Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Child Grooming Tidak Selalu Jahat di Awal, Ini 5 Alasannya!

Ilustrasi pria dewasa dan anak perempuan
Ilustrasi pria dewasa bersama seorang anak perempuan (freepik.com/freepik)

Belakangan ini, isu child grooming ramai dibahas dan berseliweran di media sosial, terutama TikTok. Banyak potongan video, cerita viral, hingga pengakuan korban yang bikin istilah ini terdengar makin familiar. Meski begitu, pemahaman soal grooming masih sering keliru dan dianggap mudah dikenali sejak awal.

Saat mendengar istilah child grooming, banyak orang langsung membayangkan tindakan jahat yang terang-terangan. Kenyataannya, proses grooming justru kerap dibungkus lewat sikap ramah, perhatian kecil, dan interaksi yang terasa aman. Pola inilah yang membuat grooming sulit terdeteksi, baik oleh anak maupun orang dewasa di sekitarnya. Nah, berikut lima alasan kenapa grooming tidak selalu terlihat berbahaya di awal.

1. Dibuka dengan sikap hangat yang terasa tulus

Ilustrasi berbincang santai
Ilustrasi berbincang santai (unsplash.com/Robert Eklund)

Tahap awal grooming biasanya bermula dari interaksi ringan dan menyenangkan. Pelaku mengajak berbincang santai, menanyakan keseharian anak, atau sekadar memberi respons yang bikin anak merasa diperhatikan. Dari sini, anak mulai menganggap pelaku merupakan sosok yang “aman” serta nyaman diajak bicara.

Perhatian semacam ini mudah disalahartikan sebagai kepedulian biasa. Anak yang kurang mendapat ruang bercerita bisa merasa menemukan tempat berlindung emosional. Di titik ini, kedekatan akhirnya terbentuk, dan pelaku sudah memegang kendali.

2. Hadiah kecil yang terlihat manis dan menggoda

Ilustrasi memberi hadiah
Ilustrasi memberi hadiah (freepik.com/freepik)

Memberi hadiah kerap dipakai sebagai cara halus untuk menciptakan rasa spesial. Dapat berupa barang kecil, uang saku, atau akses ke hal yang diinginkan anak. Di mata anak, ini tampak seperti bentuk perhatian yang wajar dan menyenangkan.

Di sisi psikologis, hadiah menumbuhkan rasa sungkan yang perlahan mengikat. Anak mulai enggan menolak permintaan pelaku. Dari sinilah ketergantungan emosional perlahan terbentuk.

3. Obrolan awal yang terasa aman dan normal

Ilustrasi mengobrol
Ilustrasi mengobrol (unsplash.com/Husha Bilimale)

Percakapan grooming jarang diawali dengan hal mencurigakan. Topiknya justru seputar hobi, sekolah, film favorit, atau aktivitas harian. Semua terasa wajar dan tidak memicu alarm bahaya.

Pelaku sengaja membangun suasana santai supaya anak betah berkomunikasi. Seiring waktu, obrolan mulai bergeser ke ranah personal. Tanpa disadari, batas privasi anak pun terkikis sedikit demi sedikit.

4. Muncul dari lingkungan yang dipercaya anak

Ilustrasi grooming
Ilustrasi grooming (unsplash.com/kennyzhang29)

Grooming tidak selalu datang dari orang asing. Banyak pelakunya bahkan berasal dari lingkungan dekat, misalnya keluarga besar, pelatih, guru, atau orang dewasa yang sering berinteraksi dengan anak. Status “orang dikenal” membuat kewaspadaan menurun.

Anak lebih bebas membuka diri kepada figur yang dianggap familiar. Orang tua pun hampir tidak curiga saat pelaku kelihatan ramah dan suportif. Situasi inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk mendekat tanpa adanya hambatan berarti.

5. Korban kerap baru sadar saat sudah terjebak

Ilustrasi anak mengalami penyesalan
Ilustrasi anak mengalami penyesalan (pexels.com/Pixabay)

Banyak korban grooming tidak menyadari apa yang mereka alami di awal. Hubungan yang terjalin layaknya pertemanan dekat atau ikatan emosional yang positif. Tidak ada tanda bahaya yang cepat terendus.

Namun, ketika situasi mulai bergeser ke arah tidak nyaman, korban pun dilanda kebingungan. Rasa malu, takut disalahkan, atau takut kehilangan kedekatan membuat mereka memilih diam. Pada fase ini, posisi korban sudah sangat rentan.

Dari sini bisa dipahami, grooming jarang hadir dalam wujud yang menyeramkan sejak awal. Justru pendekatan yang halus, ramah, serta terkesan peduli itulah yang menjadikannya berbahaya. Pelaku tahu betul bagaimana membangun kepercayaan sebelum melangkah lebih jauh.

Kesadaran adalah kunci utama untuk mencegahnya. Anak perlu dibekali pemahaman soal batasan, sementara orang dewasa perlu peka terhadap perubahan sikap dan pola interaksi yang tidak wajar. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang anak terlindungi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest Life Sulawesi Selatan

See More

Child Grooming Tidak Selalu Jahat di Awal, Ini 5 Alasannya!

17 Jan 2026, 08:37 WIBLife