47 Ribu Warga Makassar Terdampak Kekeringan, Biringkanaya Terparah

- Sebanyak 47.252 warga dari 13.929 kepala keluarga di enam kecamatan Makassar terdampak kekeringan akibat kemarau berkepanjangan per 5 Agustus 2026.
- Biringkanaya mencatat dampak terbesar dengan 14.787 warga, disusul Tallo 10.672 jiwa dan Tamalanrea 9.947 jiwa; kebutuhan air bersih menjadi prioritas.
- Pemkot Makassar mempercepat distribusi air, menempatkan tandon, serta mengerahkan dukungan lintas sektor sambil memprioritaskan kelompok rentan melalui asesmen kebutuhan yang terus diperbarui.
Makassar, IDN Times - Kekeringan akibat kemarau berkepanjangan mulai berdampak serius terhadap kebutuhan air bersih warga Kota Makassar. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar per 5 Agustus 2026, sebanyak 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga terdampak kekeringan.
"Kondisi itu tersebar di enam kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala," kata Kepala Pelaksana BPBD Makassar Fadli Tahar pada Rapat Koordinasi Tanggap Darurat Bencana Kekeringan di Balaikota Makassar, Kamis (13/8/2026).
Pemerintah Kota Makassar kini memperkuat penanganan darurat dengan mempercepat distribusi air bersih dan mengerahkan sumber daya lintas sektor.
1. Biringkanaya jadi wilayah dengan dampak terbesar

Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah Biringkanaya menjadi kecamatan dengan jumlah warga terdampak kekeringan paling banyak, yakni 14.787 jiwa. Berikutnya Tallo dengan 10.672 jiwa, Tamalanrea 9.947 jiwa, Manggala 7.601 jiwa, Ujung Tanah 2.921 jiwa, dan Panakkukang 1.324 jiwa.
Besarnya jumlah warga terdampak membuat kebutuhan air bersih menjadi perhatian utama dalam penanganan kekeringan. Kondisi tersebut juga berpotensi memunculkan dampak lanjutan terhadap kesehatan masyarakat dan meningkatkan risiko kebakaran selama musim kemarau.
2. Pemkot Makassar percepat distribusi air bersih

Ilustrasi penyaluran air bersih. (Dok. Humas Pemkot Makassar) Pemerintah Kota Makassar memfokuskan operasi tanggap darurat pada distribusi air bersih dan penempatan tandon di wilayah yang terdampak. Dukungan lintas sektor juga disiapkan melalui pengerahan mobil tangki, sumber air baku, armada distribusi, personel, tenaga kesehatan, serta kebutuhan operasional dan logistik.
Dalam penanganan awal, BPBD Makassar telah menempatkan 17 tandon di Kecamatan Ujung Tanah, delapan tandon di Biringkanaya, dan 10 tandon di Tallo. Data dan kebutuhan warga akan terus diperbarui melalui asesmen lapangan agar distribusi bantuan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
3. Kelompok rentan jadi perhatian

ilustrasi bantuan air bersih (Foto: Freepik) Penanganan kekeringan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, tetapi juga mencegah dampak kesehatan yang dapat muncul akibat krisis air. Pemerintah memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Pemerintah Kota Makassar juga mengandalkan kolaborasi pemerintah, TNI/Polri, BUMN dan BUMD, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, relawan, serta masyarakat. Selama masa tanggap darurat, pemutakhiran data dan asesmen kebutuhan dilakukan sebagai dasar untuk menentukan prioritas distribusi air dan pengerahan sumber daya.


















