Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Fakta Anoa Gunung, Kerbau Mungil Sulawesi yang Terancam Punah

anoa gunung
anoa gunung (RianHS, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Pulau Sulawesi, pulau yang juga disebut Celebes, menyimpan kekayaan hayati yang tak ada duanya di dunia. Di balik lebatnya hutan pegunungan pulau ini, hidup seekor satwa endemik yang pemalu namun penuh misteri, anoa gunung (Bubalus quarlesi). Sosoknya yang menyerupai kerbau namun dalam versi mini membuatnya menjadi ikon yang unik. Sayangnya, meski menjadi simbol, kehidupan anoa gunung justru makin terdesak dan jarang terlihat.

Keberadaannya di alam liar kini menjadi sebuah potret ironi. Satwa yang seharusnya menjadi raja di rimba Sulawesi ini justru berstatus terancam punah (Endangered) menurut daftar merah IUCN. Perburuan liar dan hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan menjadi ancaman nyata yang perlahan mendorong mereka ke jurang kepunahan. Menyelami fakta-fakta tentang anoa gunung menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian demi menjaga kelestarian "kerbau kerdil" ini.

1. Anoa gunung adalah spesies kerbau liar terkecil di dunia

anoa gunung
anoa gunung (RianHS, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Jika membayangkan kerbau, mungkin yang terlintas adalah hewan besar dan gagah. Namun, anoa gunung mematahkan citra tersebut. Dilansir Ultimate Ungulate, anoa gunung merupakan salah satu dari dua spesies anoa yang ada dan dinobatkan sebagai kerbau liar terkecil di dunia. Bobot tubuhnya hanya berkisar antara 150 hingga 300 kg, jauh lebih mungil dibandingkan kerabatnya, kerbau air (Bubalus bubalis), yang bobotnya bisa mencapai satu ton.

Secara fisik, anoa gunung memiliki ciri khas berupa bulu tebal berwarna cokelat gelap hingga kehitaman yang menyerupai wol. Bulu tebal ini menjadi adaptasi sempurna untuk bertahan hidup di habitatnya yang berada di hutan pegunungan dengan suhu yang lebih dingin. Ketinggian habitatnya berkisar antara 500 hingga lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, seperti yang tercatat dalam ekspedisi di kawasan Taman Nasional Gandang Dewata.

2. Mereka lebih nyaman hidup menyendiri di belantara hutan

anoa gunung
anoa gunung (BronxZooFan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Berbeda dengan kerabatnya, sapi atau kerbau, yang hidup dalam kawanan besar, anoa gunung adalah penyendiri sejati. Laman Animal Diversity Web menyebutkan bahwa anoa gunung lebih sering ditemukan hidup soliter atau berpasangan. Mereka baru akan berkumpul dalam kelompok kecil ketika seekor betina akan melahirkan. Sifat penyendiri ini membuat mereka sangat sulit untuk ditemukan di alam liar.

Anoa juga merupakan hewan yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia. Mereka lebih menyukai hutan lebat yang tidak terganggu dan memiliki sumber air permanen. Di Gunung Mambulilling, Sulawesi Barat, jejak-jejak anoa ditemukan di lokasi-lokasi terjal dan jauh dari aktivitas manusia, menunjukkan bahwa mereka sengaja menyingkir untuk menghindari predator utamanya, yaitu manusia.

3. Tanduk lurusnya jadi senjata ampuh untuk bertahan hidup

anoa gunung
anoa gunung (RianHS, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Jangan tertipu dengan ukurannya yang kecil. Anoa gunung memiliki senjata andalan yang membuatnya disegani, yaitu sepasang tanduk lurus dan runcing yang tumbuh sepanjang 15 hingga 20 cm. Berbeda dengan tanduk anoa dataran rendah yang melengkung, tanduk anoa gunung cenderung lurus mengarah ke belakang dan berbentuk kerucut.

Tanduk ini bukan sekadar hiasan. Anoa menggunakannya untuk mempertahankan diri dari ancaman dan juga dalam interaksi sosial. Dikutip dari Mongabay, anoa kerap mengasah tanduknya pada batang-batang pohon keras. Aktivitas ini bertujuan untuk menjaga ketajaman tanduknya, yang siap digunakan untuk menyerang jika merasa terancam. Bahkan, para penjaga di kebun binatang harus ekstra hati-hati karena anoa bisa sangat agresif.

