Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Riset Ungkap Alat Batu di Sulsel Sudah Ada Sejak 40 Ribu Tahun Lalu
Kondisi dan aktivitas penggalian di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, oleh tim peneliti pada tahun 2023. (dok. Istimewa)
  • Penelitian di Leang Panninge, Maros, mengungkap bahwa teknologi alat batu di Sulawesi Selatan sudah ada sejak 40.000 tahun lalu dan berevolusi hingga masa budaya Toalean.
  • Analisis menunjukkan budaya Toalean berkembang bertahap dari tradisi lokal, dengan inovasi alat batu seperti Maros Point dan backed microlith yang menandai puncak kreativitas prasejarah.
  • Temuan ini melengkapi sejarah manusia prasejarah Wallacea, menghubungkan teknologi alat batu dengan seni cadas tertua dunia serta memperkuat posisi Sulsel sebagai pusat studi evolusi manusia modern.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Sebuah penelitian kolaboratif yang dilakukan di bawah Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Arkeologi Sulawesi berhasil mengungkap sejarah panjang perkembangan teknologi peralatan batu di Sulawesi Selatan. Penelitian yang berbasis di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, ini membuktikan bahwa kebudayaan prasejarah di Sulawesi memiliki akar yang sangat mendalam.

Hasil studi ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal arkeologi internasional, Archaeological and Anthropological Science, dengan judul "Evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the 'Toalean' technocomplex". Penemuan ini sekaligus memecahkan persepsi lama dengan menunjukkan bahwa kebudayaan kuno di Sulsel tidak muncul secara instan.

1. Kebudayaan dan teknologi prasejarah Toalean ternyata berkembang dari tradisi lokal

Tim Penelitian Leang Panninge, yang melakukan penggalian di dalam kotak ekskavasi dengan temuan artefak batu yang melimpah pada tahun 2023. (dok. Istimewa)

Selama beberapa dekade, para arkeolog terus memperdebatkan asal-usul budaya Toalean dan hubungannya dengan tradisi yang lebih tua di Sulawesi Selatan. Melalui analisis mendalam terhadap alat batu dari lapisan berumur 40.000 hingga 3.500 tahun lalu di Leang Panninge, misteri tersebut akhirnya mulai terkuak. Budaya Toalean terbukti tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berevolusi secara bertahap dari tradisi teknologi lokal yang sudah mengakar sejak masa Pleistosen Akhir.

"Yang menarik dari penelitian ini adalah adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang. Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong," ujar Suryatman, penulis utama penelitian dari Universitas Hasanuddin, dalam keterangan tertulis yang diterima IDN Times pada Rabu (15/7/2026).

"Berbagai inovasi yang menjadi ciri khas Toalean berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan masyarakat Sulawesi Selatan selama puluhan ribu tahun," sambungnya.

2. Puncak inovasi alat batu era prasejarah di Sulsel mulai dari serpih sederhana hingga "Maros Point"

Alat batu yang dikenal dengan nama “backed microlith”, salah satu ciri khas Toalean, yang ditemukan oleh Tim Penelitian Leang Panninge di Maros. (dok. Istimewa)

Perkembangan perkakas batu prasejarah di wilayah Maros nyatanya melewati proses adaptasi yang sangat panjang. Pada masa awal (Pleistosen Akhir), masyarakat purba memproduksi serpih batu sederhana yang praktis untuk langsung digunakan. Menariknya, mereka juga sudah mengenal teknik bipolar yang diduga kuat berkaitan dengan kebutuhan mengolah sumber oker sebagai bahan baku pewarna lukisan gua.

Seiring berjalannya waktu, lompatan inovasi mulai terjadi. Sekitar 8.000 tahun lalu, muncul "Maros Point", sebuah artefak batu ikonik dengan ciri khas lancipan bergerigi yang menjadi penanda utama kebudayaan Toalean. Strategi produksi ini kian terorganisasi secara masif hingga mencapai puncaknya pada fase Toalean Akhir sekitar 4.000 hingga 3.500 tahun lalu, ditandai dengan kemunculan alat batu berukuran kecil yang seragam bernama backed microlith.

3. Jadi puzzle pelengkap sejarah manusia prasejarah setelah gambar seni cadas tertua

Kondisi dan aktivitas penggalian di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, oleh tim peneliti pada tahun 2023. (dok. Istimewa)

Penelitian di Leang Panninge ini menjadi potongan puzzle krusial yang melengkapi sejarah manusia prasejarah di kawasan Wallacea. Mengingat kawasan karst Maros-Pangkep juga merupakan rumah bagi tradisi seni cadas tertua di dunia, temuan teknologi alat batu ini menjadi bukti konkret tingginya tingkat kreativitas serta kecerdasan adaptasi populasi manusia purba di Sulawesi.

"Jejak teknologi alat batu, khususnya strategi bipolar yang digunakan untuk memproses oker pada lapisan Pleistosen Akhir, memberikan bukti arkeologis yang sangat krusial. Temuan ini menjadi benang merah yang secara langsung menghubungkan teknologi perkakas sehari-hari dengan mahakarya gambar cadas di kawasan Maros-Pangkep," ungkap Adhi Agus Oktaviana, perwakilan peneliti dari BRIN.

Riset kolaboratif ini tidak hanya melibatkan Universitas Hasanuddin dan BRIN, tetapi juga didukung oleh Griffith University Australia, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulsel, Bumi Toala Indonesia, NALAR, dan IAAI Sulampapua. Melalui perpaduan bukti teknologi perkakas, seni lukis, hingga temuan kerangka manusia purba Besse' sebelumnya, Sulawesi Selatan kini kian kukuh sebagai salah satu wilayah paling penting di dunia untuk mempelajari sejarah awal manusia modern.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article