Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

In Memoriam Andi Darussalam Tabusalla, Tokoh Sepak Bola Nasional

In Memoriam Andi Darussalam Tabusalla, Tokoh Sepak Bola Nasional
Andi Darussalam Tabussala. Dok. PSSI
Share Article

Makassar, IDN Times - Kabar duka datang dari sepak bola Indonesia. Andi Darussalam Tabusalla, mantan manajer Timnas Indonesia, mengembuskan napas terakhir di usia 70 tahun pada Senin malam (16/8/2021). Ini disampaikan langsung oleh anggota keluarga besar beliau melalui media sosial.

"Telah berpulang ke Rahmatullah, suami/bapak/kakak/opu/puang/kakek kami Andi Darussalam Tabusalla di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar pada pukul 23.35 WITA," demikian keterangan resmi yang diunggah ke Facebook. Kesehatan mantan Ketua Badan Liga Indonesia itu diketahui memburuk akibat komplikasi.

Ucapan dukacita berdatangan dari pegiat bal-balan, di antaranya Direktur PSM Makassar Munafri Arifuddin serta pendiri Arema Malang Ovan Tobing. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) dua periode, Agus Arifin Nu'mang, juga melayat ke rumah duka pada Selasa pagi (17/8/2021).

1. Pengalaman melihat euforia warga Inggris akan sepak bola amat membekas di benak ADS

Andi Darussalam Tabusalla (ADS) tak asing bagi publik Makassar, meski ia lahir di Surabaya pada 25 Agustus 1950. Usai menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan, ADS melanjutkan jenjang kuliah ke Inggris. Minatnya kepada sepak bola tumbuh saat berdiam di Negeri Ratu Elizabeth.

Bercerita di kanal YouTube milik jurnalis Estu Ernesto, ia mengaku terkesima dengan rombongan suporter yang datang berduyun-duyun ke stadion setiap akhir pekan. Pengalaman melihat sendiri fanatisme di tanah kelahiran sepak bola modern rupanya sangat membekas.

Yang unik, begitu kembali ke Indonesia, ia justru lebih dulu terjun ke olahraga catur. Pada dekade 1970-an, ADS mengemban jabatan Wakil Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jakarta Raya. Ia melihat beberapa grandmaster lahir seperti Utut Adianto (kini anggota DPR-RI) serta mendiang Edhi Handoko.

2. Pada dekade 1980-an, turut terlibat dalam tim Makassar Utama yang didirikan Jusuf Kalla

Skuad Makassar Utama berfoto bersama Ketua Umum PSSI Kardono, Wagub Sulsel Basri Palaguna, Ketua Umum Makassar Utama Jusuf Kalla dan manajer MU Andi Darussalam Tabusalla pada pertengahan 1980-an. (Instagram.com/sulselfootballhistory - Arsip Pribadi Karman Kamaluddin)
Skuad Makassar Utama berfoto bersama Ketua Umum PSSI Kardono, Wagub Sulsel Basri Palaguna, Ketua Umum Makassar Utama Jusuf Kalla dan manajer MU Andi Darussalam Tabusalla pada pertengahan 1980-an. (Instagram.com/sulselfootballhistory - Arsip Pribadi Karman Kamaluddin)

Awal perjalanannya di dunia sepak bola baru dimulai pada tahun 1980 bersama Makassar Utama (MU). Pemilik dan salah satu pendiri MU saat itu, Jusuf Kalla, merekrut ADS sebagai pembantu umum jelang kualifikasi masuk Galatama musim 1980-1982. Seiring waktu, jabatannya naik secara perlahan.

Sempat ditunjuk sebagai Liaison Officer (penghubung) antara MU dan kantor Galatama di Jakarta, ia kemudian "naik pangkat" sebagai asisten bagi manajer Nus Pattinasarany. Saat ayah dari Ronny Pattinasarany itu pensiun, ADS diangkat sebagai manajer tim dengan warna kebesaran biru langit itu. Di sinilah ia menyaksikan MU, yang bermateri mayoritas eks-PSM, menang Piala Liga 1986.

Di tahun-tahun jelang Makassar Utama bubar, ADS mengganti Jusuf Kalla yang mundur sebagai "bos." Sigit Harjojudanto (pemilik Arseto Solo) dan Ismet Djilis Tahir (pejabat teras PSSI) turun tangan membantu ADS agar Makassar Utama tetap eksis, dengan alasan euforia Galatama bisa berkurang tanpa kehadiran mereka. Tapi, dengan kondisi finansial yang kian merosot, tim ini akhirnya kolaps jelang Galatama 1990-1992.

