Rupiah Melemah, Omzet Warung Makan di Makassar Anjlok

- Pelemahan rupiah membuat harga bahan baku seperti ikan dan sayuran di Makassar naik tajam, memaksa pemilik warung menaikkan harga jual makanan untuk menutupi biaya produksi.
- Omzet warung makan turun signifikan dari sekitar Rp5 juta menjadi Rp2–3 juta per hari akibat kenaikan harga bahan baku dan penyesuaian harga menu.
- Kenaikan harga menu menyebabkan pelanggan beralih ke pilihan lebih murah seperti gorengan dan sayur, sementara pemilik warung berharap pemerintah menstabilkan harga kebutuhan pokok.
Makassar, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil, termasuk pengusaha warung makan. Kenaikan harga bahan baku membuat sejumlah pemilik usaha terpaksa menaikkan harga jual makanan demi menjaga keberlangsungan usaha.
Agus Rianto (30), pengelola sebuah warung makan di Makassar, mengatakan harga sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan paling signifikan terjadi pada bahan baku ikan yang menjadi salah satu menu utama di warungnya.
"Kalau biasanya satu keranjang ikan harganya sekitar Rp300 ribuan, sekarang bisa mencapai Rp600 ribu sampai Rp700 ribu. Kenaikannya hampir 100 persen," kata Agus saat ditemui IDN Times di Warungnya di Jl Tidung, Makassar, Kamis (4/6/2026) malam.
1.

Selain ikan, harga sayur-sayuran juga mengalami kenaikan meski tidak sebesar ikan. Menurut Agus, kenaikan harga sayuran berkisar 10 persen dibandingkan kondisi normal.
Dalam sekali berbelanja kebutuhan warung, Agus biasanya mengeluarkan biaya sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Namun dengan naiknya harga bahan baku, biaya operasional usahanya ikut membengkak.
2. Omzet penjualan anjlok

Dampak kenaikan harga tersebut juga dirasakan pada pendapatan usaha. Agus mengaku omzet warung makannya mengalami penurunan dalam bulan terakhir.
"Kalau dulu sehari bisa dapat sekitar Rp5 juta, sekarang paling sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta," ujarnya.
Meski harga bahan baku melonjak, Agus berusaha mempertahankan porsi makanan agar pelanggan tetap puas. Namun, untuk menutupi kenaikan biaya produksi, ia terpaksa menyesuaikan harga sejumlah menu.
Harga satu potong ayam yang sebelumnya dijual Rp8.000 kini naik menjadi Rp10.000. Sementara menu ikan yang sebelumnya dijual Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi, kini dijual sekitar Rp12.000, tergantung ukuran dan jenis ikan.
3. Pelanggan cari menu yang murah

Menurut Agus, kenaikan harga menu turut memengaruhi jumlah pelanggan. Ia mengaku kondisi warung saat ini lebih sepi dibandingkan biasanya karena banyak pembeli mulai mencari menu yang lebih murah.
"Kalau sekarang pelanggan lebih banyak cari yang murah, seperti gorengan dan sayur. Yang beli lauk-lauk agak berkurang," katanya.
Agus berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan pokok dan kebutuhan usaha, termasuk minyak goreng, kemasan plastik, serta bahan makanan lainnya yang terus mengalami kenaikan.
"Kalau bisa harga-harga diturunkan karena sangat berdampak pada usaha kecil seperti kami," pungkasnya.
Nilai tukar rupiah jebol level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) pagi setelah melemah ke posisi Rp17.966 per dolar AS pada hari sebelumnya.


















