Bek PSM Makassar di Ligina VI musim 1999/2000, Aji Santoso (kanan), sedang memperebutkan bola dengan pemain Persebaya Surabaya yakni Ahmad Ariadi. (Instagram.com/sulselfootballhistory)
Ronny Ririn: Mulai memperkuat PSM sejak 1993, kualitas Ronny Ririn di atas rata-rata. Syamsuddin Umar, pelatih di musim 1999/2000, memuji Ronny sangat lihai dalam man-to-man marking hingga memotong bola. Mengakhiri karier sepak bola pada 2003, pria kelahiran Pinrang, 11 Januari 1973, itu kini beralih profesi menjadi pedagang.
Ali Baba: Bagi Jacksen F. Tiago, Ali Baba adalah bek tangguh tak kenal kompromi. Sempat berseragam Putra Samarinda (1992-1994), ia kembali ke Makassar jelang Ligina edisi pertama (1994/95). Henk Wullems langsung kepincut etos kerja dan permainan pria kelahiran Sidrap, 17 November 1968. Sayang, Ali Baba hanya menyaksikan partai final Ligina 1999/2000 dari bangku cadangan. Sempat menjadi dosen ekonomi di sejumlah kampus pasca pensiun tahun 2003, Ali Baba meninggal dunia pada 9 Juli 2019.
Syamsuddin Batola: PSM adalah klub terakhir yang dibela pemain kelahiran Maros, 4 Juli 1967 tersebut. Menimba ilmu di Diklat Ragunan, Syamsuddin Batola sempat memperkuat Pelita Jaya dan Pupuk Kaltim (PKT) Bontang. Lama melanglang buana, ia pulang kampung jelang Ligina 1997/98. Siapa sangka, keputusan untuk mudik berbuah manis. Trofi juara ia raih, plus tampil sebagai starter di final. Sempat menjadi asisten pelatih PSM, ia didapuk sebagai pelatih Persim Maros sejak Agustus lalu.
Aji Santoso: Salah satu dari sejumlah bintang rekrutan jelang Ligina 1999/2000. Empat tahun berseragam Bajul Ijo, keputusan memperkuat klub rival sempat mengundang pro-kontra. Kehadiran bek kelahiran Malang, 6 April 1970, itu menambah pilihan pengisi sektor belakang. Sayang, Aji hanya semusim di PSM. Masuk Ligina 2001, ia mudik dan menerima pinangan Persema Malang. Kini, ia menjadi pelatih kepala klub yang membesarkan namanya: Persebaya.
Joseph Lewono: Pemain serbabisa berpaspor Kamerun ini direkrut dari Persebaya, juR dua Ligina 1998/99. Henk Wullems seolah paham jika hasil maksimal harus diraih dengan materi skuad yang mumpuni pula. Kehadiran Aji Santoso, rekan setimnya di Bajul Ijo, perlancar proses adaptasinya. Joseph turun di partai puncak sebagai pengganti Yuniarto Budi di menit ke-44. Ia turut andil dalam sukses runner-up Ligina 2001, semifinalis Ligina 2002 dan perempatfinal Asian Club Championship 2001.
Yeyen Tumena: Pasca lulus dari program Primavera, Yeyen Tumena langsung digaet PSM jelang musim 1995/96. Hebatnya, ia langsung didapuk sebagai kapten tim di usia 19 tahun, dan mengantar Juku Eja finis sebagai runner-up. Sayang, cedera menggerogoti perjalanan pemain kelahiran Padang 16 Mei 1976 ini sepanjang musim 1999/2000. Alhasil ia tak sanggup tampil maksimal. Kini ia menjadi manajer klub Bhayangkara FC.
Ortizan Solossa : Direkrut dari Persipura untuk musim 1997/98, kakak kandung Boaz Solossa ini menjelma jadi bek sayap lincah. Kemampuan olah bolanya di atas rata-rata. Menyisir sisi kiri-kanan lapangan jadi tugas utama pemain kelahiran Sorong, 28 Oktober 1977. Keputusan hengkang demi mencari jam terbang berbuah manis. Henk Wullems menyulap "Sajojo" sebagai pemain berbahaya. Trofi juara pun datang, saat usinya masih 23 tahun. Kini, Ortizan berstatus ASN untuk Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua.
Charles Lionga: Angkatan pertama legiun asing PSM Makassar ini ikut andil dalam sukses di musim itu. M Basri, Syamsuddin Umar hingga mendiang Henk Wullems mengakui kapasitas Lionga sebagai bek palang pintu jempolan. Masuk tahun keempat berseragam merah marun, kualitas libero asal Kamerun tersebut tetap terjaga. Sayangnya, Charles tak tampil di final akibat cedera. Usai pensiun, ia menetap di Kolaka, Sulawesi Tenggara, bersama keluarga kecilnya.