Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pro-Kontra AI, UNEJ Kalahkan ITS di Penyisihan Liga Debat Mahasiswa 2026
Babak penyisihan Liga Debat Mahasiswa 2026 antara UNEJ dan ITS, Selasa (28/7/2026). (Dok. IDN Times)
  • UNEJ mengalahkan ITS 255-245 pada penyisihan Liga Debat Mahasiswa 2026 bertema ekonomi kreatif dan masa depan Gen Z, sekaligus lolos ke babak delapan besar.
  • UNEJ menilai AI sebagai alat adaptasi yang meningkatkan efisiensi tanpa menggantikan kreativitas manusia, sedangkan ITS menyoroti ancaman perang harga, pendapatan kreator, dan pelaku kecil.
  • Panelis menilai argumentasi UNEJ lebih utuh, kritis, dan efektif memanfaatkan waktu; UNEJ selanjutnya menghadapi Universitas Slamet Riyadi yang sebelumnya menundukkan IP University.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times Universitas Jember (UNEJ) mengungguli Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada pertandingan ke-4 babak penyisihan Liga Debat Mahasiswa 2026, Selasa (28/7/2026). Dengan kemenenangan itu, mereka berhak melaju ke babak delapan besar.

Liga Debat Mahasiswa 2026 merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 IDN Times. Kompetisi yang memasuki penyelenggaraan ketiga ini diikuti 16 tim dari berbagai universitas di Indonesia dengan mengusung tema besar "Ekonomi Kreatif dan Masa Depan Gen Z".

UNEJ sebagai tim pro diperkuat Algi Febriano, Baiq Silvia Ariani Putri, dan Mustofa. Sementara ITS selaku tim kontra beranggotakan Marhanedra Dwi Harjana, Pullung Adnin Khuriyatul Mahmudah, dan Muhammad Rizky Prawindo.

Dipandu moderator Prayugo Utomo, kedua tim beradu argumentasi mengenai mosi, "Mampukah Industri Kreatif Bertahan di Tengah Gempuran AI?"

1. UNEJ nilai AI memperkuat industri kreatif, ITS sebut ancam pelaku kecil

Tim UNEJ pada babak penyisihan Liga Debat Mahasiswa 2026. (Dok. IDN Times)

Tim UNEJ membuka argumentasi sebagai pendukung mosi dengan menegaskan bahwa AI atau artificial intelligence bukan ancaman yang akan memusnahkan industri kreatif, melainkan teknologi yang mendorong proses adaptasi. Mereka menilai nilai utama industri kreatif tetap bertumpu pada kreativitas, pengalaman hidup, dan orisinalitas manusia yang tidak dapat digantikan mesin.

"Yang diperdebatkan bukan apakah disrupsi AI terjadi, melainkan ke mana disrupsi tersebut akan bermuara. Kami membuktikan bahwa hasil akhirnya adalah adaptasi, bukan kepunahan," kata Algi Febriano, selaku ketua tim.

UNEJ juga menilai AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi kerja kreator. Menurut mereka, regulasi hak cipta, kebutuhan pasar terhadap karya autentik, hingga kepentingan pemerintah menjaga sektor ekonomi kreatif menjadi faktor yang membuat industri tersebut tetap bertahan.

Di sisi lain, ITS berpandangan AI justru mulai menggerus fondasi industri kreatif, terutama bagi pelaku usaha kecil, pekerja lepas, dan kreator pemula. Menurut mereka, kecepatan produksi AI menciptakan persaingan yang tidak seimbang sehingga menekan pendapatan kreator manusia.

"Kami menolak asumsi tersebut karena kami rasa industri kreatif di Indonesia sudah tergempur oleh AI terutama pada bagian proses industrinya," ujar ketua tim ITS, Marhanedra Dwi Harjana.

ITS menambahkan keberlangsungan industri kreatif tidak hanya diukur dari kemampuan beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan nilai ekonomi, lapangan kerja, serta identitas kreatif manusia.

2. Saling sanggah soal dampak AI terhadap masa depan industri kreatif

Tim ITS pada babak penyisihan Liga Debat Mahasiswa 2026. (Dok. IDN Times)

Sesi kedua debat diisi saling sanggah dan tanya-jawab antara kubu pro dan kubu kontra. Pada sesi ini, UNEJ menilai kekhawatiran terhadap AI yang akan memusnahkan industri kreatif terlalu berlebihan. Mereka mencontohkan sejarah perkembangan teknologi, seperti kemunculan fotografi hingga teknologi CGI, yang sempat dianggap mengancam seni namun pada akhirnya justru hidup berdampingan.