4. Anoa sangat menyukai kubangan lumpur untuk mendinginkan diri

ilustrasi kubangan lumpur
ilustrasi kubangan lumpur (pexels.com/Syed Qaarif Andrabi)

Seperti kerbau pada umumnya, anoa gunung juga memiliki kebiasaan berkubang di lumpur atau air. Perilaku ini, menurut Ultimate Ungulate, berfungsi untuk mendinginkan suhu tubuh, terutama saat cuaca panas di siang hari. Selain itu, lumpur yang menempel di tubuhnya juga membantu melindungi kulit dari gigitan serangga dan parasit.

Di habitat aslinya, kubangan atau tempat peristirahatan anoa sering kali ditemukan di bawah pohon tumbang yang besar, di bawah bebatuan yang menjorok, atau di celah-celah akar pohon. Tempat-tempat ini memberikan perlindungan dan keteduhan bagi anoa untuk beristirahat. Penemuan jejak dan tempat berkubang anoa di kawasan Bonehau, Mamuju, menjadi bukti penting akan kebiasaan unik satwa ini di alam liar.

5. Populasi anoa gunung terus menyusut akibat ulah manusia

anoa gunung
anoa gunung (William Stephens, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Status konservasi anoa gunung saat ini berada di level Endangered atau terancam punah. Diperkirakan populasinya di alam liar tidak lebih dari 2.500 ekor individu dewasa. Ancaman terbesar bagi kelestarian anoa datang dari aktivitas manusia. Perburuan liar untuk diambil daging, kulit, dan tanduknya masih marak terjadi.

Selain perburuan, hilangnya habitat akibat deforestasi untuk pertanian dan pertambangan juga menjadi penyebab utama penurunan populasi. Anoa adalah satwa yang tidak mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan kehadiran manusia. Ketika hutan sebagai rumah mereka hilang, anoa pun kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung, sehingga populasinya semakin terdesak.

6. Berbagai upaya konservasi dilakukan untuk menyelamatkan anoa

anoa gunung
anoa gunung (JERRYE AND ROY KLOTZ MD, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Kabar baiknya, kesadaran untuk menyelamatkan anoa gunung terus meningkat. Berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga lembaga non-pemerintah, giat melakukan upaya konservasi. Salah satunya adalah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan yang bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan inventarisasi dan monitoring populasi anoa.

Salah satu temuan yang memberikan angin segar adalah terekamnya anoa gunung oleh kamera jebak di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Abdul Latief, Kabupaten Sinjai, pada awal 2023. Temuan ini sangat penting karena dapat mengubah peta sebaran anoa yang sebelumnya diketahui dan menjadi pemicu bagi pemerintah daerah untuk lebih serius dalam upaya perlindungan habitat anoa di luar kawasan konservasi utama.

7. Makanan favoritnya adalah pucuk-pucuk daun muda

anoa gunung
anoa gunung (RianHS, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Sebagai hewan herbivora, anoa gunung mengonsumsi berbagai jenis tumbuhan yang ada di hutan. Makanan utama mereka meliputi daun-daunan, rumput, pakis, hingga buah-buahan yang jatuh ke tanah. Mereka adalah penjelajah hutan yang tangguh, mampu menembus vegetasi lebat untuk mencari sumber pakan.

Dalam sebuah ekspedisi yang diliput Mongabay di Gunung Mambulilling, ditemukan bahwa salah satu pakan kesukaan anoa adalah daun adan (Phyllostachys aurea). Anoa akan menarik batang adan hingga patah untuk bisa mencapai pucuk-pucuk daun muda yang menjadi favoritnya. Peran anoa sebagai pemakan tumbuhan sangat penting bagi ekosistem hutan, karena mereka membantu dalam regenerasi dan penyebaran biji tumbuhan.

Anoa gunung adalah harta karun hayati yang tak ternilai bagi Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi. Melindungi mereka dari kepunahan adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan memahami keunikan dan tantangan yang mereka hadapi, semoga kita semua bisa lebih peduli dan turut andil dalam upaya konservasi, memastikan si mungil yang gahar ini tetap lestari di rimba Sulawesi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest Life Sulawesi Selatan

See More

5 Pelajaran Kecil Namun Berharga dari Anakmu, Jangan Abaikan!

12 Jan 2026, 11:36 WIBLife