Comscore Tracker

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95

Dimulai dari sehelai kain hingga akhirnya memakai polimer

Makassar, IDN Times - Seiring mewabahnya COVID-19 di seluruh penjuru dunia, meningkat pula permintaan akan masker. Alat penyaring udara ini jadi benda yang kini langka di pasaran karena dua hal: penggunaan semakin meningkat dan ditimbun oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Ada dua jenis masker yang paling dicari yakni masker bedah dan masker N95. Semuanya sukar diperoleh, termasuk jenis N95 yang memang sudah sejak lama tergolong barang langka. Dengan besarnya permintaan di masa darurat, berbagai perusahaan mulai memperbanyak produksi masker. Hal serupa juga dilakukan oleh beberapa pihak secara mandiri.

Namun, masker memiliki sejarah panjang hingga akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya melindungi kesehatan.

1. Dulu, orang-orang hanya melilit kain untuk menutup hidung dan mulut

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95Wikimedia Commons (Michel Serre)

Untuk memahami kebiasaan tenaga medis memakai alat pelindung ini, kita harus kembali jauh ke era Renaissance Eropa abad ke-16. Sebuah lukisan karya Michel Serre menggambarkan kondisi kota Marseille, Prancis, yang menjadi pusat wabah pes bubo pada tahun 1720. Dalam lukisan tersebut, para penggali kubur melilitkan kain di wajah mereka.

"Itu tidak dimaksudkan untuk mencegah penularan," tulis Christos Lynteris dosen di Jurusan Antropologi Sosial di Universitas St. Andrews Inggris yang seorang ahli dalam sejarah topeng medis, dalam jurnal berjudul Plague Masks: The Visual Emergence of Anti-Epidemic Personal Protection Equipment (2018).

"Alasan orang-orang ini mengenakan kain di sekitar mulut dan hidung mereka adalah waktu itu, mereka percaya bahwa penyakit seperti wabah adalah racun, atau gas yang berasal dari tanah. Itu bukan sebagai pelindung dari orang lain, mereka percaya wabah ada berada di udara yang kotor," lanjut Lynteris. Nah, kepercayaan udara kotor sebagai sumber wabah kolera, chlamydia dan Maut Hitam disebut sebagai teori miasma.

2. Penutup kepala dokter Eropa pada masa Black Death abad ke-17 jadi cikal bakal masker

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95Wikimedia Commons

Teori miasma ini pula yang akhirnya melahirkan desain topeng dokter wabah terkenal di Eropa pada tahun 1600-an, saat Maut Hitam menyapu setengah populasi di benua Eropa dan Asia. Topeng tersebut memiliki bagian yang menyerupai paruh burung, dan dilengkapi dua lubang hidung pada ujung "paruh".

Ruang bagian dalam paruh ini diisi oleh dupa atau aneka bunga-bunga. Mereka berpikir bahwa bau busuk adalah asal muasal penyakit. Menurut Lynteris, pemikiran ini terus dipegang hingga awal abad ke-19. Padahal, wabah pes bubo penyebab Maut Hitam berasal dari bakteri ganas Yersinia pestis yang menginfeksi kutu.

Sekitar 200 tahun kemudian, seorang dokter Prancis bernama Antoine Barthélemy Clot-Bey berpendapat bahwa topeng wabah tersebut bertanggung jawab atas penyebaran wabah karena mereka membuat orang-orang takut. Antoine menyebut rasa takut dalam tubuh membuat tubuh yang mengidap penyakit kian berisiko.

3. Paul Berger, seorang dokter bedah asal Prancis, jadi dokter bedah pertama yang menggunakan "masker"

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95Bibliothèque interuniversitaire de Santé

Seiring meningkatnya bidang mikrobiologi, teori miasma pun dianggap tak relevan. Menurut catatan, seorang dokter bedah di Paris bernama Paul Berger mulai mengenakan prototipe masker bedah pertama pada tahun 1897. Namun, masker ini tak lebih dari saputangan yang diikatkan pada wajah. Ini digunakan untuk mencegah agar droplet batuk atau bersin dokter tak jatuh selama operasi.

