Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Warga Bukit Baruga Demo, Tuntut Ganti Rugi Akibat Banjir
Warga perumahan Bukit Baruga Antang di Kecamatan Manggala, Makassar, menggelar aksi protes kepada pengelola perumahan karena rumah mereka terendam banjir. (IDN Times/Darsil Yahya)
  • Puluhan warga Bukit Baruga Antang, Makassar, menggelar aksi unjuk rasa menuntut ganti rugi atas kerugian akibat banjir di perumahan.
  • Warga merasa dirugikan karena pengelola tidak mengantisipasi banjir meskipun sebelumnya menjanjikan perumahan "Bebas Banjir."
  • Sekitar 700 rumah terdampak banjir, dengan banyak kendaraan dan perabot rumah tangga mengalami kerusakan. Para warga akan mengambil langkah hukum jika tidak ada solusi dari pengembang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Puluhan warga Bukit Baruga Antang, di Kecamatan Manggala, Makassar, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor pemasaran PT Baruga Asri Nusa pada Selasa (18/2/2025). Mereka menuntut ganti rugi atas kerugian yang dialami akibat banjir yang melanda kawasan perumahan tersebut.

Para warga yang tergabung dalam Aliansi Warga Bukit Baruga dari cluster Java 3, Bali Regency, dan Bali Thai merasa dirugikan oleh kelalaian pengelola dalam mengantisipasi banjir. Padahal, saat promosi awal, pihak pengembang menjanjikan perumahan tersebut sebagai "Bebas Banjir."

1. Banjir berulang, warga mengalami kerugian besar

Warga perumahan Bukit Baruga Antang di Kecamatan Manggala, Makassar, menggelar aksi protes kepada pengelola perumahan karena rumah mereka terendam banjir. (IDN Times/Darsil Yahya)

Salah satu warga, Nur Faisal, yang merupakan Ketua RT di Cluster Java 3, mengungkapkan bahwa sejak ia tinggal di sana pada 2017, banjir sudah terjadi sebanyak lima kali. "Sudah lima kali ini banjir, dan dua kali masuk ke dalam rumah. Terakhir ini yang paling parah karena airnya sampai setinggi lutut," ujarnya kepada awak media.

Menurutnya, sekitar 700 rumah di tiga cluster tersebut terdampak banjir. Banyak kendaraan dan perabot rumah tangga mengalami kerusakan.

"Banyak mobil warga yang tenggelam, ada yang merek Alphard, Toyota, dan lainnya. Tapi pihak pengelola tidak mau bertanggung jawab," tambahnya.

Hijriani, warga Cluster Bali Regency, mengaku sudah mengalami banjir sejak pertama kali menempati rumahnya pada Desember 2002. "Sejak saya pindah, rumah saya sudah kebanjiran. Sekarang satu mobil dan tiga motor saya terendam. Semua furnitur di lantai bawah sudah rusak. Rumah saya sekarang kosong, saya bahkan berencana pindah," ujarnya.

Ia juga menuturkan bahwa pintu rumahnya hancur akibat terjangan banjir. "Semua pintu di cluster yang terdampak rusak, tapi pintu saya paling parah. Jebol semua, dari pintu masuk hingga pintu kamar," katanya.

2. Janji "bebas banjir" yang tidak terpenuhi

Warga perumahan Bukit Baruga Antang di Kecamatan Manggala, Makassar, menggelar aksi protes kepada pengelola perumahan karena rumah mereka terendam banjir. (IDN Times/Darsil Yahya)

Hijriani menambahkan bahwa ia membeli rumahnya seharga Rp1,2 miliar pada 2022. Dia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp50 juta akibat banjir.

"Saat promosi, katanya hunian ini asri, nyaman, harmonis, dan bebas banjir. Tapi kenyataannya? Ini bukan lagi Bukit Baruga, tapi Lembah Baruga," sindirnya.

Ia juga menyebut bahwa warga yang terdampak hanya diminta untuk bersabar tanpa adanya solusi konkret dari pengelola. "Kami dijanjikan penanganan, tapi sampai sekarang tidak ada solusi. Kami hanya disuruh bersabar. Bahkan untuk derek mobil yang awalnya disebut gratis, ternyata ada biaya Rp300 ribu," ungkapnya.

3. Warga siap tempuh jalur hukum

Warga perumahan Bukit Baruga Antang di Kecamatan Manggala, Makassar, menggelar aksi protes kepada pengelola perumahan karena rumah mereka terendam banjir. (IDN Times/Darsil Yahya)

Para warga yang terdampak menyatakan bahwa jika tidak ada kejelasan dari pengembang hingga tanggal 21 bulan ini, mereka akan mengambil langkah hukum. "Kami sudah sepakat, jika tidak ada solusi, kami akan menempuh jalur hukum," tegasnya.

Manajemen Baruga melalui Chief Operating Officer KALLA Land, M. Natsir Mardan, menyampaikan rasa empati dan keprihatinan mendalam atas kejadian yang terjadi pada 12 Februari lalu. Menurutnya, banjir yang melanda kawasan tersebut berada di luar ekspektasi dan jangkauan karena elevasi air yang terjadi sudah melebihi batas maksimum yang diperkirakan.

“Dari perencanaan kita, sudah ada berbagai upaya yang dilakukan, termasuk pembangunan jalan serta perimeter untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Namun, pada tanggal 12 Februari, kondisi air ternyata melebihi tingkat yang normal,” ujar Natsir kepada awak media.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kejadian ini dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, adanya pasang surut di laut yang berkontribusi pada peningkatan debit air. Kedua, dibukanya beberapa pintu air, baik di Bili-bili maupun di Nipa-nipa, serta adanya aliran sungai dari Maros yang memperburuk kondisi.

"Kombinasi dari ketiga faktor ini menyebabkan volume air yang masuk ke kawasan Baruga melebihi batas normal," ujarnya

Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen dari pihak manajemen, langkah-langkah teknis telah dirancang untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Salah satu langkah utama yang akan dilakukan adalah pembangunan perimeter baru yang mengelilingi tiga kluster yang terdampak.

Selain itu, manajemen juga akan membangun tanggul di sepanjang kanal yang berada di antara kawasan Baruga dengan elevasi sekitar 50 hingga 90 cm di atas jalan yang ada. “Insya Allah, dengan adanya peningkatan elevasi ini, kami berharap dapat memberikan rasa aman bagi warga sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali,” tambahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article