Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Zulhas Akui Masih Tingginya Impor Gula, Garam, hingga Produk Perikanan
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan materi dalam Seminar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (4/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Menko Pangan Zulkifli Hasan mengakui Indonesia masih bergantung pada impor gula sekitar 6 juta, garam 3 juta, dan produk perikanan 3 juta.
  • Ia menilai impor tinggi dipicu minimnya penguatan produksi domestik; petani dan nelayan dinilai mampu meningkatkan hasil jika didukung kebijakan yang berpihak.
  • Zulkifli menyebut Indonesia tidak mengimpor beras selama setahun terakhir dan pemerintah mendorong Koperasi Merah Putih serta Kampung Nelayan Merah Putih untuk memperkuat pangan nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengakui masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan. Menurutnya, kondisi tersebut harus dikurangi melalui penguatan produksi dalam negeri dan pemberdayaan petani serta nelayan.

Hal itu disampaikan Zulkifli saat menjadi pembicara dalam Seminar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (4/8/2026).

Zulkifli mengatakan pemerintah saat ini tidak hanya berupaya mencapai swasembada beras. Pemerintah juga berupaya mengurangi ketergantungan impor pada sejumlah komoditas lain yang masih didatangkan dari luar negeri.

"Di bidang lain juga, impor kita besar sekali. Kita impor gula 6 juta. Kita impor garam 3 juta. Banyak sekali. Impor perikanan 3 juta," kata Zulhas, sapaannya. 

1. Sebut impor tinggi dipicu minimnya keberpihakan pada petani

Ilustrasi petani menanam padi di Lombok Barat. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Menurut Zulhas, tingginya impor terjadi karena selama bertahun-tahun Indonesia lebih mengandalkan kemampuan membeli dari luar negeri dibanding memperkuat produksi dalam negeri. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri.

Dia menilai petani dan nelayan Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan pangan. Namun, mereka membutuhkan kebijakan yang berpihak agar mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.

"Alhamdulillah, petani Indonesia itu hebat-hebat. Kalau didukung oleh kebijakan-kebijakan yang tepat, perintah Presiden berpihak kepada petani Indonesia," katanya. 

2. Klaim Indonesia sudah setahun tidak impor beras

Ilustrasi beras (Dok. Perum Bulog)

Zulkifli mengatakan upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Dia menyebut selama setahun terakhir Indonesia tidak lagi mengimpor beras sebagai bukti bahwa swasembada dapat dicapai apabila petani didukung dengan kebijakan yang berpihak.

"Selama satu tahun, kita tidak impor lagi. Bisa. Itu contoh pangan karbohidrat," katanya.

3. Sebut impor menguntungkan negara lain

Ilustrasi impor - (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Zulhas, swasembada pangan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga menyangkut kehormatan dan kedaulatan bangsa. Dengan mengurangi impor, manfaat ekonomi akan dirasakan langsung oleh petani Indonesia, bukan petani di negara lain.

"Kalau kita impor, berarti yang untung, yang mendapat manfaat itu orang luar. Thailand, Vietnam. Petani dia makmur, petani kita tidak jadi," katanya. 

Karena itu, pemerintah mendorong berbagai kebijakan untuk memperkuat sektor pangan nasional. Salah satunya melalui pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.

Curated For You

Editorial Team

Related Article