terdaftar di PPA baru ada 23," ungkapnya.
SH mengungkapkan, ada dua anaknya yang menjadi korban, usia 9 tahun dan 10 tahun. Anak pertamanya melapor ke gurunya bahwa ikut menjadi korban Pencabulan MD. Kini kedua anaknya telah mendapatkan pendampingan spikolog.
"Saat pulang ke rumah dia baru nangis cerita bahwa dia jadi korban," ujarnya.
Dia menambahkan, modus terduga pelaku melakukan pencabulan saat korban belanja di warung, di mana terduga pelaku pura-pura menggendong korban yang tidak bisa menggapai rak jualan pelaku.
"Kalau belanja sendiri-sendiri itu kalau mereka mau ngambil di rak yang tinggi itu sama bapaknya ditawari untuk digendong atau diangkat, tapi anaknya tidak mau. Nah caranya itu tangan kanannya di pinggang, tangan kiri di kelamin si anak-anak ini, kebanyakan modusnya begitu," tandasnya.