ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Mardya Shakti)
Dari rilis Unhas, Qonita mengatakan telah lama tertarik dengan pengembangan obat-obatan. Dia menekuninya sejak semester satu di Unhas.
Qonita kemudian memulai menekuni bidang penelitian tentang teknologi penghantaran obat, khususnya teknologi memungkinkan obat bisa masuk ke dalam kulit.
Sejak itu, dirinya aktif mengikuti berbagai perlombaan yang berhubugan dengan penelitian di bidang farmasi.
Ketertarikannya tersebut kemudian dituangkan dalam skripsi yang membahas tentang gel. Belakangan ia tahu, ternyata di luar negeri sudah dikembangkan teknologi serupa yang lebih praktis, yaitu microneedle.
Qonita menjelaskan, bentuknya seperti patch yang dilengkapi dengan jarum-jarum mikro, yang dapat menghantarkan obat tanpa darah dan rasa sakit.
Penelitian ini kemudian berfokus pada pengembangan teknologi microneedle patch untuk obat-obatan tuberkulosis.
"Saat itu saya benar-benar mengerahkan segala kemampuan dan tenaga untuk mengejar tenggat waktu yang tersedia. Alhamdulillah, saya dapat selesai dalam waktu dua tahun tiga bulan," Qonita menerangkan.