Tim peneliti dari Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama James Cook University dan Universitas Borneo Tarakan menemukan kembali populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus) di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. (Dok. Unhas)
Sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran historisnya, mulai dari Pakistan hingga Myanmar. Karena itu, temuan di Sungai Sesayap dinilai menjadi salah satu penemuan paling penting bagi keberlangsungan spesies tersebut.
Temuan tersebut turut dibahas dalam Workshop on Conservation Planning for the Ganges Shark (Glyphis gangeticus) yang berlangsung di Universitas Borneo Tarakan pada Selasa (13/5/2026). Forum itu mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan pegiat konservasi untuk membahas langkah perlindungan spesies berbasis sains dan kondisi sosial masyarakat pesisir.
Mewakili Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe mengatakan keterlibatan Unhas dalam penelitian tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang universitas dalam mendukung konservasi berbasis kolaborasi internasional dan penguatan riset kelautan berkelanjutan.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat. Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” jelas Prof Rohani.
Peneliti James Cook University, Dr. Michael Grant, mengungkapkan Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada 2024. Pengakuan internasional tersebut menegaskan pentingnya kawasan Sungai Sesayap sebagai daerah asuhan atau nursery ground bagi hiu sungai langka.