Legenda PSM Wiljan Pluim Bongkar Alasan Tolak Dinaturalisasi Jadi WNI

Wiljan Pluim mengungkap pernah ditekan oknum klub dan PSSI agar menempuh naturalisasi menjadi WNI demi status pemain lokal, tapi ia menolak karena merasa aturan tidak jelas.
Pluim sadar Indonesia tidak mengenal kewarganegaraan ganda dan khawatir kehilangan paspor Belanda, sehingga memilih mempertahankan kewarganegaraan aslinya meski memenuhi syarat naturalisasi.
Ia memahami alasan beberapa pemain muda keturunan memilih paspor Indonesia untuk keuntungan karier, tapi menegaskan dirinya tak ingin ambil risiko serupa setelah sukses bersama PSM Makassar.
Makassar, IDN Times - Skandal paspor (Paspoortgate) yang tengah mengguncang sepak bola Belanda memicu debat panas mengenai aspek legalitas dan status kewarganegaraan. Menanggapi hal ini, legenda hidup PSM Makassar, Wiljan Pluim, membagikan pengalamannya yang mengejutkan saat masih berkarier di Indonesia.
Dalam program Tekengeld di ESPN Nederland pada Senin (6/4/2026) lalu, Pluim yang kini berusia 37 tahun mengungkap bahwa dirinya pernah "dirayu" untuk berpindah kewarganegaraan menjadi WNI. Tapi, ia menolaknya karena mencium adanya ketidakjelasan aturan.
1. Sempat didorong oleh oknum PSSI untuk jalani proses naturalisasi sebagai WNI

Pluim menceritakan bahwa setelah lima tahun membela Juku Eja (2016-2023), ia memenuhi syarat untuk mendapatkan paspor Indonesia. Oknum dari klub dan federasi (PSSI) sempat mendorongnya untuk menempuh jalur naturalisasi agar ia bisa berstatus sebagai pemain lokal.
"Saya ditekan oleh pihak federasi dan klub untuk mendapatkan paspor Indonesia. Lalu Anda juga menjadi 'pemain lokal', dan itu menguntungkan karena klub hanya diperbolehkan memiliki pemain asing dalam jumlah tertentu," ungkapnya kepada ESPN.
2. Sadar bahwa Indonesia bukan negara yang menerapkan kewarganegaraan ganda

Berbeda dengan banyak pemain lain, gelandang jebolan PEC Zwolle ini bersikap skeptis. Pluim menyadari bahwa Indonesia tidak mengenal sistem kewarganegaraan ganda. Ia khawatir jika mengambil paspor Indonesia, status kewarganegaraan Belanda-nya akan hilang.
"Tapi saya sudah mendengarnya dari orang lain dan langsung bertanya-tanya: bagaimana dengan paspor Belanda saya?" ujarnya. "Anda hanya diperbolehkan memiliki satu paspor di Indonesia. Saya ingin kembali ke Belanda setelah karier saya (di Indonesia selesai), jadi saya putuskan untuk tidak melakukannya," imbuh Pluim.
3. Pluim mengaku paham alasan sejumlah pemain muda keturunan memilih status WNI

Berkaca dari pengalaman di Indonesia, Pluim menyebut bahwa praktik menyimpan paspor negara asal meski sudah mengganti kewarganegaraan kerap dilakukan agar bisa masuk tanpa mengurus visa. Alhasil, ia tak heran dengan Paspoortgate yang menimpa sejumlah pemain naturalisasi Indonesia yang saat ini merumput di Liga Belanda. Tapi, Pluim mengaku paham alasan sejumlah pemain muda Belanda memilih paspor Indonesia.
"Di Indonesia, Anda tiba-tiba bernilai jauh lebih tinggi daripada paspor. Tapi itu bukan masalah bagi saya. Saya telah bermain di sana selama beberapa tahun, tidak banyak lagi yang perlu dibuktikan, dan tidak akan mengambil risiko itu," ujarnya. Bersama Pasukan Ramang, Pluim sukses meraih dua titel yakni Piala Indonesia 2018/1019 dan Liga 1 2022/2023.


















