12 Siswa di 3 Sekolah Dasar Takalar Diduga Keracunan usai Santap MBG

- 12 siswa di 3 SD di Takalar, Sulawesi Selatan diduga keracunan makanan MBG
- Siswa mengalami mual dan pusing setelah menyantap makanan bergizi gratis
- Dinas Kesehatan Takalar masih belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari dugaan keracunan tersebut
Makassar, IDN Times - Sebanyak 12 siswa di tiga sekolah dasar (SD) di Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap makan bergizi gratis (MBG), Rabu (26/8/2025).
Para siswa tersebut berasal dari tiga sekolah, dengan rincian 10 siswa dari SDN No 58 Lengkese, 1 siswa SDN Kapunrengan, dan SDN Bonto Ba'do.
1. Siswa mengeluh mual dan pusing setelah santap MBG

Kepala Puskesmas Mangngarabombang, Heriyanto Ali mengatakan 12 siswa yang diduga mengalami keracunan itu, dilarikan dan dirawat di Puskesmas setempat.
"Awalnya kami mendapatkan informasi dari Sekdes Lengkese, terus kami melakukan penjemputan dengan dua mobil ke sana," ucapnya kepada awak media, Rabu.
Sementara, Kepala Sekolah SDN No 58 Lengkese, Supriadi mengungkapkan awalnya makanan tiba di sekolah pukul 09.02 WITA, kemudian para siswa mulai makan pukul 09.30 WITA.
"Setengah jam berselang, sudah ada anak yang mengeluh, ada yang sakit perutnya, sakit kepalanya," kata Supriadi
2. Pihak kesehatan periksa sampel makanan

Kepala Dinas Kesehatan Takalar, dr. Nilal Fauziah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan tim untuk melakukan penanganan di tiga sekolah, yakni SD Kapunrengan, SD Bonto Ba'do, dan SD Lengkese.
"Kejadian ini terjadi di tiga SD, dengan rincian 10 siswa di SD Kapunrengan, serta masing-masing satu siswa di SD Bonto Ba'do dan SD Lengkese. Jadi, kasus ini tidak bersifat massal, mengingat total siswa yang menerima makanan sebanyak 97 orang," ujar Nilal dalam keterangannya, Rabu.
Ia menjelaskan bahwa menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di ketiga sekolah tersebut terdiri dari nasi, ikan, tahu, sayur, dan pisang. Sejumlah siswa mengalami mual dan pusing setelah mengonsumsi makanan tersebut.
"Saat ini, kami belum dapat memastikan apakah penyebabnya berasal dari makanan, mengingat jumlah siswa yang terdampak tidak banyak. Gejala yang mereka alami meliputi mual, muntah, dan pusing," jelasnya.
3. Penyelidikan dan upaya pencegahan

Untuk menindaklanjuti kejadian ini, lanjut Nilal, pihaknya telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium kesehatan. Namun, Dinas Kesehatan Takalar masih belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari dugaan keracunan tersebut.
"Banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya, termasuk kemungkinan berasal dari air minum yang sebagian besar dibawa anak-anak dari rumah," tandasnya.


