Di sela-sela kesibukan mengurus klub, beliau juga menjabat sebagai Sekretaris Galatama selama enam setengah tahun.

3. Beberapa kali mendampingi Timnas Indonesia di ajang internasional sebagai manajer

Pintu masuk kantor PSSI saat masih berada di kawasan Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Pintu masuk kantor PSSI saat masih berada di kawasan Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Saat masih bersama Makassar Utama, ADS direkrut oleh PSSI. Oleh ke induk sepak bola nasional, ia ditugasi menjadi manajer Timnas Indonesia untuk kejuaraan Piala Kemerdekaan 1988. Ricky Yakob dkk, yang saat itu dilatih "Si Tangan Besi" Anatoli Polosin, melaju hingga semi final.

Kisah ADS bersama Tim Garuda lalu berlanjut di Piala Asia 2000, saat Timnas akhirnya debut di panggung benua. Berlangsung di China, Bima Sakti cs harus puas dengan posisi juru kunci dengan sepasang kekalahan dan sekali imbang.

Masuk dekade 2000-an, ADS kembali didapuk sebagai manajer Timnas untuk Piala Asia 2007 dan AFF Cup 2010. Finis sebagai runner-up turnamen yang disebut terakhir, Timnas justru diterpa "kabar tak sedap" perihal final leg kedua di Stadion Bukit Jalil.

Tahun 2008, ADS menjabat sebagai Ketua Badan Liga Indonesia (BLI). Lalu ketika kisruh PSSI dan KPSI terjadi pada 2012, ia maju sebagai penengah. Setahun kemudian, suami Tenri Angka Yasin Limpo itu terpilih jadi Ketua KONI Sulsel periode 2013-2017.

4. Status "pinisepuh" ADS membuatnya banyak tahu masalah sepak bola nasional

Ilustrasi. ADS (baju putih) bersama Indra Sjafri. IDN Times/Istimewa
Ilustrasi. ADS (baju putih) bersama Indra Sjafri. IDN Times/Istimewa

Mencicipi asam garam sepak bola Indonesia sejak 1980-an, Andi Darussalam Tabussala layak disebut sebagai "pinisepuh." Perannya untuk PSSI dan Timnas amat besar, termasuk juga bagi olahraga Sulsel. Dengan status tersebut, ADS tahu banyak tentang isu yang kerap memancing rasa penasaran khalayak banyak: pengaturan skor dan judi.

Lantaran tahu banyak tentang skandal bal-balan, ADS pun dijuluki "Godfather Sepak Bola Indonesia", meminjam gelar populer yang muncul dari film drama-kriminal tahun 1972 garapan Francis Ford Coppola.

Ia bicara blak-blakan tentang hal tersebut di program Mata Najwa edisi 20 Desember 2018. Kepada Najwa Shihab, ADS menyebut praktik ini memang ada. Ia bahkan sering dimintai "tolong" meski ujung-ujungnya ditolak atas nama integritas.

"Klub-klub sering mendatangi saya meminta tolong. Sampai sekarang masih ada satu dua. Tapi saya bisa apa?" katanya.

Di hadapan penonton, ADS turut menjelaskan bahwa ada faktor ekonomi pula yang membuat banyak pelaku sepak bola tergoda untuk ikut ambil bagian. Selain itu, ia turut membongkar adanya "permainan" dalam kekalahan dramatis Timnas di Bukit Jalil pada AFF 2010.

"Beberapa tahun setelah itu saya ketemu dengan orang-orang di Malaysia. Mereka bilang, 'bang, waktu itu, kalau kita gak mainkan, kita gak mungkin menang lawan Indonesia.' Saya baru berpikir siapa orang yang bisa masuk waktu itu? Saya akan buka-bukaan tentang nama kepada institusi resmi demi sepak bola Indonesia," kata ADS disambut tepuk tangan penonton di studio.

Selamat jalan, pak Salam. Sumbangsihmu bagi sepak bola Indonesia akan selalu dikenang.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
Ach. Hidayat Alsair
Irwan Idris
EditorIrwan Idris

Latest Sport Sulawesi Selatan

See More

Musim 2025/2026 Selesai, PSM Malah Kembali Kena Sanksi FIFA

26 Mei 2026, 01:29 WIBSport