Dari Eropa kita bergeser ke bagian utara China (dulu bernama Manchuria). Pada musim gugur 1910, wabah pes bubo melanda wilayah tersebut. Efeknya sangat mematikan. Tak ada satupun yang selamat. Tingkat mortalitasnya mencapai 100%. Pes bubo langsung merenggut nyawa orang dalam waktu 24 sampai 48 jam setelah terinfeksi. Dalam dua tahun wabah, sebanyak 80 ribu orang meninggal.

Selanjutnya? Pemerintah Kekaisaran China dan Kerajaan Rusia saling berlomba menyimpulkan apa yang menjadi penyebab wabah demi klaim wilayah. "Baik Rusia dan China ingin membuktikan diri mereka cukup layak dan ilmiah, karena itu akan mengarah pada klaim kedaulatan," jelas Lynteris.

4. Wabah pes bubo di Manchuria (China utara) pada 1910 diiringi lahirnya purwarupa masker modern

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95Wikimedia Commons

Wabah pes bubo di Manchuria menarik perhatian internasional. Dokter dari seluruh dunia pun berdatangan untuk meneliti. Kekaisaran China sendiri mengirim seorang dokter muda bernama Wu Lien-teh, pria kelahiran Penang (Malaysia) dan lulusan University of Cambridge. Pendek cerita, setelah melakukan autopsi, Wu menyimpulkan bahwa udara jadi medium wabah menyebar dan bukan kutu.

Dokter Wu pun memodifikasi masker yang ia lihat semasa kuliah. Bahan utamanya adalah kain kasa dan kapas, serta ditambah lapis kain lagi demi menambah kemampuan menyaring udara. Penemuan Wu jadi sebuah terobosan, tetapi beberapa dokter masih ragu apakah masker ini manjur atau malah sebaliknya. Ada yang malah meremehkannya dengan sentimen rasial.

Lynteri menceritakan, Wu bertemu dengan dokter senior yang terkenal di wilayah itu, seorang dokter Prancis bernama Gérald Mesny. Wu menjelaskan kepada Gerald bahwa ia yakin wabah ini menyebabkan pneumonia dan menyebar lewat udara. "Namun orang Prancis itu mempermalukannya, dan dalam istilah yang sangat rasis. Dan mengatakan, 'Apa yang bisa kita harapkan dari orang Cina?'", tutur Lynteri.

Untuk menantang klaim Wu, Mesny mendatangi langsung pasien pes bubo di rumah sakit tanpa masker. Mesny meninggal dua hari kemudian akibat wabah.

Baca Juga: Bagi-bagi Masker hingga Bubarkan Warga, Kiat Polisi Cegah Corona

Baca Juga: 22 Ribu Kotak Masker Siap Kirim dari Makassar ke Malaysia Disita

5. Purwarupa masker modern buatan Wu Lien-teh digunakan oleh petugas medis hingga warga biasa

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95Wikimedia Commons (Dr. Richard Pearson Strong)

Geger mendengar kabar tersebut, dokter-dokter lain dengan cepat mengembangkan desain masker sendiri. Namun purwarupa masker modern buatan dokter Wu menang dalam uji empiris. Bahan-bahannya pun mudah ditemui sehingga siap dibuat. Pada Januari dan Februari 1911, produksi masker Wu meningkat puluhan kali lipat. Semua orang memakainya, mulai dari petugas medis, tentara hingga warga biasa.

Saat wabah Flu Spanyol tiba pada tahun 1918 melanda Amerika Serikat, masker Wu sangat populer di kalangan ilmuwan dan masyarakat. Perusahaan di seluruh dunia meningkatkan produksi masker untuk membantu mengurangi penyebaran flu.

Masker N95 sendiri adalah pengembangan dari desain Wu. Selama dua Perang Dunia, para ilmuwan mengembangkan topeng gas penyaring udara yang membungkus seluruh kepala. Lantaran sarat dengan filter fiberglass, masker tersebut mulai digunakan dalam industri pertambangan demi mencegah paru-paru menghitam.