UNEJ juga menegaskan AI hanya mengambil alih pekerjaan teknis sehingga manusia tetap menjadi pusat penciptaan ide, emosi, dan makna dalam sebuah karya. Mereka meyakini konsumen akan tetap menghargai karya orisinal buatan manusia.

Sebaliknya, tim ITS menilai persoalan utama bukan sekadar hadirnya AI, melainkan perubahan struktur pasar yang ditimbulkannya. Mereka berpendapat AI memungkinkan perusahaan besar memproduksi konten dalam jumlah besar dengan biaya murah sehingga menciptakan perang harga yang sulit diikuti pelaku industri kreatif skala kecil.

Tim ITS juga mempertanyakan bagaimana kreator manusia dapat bertahan jika pasar dibanjiri konten AI yang murah dan cepat diproduksi. Mereka menilai kondisi tersebut berpotensi mengurangi regenerasi seniman karena profesi di sektor kreatif semakin kurang menjanjikan secara ekonomi.

3. Panelis dalami makna orisinalitas AI dalam ekonomi kreatif

Babak penyisihan Liga Debat Mahasiswa 2026 antara UNEJ dan ITS, Selasa (28/7/2026). (Dok. IDN Times)

Babak penyisihan kali ini menghadirkan tiga panelis, yakni Ahmad Khairudin selaku Co-Founder Kolektif Hysteria sekaligus Ketua Komite Ekraf Jawa Tengah; Prof. Rosdiana Sijabat, Guru Besar Administrasi Bisnis Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Unika Atma Jaya Jakarta; serta Agung Putu Iskandar, Founder Agna Komunika Surabaya.

Pada sesi tanya jawab, panelis menggali lebih jauh persoalan orisinalitas karya dan posisi AI dalam ekosistem ekonomi kreatif. Ahmad Khairudin yang akrab disapa Adin mempertanyakan apakah percepatan produksi melalui AI benar-benar menghadirkan kreativitas baru atau hanya mempercepat proses teknis semata.

Prof. Rosdiana meminta kedua tim menjelaskan apakah AI dapat dikategorikan sebagai bagian dari ekonomi kreatif atau hanya teknologi pendukung. Adapun Agung Putu Iskandar menyoroti batas antara pemanfaatan AI sebagai alat bantu dengan penggunaan AI yang justru mengancam keberlangsungan kreator manusia.

Menanggapi pertanyaan tersebut, tim ITS menegaskan karya manusia memiliki nilai budaya, pengalaman hidup, dan cerita yang tidak mungkin direplikasi AI. Mereka juga menyoroti ketimpangan akses teknologi yang dinilai akan semakin menguntungkan perusahaan besar dibandingkan pelaku UMKM kreatif.

Sementara UNEJ kembali menekankan AI merupakan alat augmentasi yang memperluas kemampuan kreator. Mereka menyebut regulasi hak cipta masih menempatkan manusia sebagai pemegang otoritas utama atas sebuah karya sehingga AI tidak dapat menggantikan posisi kreator secara penuh.

4. UNEJ dinilai lebih solid membangun argumentasi

Tim Universitas Jember pada Liga Debat Mahasiswa 2026. (Dok. Istimewa)

Setelah seluruh rangkaian debat selesai, dewan panelis menetapkan Universitas Jember sebagai pemenang dengan nilai 255. Sementara Institut Teknologi Sepuluh Nopember memperoleh nilai 245.

Adin, mewakili panelis, menyampaikan apresiasi kepada kedua tim atas kualitas argumentasi yang ditampilkan sepanjang adu debat. Menurutnya, UNEJ mampu membangun alur argumentasi yang lebih utuh dan saling menguatkan antarpembicara, serta bisa memaksimalkan waktu yang tersedia.

"Dari Universitas Jember lebih kritis dan lebih timing up. Saya pikir ini hasil yang terbaik, semoga memberikan manfaat," ujar Adin saat mengumumkan hasil penilaian.

Kompetisi masih akan berlanjut dengan pertandingan penyisihan berikutnya untuk melengkapi kuota babak delapan besar. Sebagai pemenang, UNEJ akan menghadapi Universitas Slamet Riyadi, yang pada pertandingan ke-3 babak penyisihan menang atas IP University.

Curated For You

Editorial Team

Related Article