Muhammad Yunus dan Jejak Sunyi Menguatkan Mualaf Tionghoa di Gowa

- Muhammad Yunus telah menjadi imam tunggal Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa sejak 2015, mendampingi dan memperkuat para mualaf Tionghoa dalam perjalanan spiritual mereka.
- Ia mewakafkan waktu dan tenaga untuk masjid, menyesuaikan jadwal kuliah serta mengajar demi memastikan ibadah dan pembinaan jemaah tetap berjalan lancar.
- Pengalaman membimbing mualaf hingga mendapat hadiah umrah mempertegas keyakinannya bahwa pengabdian tulus selalu berbuah kebaikan yang tak terduga.
Makassar, IDN Times - Di Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa, Muhammad Yunus menambatkan sebagian besar hidupnya dalam satu dekade terakhir. Di rumah ibadah bernuansa Tionghoa itu, Yunus bukan sekadar Imam Rawatib. Ia menjadi pendamping, penguat, sekaligus saksi perjalanan spiritual para mualaf Tionghoa yang datang silih berganti.
Yunus mulai mengemban amanah sebagai Imam Rawatib pada 2015, empat tahun setelah masjid tersebut berdiri pada 2011. Ia merupakan imam kedua, menggantikan pendahulunya, Ustaz Muh. Lutfi Abdullah Uma, imam asal Pattaya, Thailand, yang menyelesaikan studi doktoralnya di UIN Alauddin Makassar.
Kekosongan posisi imam saat itu mendorong pengurus masjid menggelar proses seleksi. Yunus terpilih bersama Ustaz Azis Ilyas untuk melanjutkan tugas memimpin ibadah dan membina jemaah.
Namun kebersamaan keduanya tidak berlangsung lama. Ustaz Azis kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Pondok Pesantren Ummul Mukminin, sehingga Yunus melanjutkan peran sebagai imam tunggal di masjid tersebut. Sejak saat itu, hari-harinya nyaris tak terpisahkan dari mihrab dan aktivitas pembinaan jemaah.
“Saya bersama dengan beliau di sini, Ustaz Azis Ilyas. Kemudian, hingga akhirnya saya di sini menjadi imam tunggal,” kata Yunus.
1. Menjaga iman para mualaf

Sebelum menjadi imam, Yunus hanyalah seorang jemaah salat seperti kebanyakan orang. Dari rutinitas itulah panggilan pengabdian tumbuh perlahan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana hampir setiap pekan ada warga yang mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa. Namun bagi Yunus, tugas seorang imam tidak berhenti pada prosesi ikrar semata.
“Justru di situlah letak tugas kita yang harus lebih intens. Jangan sampai mereka masuk ke dalam Islam, setelah itu tidak mendapatkan pemahaman agama yang mendalam, sehingga bisa menyebabkan mereka keluar lagi dari ajaran Islam,” ujarnya.
Menurut Yunus, menjadi mualaf bukanlah perjalanan yang mudah. Tekanan dari keluarga, lingkungan pergaulan, hingga pergulatan batin kerap datang silih berganti. Karena itu, masjid harus hadir sebagai ruang aman, tempat mereka belajar sekaligus bertumbuh dalam keyakinan barunya.
Pengalaman menjadi imam di beberapa masjid sebelumnya memberinya pelajaran berharga. Ia mengaku pernah menyaksikan konflik internal di tubuh kepengurusan. Namun di Masjid Cheng Hoo, ia merasakan suasana yang berbeda.
“Pengurusnya itu tidak punya kepentingan pribadi. Betul-betul mereka mencari rezekinya di luar dan mengeluarkannya di masjid ini,” tuturnya.
Di bagian belakang masjid, pembangunan sebuah sekolah tengah berlangsung. Bagi Yunus, hal itu menjadi bukti kesungguhan para pengurus dalam mengembangkan syiar sekaligus memperkuat pendidikan bagi jemaah dan masyarakat sekitar.
2. Waktu yang diwakafkan

Menjadi imam rawatib bukan sekadar memimpin salat. Peran tersebut menuntut kesiapsiagaan penuh. Waktu pribadi harus menyesuaikan jadwal salat yang tidak pernah bisa diundur.
Yunus tinggal di sekitar Kampus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Saat ini, dia juga mengajar di UIN Alauddin Makassar dan tengah menempuh studi doktoral di kampus yang sama.
"Kalau kuliah pun dosen-dosen juga sudah mengerti. Jadi makanya saya biasa keluar lebih duluan kalau sementara kuliah," katanya.
Jarak memang menjadi kendala utama. Tak jarang waktu tempuh terasa sempit. Untuk mengantisipasi, Yunus menyiapkan marbot yang telah diuji bacaan dan hafalannya agar siap menggantikan bila dia terlambat.
"Karena jadwal salat kan tidak bisa diubah. Tapi jadwal mengajar itu bisa menyesuaikan," katanya.
Honor sebagai imam, menurut Yunus, tidak besar. Namun pertemuan dengan banyak orang justru membuka pintu rezeki dari arah tak terduga.
3. Hidayah dan hadiah tak terduga

Momen paling berkesan bagi Yunus adalah saat pertama kali membimbing seseorang mengucapkan syahadat. Perasaan menjadi perantara hidayah sulit digambarkan dengan kata-kata.
Tak lama setelah itu, kejutan datang. Seorang dermawan yang belum pernah dia kenal meminta identitasnya. Yunus sempat heran. Ternyata sang dermawan berniat memberangkatkannya umrah.
"Alhamdulillah itu suatu hal yang sangat tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kebaikan yang kita lakukan kepada seseorang bisa saja Allah membalasnya lewat tangan-tangan orang yang lain," ucapnya.
Pengalaman itu membekas kuat dalam ingatannya. Sejak saat itu, keyakinannya kian teguh bahwa setiap pengabdian yang dijalani dengan tulus tidak pernah berakhir sia-sia.
4. Lelah yang ditebus keikhlasan

Sebagai manusia biasa, rasa lelah tentu ada, terutama saat kritik datang. Namun Yunus memilih melihatnya sebagai masukan untuk memperbaiki diri.
Bagi dia, menjadi imam rawatib berarti mewakafkan diri sepenuhnya untuk umat. Jika suatu hari harus digantikan generasi muda, pesannya sederhana yakni luruskan niat.
Dia berharap generasi penerus kelak mampu mewakafkan diri sepenuhnya untuk masjid. Bagi dia, mengurus rumah ibadah berarti berani menyisihkan kepentingan pribadi dan menempatkan kebutuhan jemaah serta umat di atas segalanya.
Menurutnya, tanpa fokus dan kesungguhan, aktivitas masjid mudah terabaikan. Kegiatan yang seharusnya berjalan rutin bisa tersendat dan kehilangan arah.
"Jadi harus betul-betul punya niat yang tulus, yang ikhlas bukan untuk mencari kehidupan dunia lewat masjid tapi justru kita yang mengorbankan dunia kita untuk masjid ini," katanya.













.png)




