Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Racikan Bumbu Coto Makassar dan Konro Laris Manis di Momen Idul Adha

Racikan Bumbu Coto Makassar dan Konro Laris Manis di Momen Idul Adha
Fatmawati penjual bumbu racik di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Kamis (28/5/2026).
Intinya Sih
  • Menjelang dan setelah Idul Adha, bumbu racik coto, konro, dan kari buatan Fatmawati di Pasar Pabaeng-baeng Makassar laris diburu warga untuk mengolah daging kurban.
  • Proses pembuatan bumbu memakan waktu hingga empat hari dengan modal sekitar Rp7 juta, melibatkan pengupasan, pencampuran, dan penumisan bahan rempah secara intensif.
  • Penjualan tetap ramai hingga sepekan setelah Idul Adha karena banyak warga masih mengolah daging kurban; Fatmawati dibantu empat karyawan untuk memenuhi permintaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Makassar, IDN Times - Aroma rempah tercium wangi dari lapak Fatmawati di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Kamis (28/5/2026). Deretan toples bumbu siap masak untuk coto, konro, toppa lada, kari, rendang, hingga opor berjajar dalam di meja dagangannya.

Masih dalam suasana Idul Adha, pembeli terus berdatangan ke lapak Fatmawati. Mereka mencari bumbu racik untuk mengolah daging kurban menjadi hidangan khas Makassar seperti coto dan konro.

Fatmawati menyebut bumbu coto, konro, dan kari menjadi yang paling banyak dicari warga sejak sebelum Idul Adha. Pembeli datang silih berganti membeli bumbu sesuai kebutuhan masing-masing.

Masyarakat di Makassar umumnya mengolah daging sapi kurban menjadi berbagai hidangan khas. Coto dan konro menjadi menu yang paling banyak dipilih saat momen Idul Adha meski tidak menutup kemungkinan ada juga jenis hidangan lainnya.

"Sekarang yang favorit orang beli yaitu coto, konro sama kari," kata Fatmawati saat ditemui IDN Times.

1. Warga membeli bumbu sesuai jumlah daging kurban

Penjual menimbang bumbu racik matang dalam ember putih di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, dengan timbangan biru di atas meja.
Bumbu racik matang dijual di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Kamis (28/5/2026).

Bumbu dijual mulai Rp10 ribu per ons. Namun sebagian pembeli juga membeli dalam jumlah besar hingga per kilogram.

Fatmawati menjual bumbu racik seharga Rp120 ribu per kilogram. Namun, dia kerap memberi harga Rp100 ribu apabila ada pelanggan yang menawar.

Menurut Fatmawati, sebagian besar pembeli membeli bumbu menyesuaikan jumlah daging yang dimiliki. Banyak warga baru kembali mencari bumbu usai menerima pembagian daging kurban dari keluarga atau tetangga.

"Biasanya kan orang beli untuk dipakai saat lebaran. Tapi setelah lebaran ada lagi yang dapat daging, dikasih dari orang, ada yang kurban bagi-bagi daging, nah itu biasa beli bumbu lagi," kata dia.

2. Proses racik bumbu memakan waktu hingga empat hari

Berbagai jenis bumbu racik matang dalam wadah plastik besar dengan sendok logam dijual di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar.
Bumbu racik matang dijual di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Kamis (28/5/2026).

Untuk memenuhi permintaan selama Idul Adha, Fatmawati mengaku mulai menjual bumbu racik sejak Senin atau dua hari sebelum lebaran.

Namun, proses pembuatannya sudah dimulai beberapa hari sebelumnya. Proses ini memakan waktu hingga empat hari, mulai dari pengupasan bahan, pencampuran, hingga penumisan.

"Jadi kita itu menumis sampai malam. Biasanya sampai jam 10 malam. Karena harus matang betul itu bumbu baru kita," ucapnya.

Dalam sekali produksi, Fatmawati menghabiskan modal sekitar Rp7 juta. Bahan baku seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai tetap dibeli langsung dari Pasar Pabaeng-baeng dalam jumlah puluhan kilogram.

3. Penjualan bumbu masih ramai hingga sepekan setelah Idul Adha

Dua wadah plastik berisi bumbu racik matang dengan label rendang dan toppa lada dijual di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar.
Bumbu racik matang dijual di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Kamis (28/5/2026).

Fatmawati juga mempekerjakan empat orang karyawan untuk membantu proses produksi. Beberapa bahan seperti sereh dan lengkuas membutuhkan tenaga tambahan untuk dipotong dalam jumlah besar.

Menurut Fatmawati, penjualan bumbu racik bersifat musiman dan meningkat saat Idul Adha karena banyak warga mengolah daging kurban selama beberapa hari. Ketika stok bumbu habis, dia kembali meracik dan menumis bumbu untuk dijual satu per satu kepada pembeli.

"Setelah salat Idul Adha, kita kembali menjual. Sekitar 1 minggu setelah Idul Adha kita masih jual bumbunya," kata Fatmawati.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris

Latest News Sulawesi Selatan

See More