"Semua alat bantu pernapasan adalah benda-benda raksasa yang terlihat seperti topeng gas," ungkap Nikki McCullough, pemimpin bagan kesehatan dan keselamatan kerja di 3M, pabrik yang memproduksi masker N95. Topeng gas bisa dicuci dan tahan lama.

6. Tentara pada masa Perang Dunia I memperkenalkan topeng gas, alat yang juga melindungi sistem pernapasan

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95Wikimedia Commons ("The Literary Digest History of the World War", volume V, p. 55)

Topeng gas terbukti manjur, namun orang akan merasa kepanasan saat mengenakannya. Pada dekade 1950-an, para ilmuwan memperingatkan pekerja tambang akan bahaya menghirup asbes. Namun usul mengenakan topeng gas ditolak lantaran tidak ideal dengan suhu tempat kerja mereka yang mencapai 85 derajat Celcius.

Pada dekade 1970-an, dua badan di Amerika Serikat yakni Biro Pertambangan dan Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan berkolaborasi menciptakan "alat bantu pernapasan sekali pakai." Jenis N95 buatan 3M rampung pada 25 Mei 1972. Alih-alih fiberglass, 3M menggunakan polimer yang meleleh untuk lapisan serat penyaring. Muatan elektrostatik pun membuat partikel akan melekat pada serat.

Masker N95 memang efektif menyaring partikel, namun penggunanya kian sulit bernapas. Lama kelamaan, lubang-lubang di lapisan serat akan tersumbat oleh partikel. Karenanya, para ahli menyimpulkan N95 tak bisa dipakai lebih dari delapan jam.

7. Masker N95 jadi salah satu bagian tak terpisahkan dari Alat Pelindung Diri (APD) tenaga medis di garis depan perang melawan wabah COVID-19

Sejarah Masker Selama Lima Abad: Dari Model Paruh Burung Sampai N95Ilustrasi masker N95 (IDN Times/Mela Hapsari)

Masker N95 pun diperbarui seiring waktu, serta dipakai oleh tenaga kesehatan saat menangani pasien penyakit tuberkulosis. Kendati demikian, masker tersebut jarang digunakan di rumah sakit hingga wabah COVID-19 merebak lantaran tim medis membutuhkan alat pelindung diri yang sangat banyak.

Wu, sang bapak masker modern, masuk dalam nominasi Nobel Prize bidang kesehatan pada tahun 1935. Ia meninggal di kampung halamannya pada 21 Januari 1960, di usia 80 tahun. Saat SARS mewabah pada medio 2002-2004, banyak orang Tiongkok yang mengenakan masker. Benda penyaring tersebut kian populer di masyarakat seiring memburuknya kualitas udara di kota-kota besar.

Jenis N95 masih jauh dari kata sempurna. Masker tersebut diakui tak cocok untuk anak-anak dan mereka yang memiliki janggut lantaran tak menutup alat pernapasan dengan sempurna. Belum lagi rasa panas lantaran tak ada katup pernapasan. Namun, 3M selaku pihak produsen selalu siap mengevaluasi rancangan, mulai dari filter hingga konturnya.

"Kami selalu meningkatkan teknologi. Kami punya ribuan ilmuwan di 3M yang selalu melakukannya," ungkap McCullogh, seperti dikutip dari laman Fast Company.

 

Sumber bacaan :

  • Mark Wilson (Fast Company), "The Untold Origin Story of the N95 Mask", https://medium.com/fast-company/the-untold-origin-story-of-the-n95-mask-9f03f1ce09fe
  • Christos Lynteris, "Plague Masks: The Visual Emergence of Anti-Epidemic Personal Protection Equipment", Medical Antropology Volume 37 (November 2018)
  • Carsten Flohr, "The Plague Fighter : Wu Lien-teh and the beginning of the Chinese public health system", Annals of Science Volume 53 (1996)
  • Jeff Yang (Quartz), "A quick history of why Asians wear surgical masks in public", https://qz.com/299003/a-quick-history-of-why-asians-wear-surgical-masks-in-public/

Baca Juga: Ribuan Masker Sitaan Dihibahkan untuk RS Rujukan Corona di Makassar

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya